Prof Jackie Ying, Profesor Muslimah Penemu Rapid Test 5 Menit

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Senin, 04 Mei 2020 | 08:05 WIB
Prof Jackie Ying, Profesor Muslimah Penemu Rapid Test 5 Menit
Prof Jackie Ying, Profesor Muslimah Penemu Rapid Test 5 Menit. (The Straits Times)

Suara.com - Seorang profesor muslimah di Singapura, Jackie Ying, mencuri perhatian dunia setelah ia bersama timnya berhasil menciptakan alat tes cepat atau rapid test untuk Covid-19 hanya dalam waktu lima menit. Penemuan itu disebut-sebut sebagai yang tercepat di dunia.

Ying merupakan pimpinan di Laboratoriun NanoBio di Agensi untuk Sains, Teknologi dan Penelitian (A*Star) Singapura,

Metode rapid test (Shutterstock)
Ilustrasi rapid test (Shutterstock)

Ying dan timnya bekerja selama enam minggu tanpa henti untuk membuat alat tersebut. Penelitian itu dilakukan setelah Direktur Eksekutif A*Star, Frederick Chew, menantang mereka untuk membuat kit rapid test Covid-19.

Karir Cemerlang di Amerika, Tapi Memilih Kembali ke Singapura

Nama Ying sebenarnya tak asing di dunia akademis. Perempuan kelahiran Taiwan itu bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu profesor termuda di kampusnya di Amerika Serikat pada usia 35 tahun, demikian dituliskan situs Singapura Women Hall of Fame.

Setelah itu, Jackie Ying melanjutkan karirnya dengan mengajar selama sepuluh tahun di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Namun pada tahun 2003, dia berhenti mengajar dari kampus tersebut.

Lulusan Raffles Girls 'School (RGS) itu memutuskan kembali ke Singapura untuk membantu Institut Bioteknologi dan Nanoteknologi (IBN), salah satu lembaga penelitian yang didirikan oleh pemerintah, untuk memenuhi ambisi Singapura dalam ilmu biomedis sebagai pilar ekonomi baru.

Sejak itu, Ying yang meraih gelar doktor di bidang teknik kimia dari Princeton, ditetapkan sebagai direktur eksekutif IBN. Ia bertanggung jawab atas lebih dari 160 ilmuwan dan siswa ketika melakukan penelitian nanoteknologi dalam sains dan lingkungan.

Selama masa jabatannya di IBN, perempuan kelahiran 1966 itu telah mengeluarkan lebih dari 505 hak paten dan aplikasi paten.

Dia sendiri memiliki lebih dari 140 paten yang diberikan dan sekitar 320 makalah yang diterbitkan, juga telah melakukan 370 kuliah umum di konferensi internasional.

Menjalankan masa kecil di Taiwan, Ying datang ke Singapura pertama kali pada 1973 ketika ayahnya diangkat menjadi dosen senior dalam bidang sastra Cina di Universitas Nanyang. Keluarga itu pindah ke New York ketika dia berusia 15 tahun.

Saat itu, sebenarnya Ying enggan pindah ke AS karena merasa telah memiliki hubungan yang kuat dengan Singapura.

Berikutnya, Kenal Islam Sejak Masih Sekolah...

Kenal Islam Sejak Masih Sekolah

Islam dikenal Ying melalui teman baiknya sejak ia masih bersekolah di RGS. Namum, baru pada usia 30 tahun, Ying mulai membaca soal agama Islam. Menurutnya, Islam merupakan agama yang sederhana dan masuk akal.

Mengutip dari Moeslim Obsesstion, Ying mengaku tak mendapat reaksi negatif ketika memutuskan menjadi mualaf. Rekan kerjanya juga tidak menghiraukan perubahan itu.

Ying kemudian dikenal sebagai sosok yang meyakini ada sesuatu yang Maha Besar di balik sistem kehidupan.

Ying aktif dalam komunitas agama yang dipilihnya. Dia adalah salah satu mentor di bawah Project Protégé Mendaki, membimbing dan menginspirasi kaum muda muslim yang tertarik untuk memajukan diri mereka dalam sains. Ia mengaku melakukan itu karena terinspirasi oleh guru-gurunya di RGS.

Sosok Perempuan Berprestasi

Ying kerap mengisi berbagai program inspirasi. Ia berbagi pengalaman tentang perubahan dan prestasinya, termasuk bagaimana ia memilih Islam, termasuk keputusannya untuk mantap berhijab sepulangnya melakukan umrah.

Sebagai akademisi, ibu satu anak itu menerima banyak penghargaan dan penghargaan. Seperti, menjadi anggota termuda dari Akademi Ilmu Pengetahuan Jerman Leopoldina; masuk dalam salah satu dari delapan wanita dari daftar 100 Insinyur Era Modern, sebuah daftar kehormatan yang disusun oleh American Institute of Chemical Engineers pada 2008.

Ying juga merupakan pemenang perdana 500 ribu dolar AS pada Mustafa Prize Award Top Scientific Achievement Award tahun 2015 untuk inovasinya dalam teknologi bionanoteknologi. Hadiah ini diberikan oleh pemerintah Iran kepada para peneliti muslim terkemuka.

Berikutnya, Menciptakan Rapid Test Untuk Wabah Covid-19...

Menciptakan Rapid Test Untuk Wabah Covid-19

Ying mengklaim, rapid test ciptaannya memiliki sensitifitas tinggi dan hasil yang akurat. Sampel pemeriksaan akan dimasukkan ke dalam perangkat portabel yang memberikan hasil dalam waktu sekitar 5 hingga 10 menit menggunakan metode amplifikasi cepat yang mereka beri nama 'Cepat'.

Prof Jackie Ying, Profesor Muslimah Penemu Rapid Test 5 Menit. (The Straits Times)
Prof Jackie Ying, Profesor Muslimah Penemu Rapid Test 5 Menit. (The Straits Times)

"Kami telah melakukan beberapa validasi klinis awal di Rumah Sakit Wanita dan Anak-Anak KK menggunakan sampel pasien nyata, dan menemukan tes itu sangat sensitif dan akurat," kata Ying, melansir dari Straits Times.

Tantangan dalam membuat rapid tes itu, kata Ying, bagaimana mengembangkan diagnostik yang cepat dan akurat tanpa menggunakan mesin yang mahal.

Penelitian itu, ia kerjakan bersama timnya setelah kepala eksekutif A*Star Frederick Chew memberi mereka tantangan untuk membuat tes cepat untuk Covid-19.

Sebelumnya, A*Star telah mengembangkan test kit PCR untuk digunakan di Singapura dan luar negeri, dan menyerahkan mempercayai perusahaan lokal MiRXES untuk dapat memproduksi secara massal.

Singapura sebenarnya memiliki jenis tes lain yang dilakukan untuk menemukan Covid-19 pada pasien, yaitu tes serologis. Tes ini mencari imunoglobulin, antibodi yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus, dalam darah pasien.

Namun, tes semacam itu membutuhkan waktu beberapa jam untuk menunjukkan hasil. Karena itu rapid tes disebut sebagai jalan keluar masalah.

"Tetapi sangat penting untuk mencatat sensitivitas hasil tes," kata Prof Ying.

Menurut Ying, orang yang terinfeksi Covid-19 akan melepaskan sejumlah besar virus saat gejala awal (viral load) dan lebih lambat di kemudian hari.

Oleh karena itu, akan lebih baik jika tes cepat dapat dilakukan pada berbagai tahap penyakit, terlepas dari apakah ia memiliki viral load yang tinggi atau rendah, kata Prof Ying.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menristek: 10 Ribu Rapid Test dari Strain Virus Lokal Siap Digunakan 8 Mei

Menristek: 10 Ribu Rapid Test dari Strain Virus Lokal Siap Digunakan 8 Mei

News | Minggu, 03 Mei 2020 | 22:35 WIB

Jalani Tes Swab Bareng Reino Barack, Syahrini Beberkan Hasilnya

Jalani Tes Swab Bareng Reino Barack, Syahrini Beberkan Hasilnya

Entertainment | Minggu, 03 Mei 2020 | 18:25 WIB

3.022 Warga Jakarta Positif Corona dari Rapid Test

3.022 Warga Jakarta Positif Corona dari Rapid Test

News | Jum'at, 01 Mei 2020 | 20:20 WIB

Terkini

Potensi Besar Industri Daur Ulang, Mengapa Masih Dianggap Murah dan Berkualitas Rendah?

Potensi Besar Industri Daur Ulang, Mengapa Masih Dianggap Murah dan Berkualitas Rendah?

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 11:13 WIB

7 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan FH UI: 16 'Bukan Mahasiswa Biasa' Terlibat Skandal WAG dan Line

7 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan FH UI: 16 'Bukan Mahasiswa Biasa' Terlibat Skandal WAG dan Line

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 11:05 WIB

5 Sepeda Gunung Lokal Kualitas Internasional yang Tahan Banting dan Serbaguna

5 Sepeda Gunung Lokal Kualitas Internasional yang Tahan Banting dan Serbaguna

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 11:02 WIB

5 Rekomendasi Sepeda Lipat Murah Berkualitas, Mulai Rp800 Ribuan

5 Rekomendasi Sepeda Lipat Murah Berkualitas, Mulai Rp800 Ribuan

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 11:01 WIB

5 Physical Sunscreen Jepang Terbaik, Andalan untuk Cuaca Panas

5 Physical Sunscreen Jepang Terbaik, Andalan untuk Cuaca Panas

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 10:46 WIB

Berapa Biaya Kuliah FH UI? 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual Terancam di-DO

Berapa Biaya Kuliah FH UI? 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual Terancam di-DO

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 10:36 WIB

Anak TK dan PAUD Kini Dapat PIP 2026, Ini Besaran Bantuan dan Cara Mengeceknya

Anak TK dan PAUD Kini Dapat PIP 2026, Ini Besaran Bantuan dan Cara Mengeceknya

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 10:31 WIB

6 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI, 16 Pelaku Bakal di-DO?

6 Fakta Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI, 16 Pelaku Bakal di-DO?

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 10:16 WIB

7 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kulit Sawo Matang, Ini Shadenya

7 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kulit Sawo Matang, Ini Shadenya

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 10:16 WIB

10 Jam Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual Disidang Massal, Ada Live TikTok-nya

10 Jam Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual Disidang Massal, Ada Live TikTok-nya

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 10:12 WIB