Tak Kuat Dingin Tapi Ingin Naik Gunung, Bagaimana Solusinya?

Risna Halidi | Lilis Varwati
Tak Kuat Dingin Tapi Ingin Naik Gunung, Bagaimana Solusinya?
Ilustrasi naik gunung. (Suara.com/Reza Abineri)

Beberapa gunung di Indonesia memiliki pemandangan puncak yang mengagumkan, terutama saat matahari terbit.Tapi bagaimana yang tak kuat dingin?

Suara.com - Selain sebagai kegiatan fisik, mendaki gunung juga bisa menjadi kegiatan refreshing untuk melihat pemandangan yang indah.

Beberapa gunung di Indonesia memiliki pemandangan puncak yang mengagumkan, terutama saat matahari terbit. 

Tak heran jika banyak pendaki mengincar momentum sunrise di puncak gunung dengan memulai perjalanan sejak dini hari. Risikonya tentu suhu dingin yang lebih ekstrem juga pencahayaan yang hanya mengandalkan lampu senter. 

Jika Anda tak kuat dengan cuaca dingin, tak perlu memaksakan harus mendaki ke puncak sejak dini hari. Untuk puncak yang tidak memiliki batasan waktu seperti di Gunung Semeru, Anda tetap bisa naik kapan pun juga.

"Jangan kejar sunset atau sunrise. Jadi berangkat siang aja. Kebanyakan orang ngejar sunrise, jadi orang bela-belain naik dini hari. Orang susah banget, banyak peralatan yang harus disiapkan untuk mencari kehangatan," ucap anggota Wanadri sekaligus Manager EIGER Adventure Service Team Galih Donikara saat siaran langsung di Instagram, Senin (10/8/2020).

Menurut Galih, siang hari lebih aman untuk melakukan pendakian ke puncak. Selain suhu yang sudah tidak terlalu dingin, jalur pendakian tentu lebih mudah terlihat.

"Gak mau dingin ya muncaknya siang aja. Malam mah tidur, makan yang banyak, tidur yang nyenyak. Pagi-pagi baru bangun naik ke puncak," ujarnya.

Galih mengingatkan bahwa setiap gunung pasti mengandung sekaligus mengundang bahaya. Bahaya objektif atau yang berasal dari gunung itu sendiri, seperti suhu yang ekstrim, kerumitan jalur pendakian, juga durasi yang dibutuhkan untuk mendaki.

Menurut Galih, bahaya itu masih bisa dihindari dengan persiapan fisik, mental, dan peralatan yang memadai. Sedangkan bahaya subyektif berasal dari pendaki itu sendiri yang mengundang risiko, kata Galih.

"Bahayanya kalau sikap kita ceroboh apalagi sombong terhadap alam, jalur, adat istiadat itu yang lebih mencelakakan kita. Dua hal itu yang harus dipahami betul. Gunung mengandung bahaya, apabila tidak persiapkan diri, jadi bahayanya ada dua," katanya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS