5 Alasan Kita Bangga pada Batik Indonesia

Vania Rossa

Kamis, 19 Agustus 2021 | 18:38 WIB
5 Alasan Kita Bangga pada Batik Indonesia
Kegiatan pembatik tulis di Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang Jawa Tengah. (Dok. IPI)

Suara.com - Batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Lihat saja, setiap Hari Batik, orang kompak mengenakan batik. Dan setiap kali ada pameran batik, pasti selalu ramai pengunjung. Pun menghadiri undangan pernikahan, rata-rata kini orang mengenakan batik.

Els, pencipta lagu dan penyanyi internasional asal Indonesia yang berusia 13 tahun, mengenal batik dari keluarganya. Ia sudah terbiasa pakai batik untuk menghadiri acara formal, misalnya pernikahan. Dan ia mengaku bangga pada batik.

“Soalnya, batik itu punya pretty design. Saya ingat, ada satu brand di luar negeri yang menggunakan motif batik untuk produk mereka, tapi sayangnya tidak menyebut Indonesia. Saya tetap bangga, karena itu berarti mereka menemukan kecantikan pada batik, sehingga banyak orang yang bisa lihat,” kata remaja yang sempat tinggal di Yogyakarta ini.

Itulah satu hal penting yang tak lepas dari pengamatan William Kwan, pemerhati batik dan pendiri Institut Pluralisme Indonesia (IPI). Ia sangat menghargai upaya untuk mempromosikan batik lewat pameran batik Indonesia di luar negeri.

Hanya saja, ia menyayangkan karena setelah itu kurang diikuti dengan tindak lanjutnya. Seandainya saja Indonesia bisa bekerja sama dengan berbagai lembaga internasional, seperti perusahaan fashion dan interior, sekolah fashion, serta lembaga kebudayaan dalam mempromosikan batik, maka batik Indonesia bisa lebih mendunia. Hal ini akan mendatangkan apresiasi budaya dan manfaat ekonomi yang lebih besar melalui pemasaran batik Indonesia di luar negeri.

Amalla Vesta Widaranti, personal travel consultant dan influencer, juga berpendapat bahwa dilihat dari segi income yang diterima pembatik, saat ini nilainya memang belum menarik perhatian generasi muda.

Ia mengusulkan, “Agar batik bisa lestari, kita pakai platform yang disukai anak muda. Gunakan juga suara dari influencer dan role model. Untuk jangka panjang, batik bisa masuk ke dalam kurikulum pelajaran dengan tingkat keterampilan yang berjenjang.”

Saat ini, selain revitalisasi batik Indonesia, program IPI juga fokus pada pengembangan ekonomi inklusif, yaitu gotong royong ekonomi dan penguatan solidaritas kebangsaan Indonesia, yang diharapkan dapat membantu perekonomian masyarakat lokal.

Meski masih menemui banyak tantangan dalam pelestarian batik, kita tak bisa memungkiri bahwa batik #IndonesiaBikinBangga. Ini 5 alasannya, mengutip siaran pers yang diterima Suara.com.

1. Batik sebagai media pemersatu
Bersama dengan wastra Nusantara lain seperti tenun dan ikat, batik merupakan salah satu kain nasional Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, hampir semua daerah punya batik.

baca juga

Vesta baru mengetahui soal batik di banyak daerah di luar Jawa ketika traveling. “Kalau saya tidak ke sana, mungkin saya juga tidak pernah tahu,” katanya.

Vesta mengenakan batik. (Dok, IPI)
Vesta mengenakan batik. (Dok, IPI)

“Batik dikenakan dalam berbagai kesempatan oleh individu, lembaga, dan kelompok sosial budaya di Indonesia. Artinya, batik mempersatukan kita dari sisi wastra. Itulah mengapa batik menjadi media pemersatu,” kata William.

Berdasarkan konsensus di Indonesia, yang disebut kain batik adalah batik tulis, batik cap, serta kombinasi batik tulis dan batik cap. Sementara untuk batik printing disebut sebagai tekstil bermotif batik.

“Karena proses pembuatannya yang tidak menggunakan cairan malam panas dan bukan warisan nenek moyang. Teknologi printing ini baru dikenal oleh Indonesia sejak sekitar tahun 1970,” kata William.

2. Hanya budaya batik Indonesia yang sudah diakui UNESCO
Budaya batik sesungguhnya bisa ditemukan di banyak negara, termasuk China, India, Jepang, Malaysia, Sri Lanka, dan Afrika Barat. Karena itu, batik pun merupakan budaya dunia. Namun, dari sekian banyak budaya batik di dunia, yang sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO adalah batik Indonesia.

Dalam inskripsi UNESCO dijelaskan bahwa budaya batik itu harus memenuhi berbagai kriteria, termasuk tinjauan sejarah bahwa sudah sejak lama budaya batik melebur dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Terkait dengan budaya batik, berarti teknik membatiknya pun diakui oleh UNESCO, yaitu menggunakan alat canting dan cap untuk menorehkan cairan malam panas.
“Penegasan ‘cairan malam panas’ ini menjadi penting, karena belakangan beredar pula batik dengan teknologi printing yang memakai malam dingin, yang dapat disalahgunakan sehingga seakan-akan batik tulis,” tutur William.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kaligrafi Arab dalam Batik di Kota Tiongkok Kecil Lasem, Melawan Kepunahan

Kaligrafi Arab dalam Batik di Kota Tiongkok Kecil Lasem, Melawan Kepunahan

News | Rabu, 18 Agustus 2021 | 14:30 WIB

Gibran Kenakan Batik Wahyu Tumurun Saat Upacara HUT ke-76 RI, Ini Lho Maknanya

Gibran Kenakan Batik Wahyu Tumurun Saat Upacara HUT ke-76 RI, Ini Lho Maknanya

Surakarta | Selasa, 17 Agustus 2021 | 12:55 WIB

Outfit Elegan Amanda Manopo saat Bertemu Menteri Ternyata Murah, Warganet Syok

Outfit Elegan Amanda Manopo saat Bertemu Menteri Ternyata Murah, Warganet Syok

Lifestyle | Selasa, 13 Juli 2021 | 15:11 WIB

Terkini

Rupiah Terkapar ke Rp17.934, Nyaris Tembus Rp18.000 Akibat Perang AS-Iran Jelang Putusan BI

Rupiah Terkapar ke Rp17.934, Nyaris Tembus Rp18.000 Akibat Perang AS-Iran Jelang Putusan BI

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45 WIB

Apa Itu Sepatu Lari Carbon Plate? Ini Ciri-ciri, Kelebihan, dan Rekomendasi Merek Lokal hingga Luar

Apa Itu Sepatu Lari Carbon Plate? Ini Ciri-ciri, Kelebihan, dan Rekomendasi Merek Lokal hingga Luar

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:38 WIB

Persita Tangerang Rekrut Luquinhas, Eks Amazonas dengan Pengalaman Eropa

Persita Tangerang Rekrut Luquinhas, Eks Amazonas dengan Pengalaman Eropa

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:32 WIB

Siap-siap Panen Cuan! Dividen BBRI Diproyeksi Tembus 13 Persen, Minat Borong?

Siap-siap Panen Cuan! Dividen BBRI Diproyeksi Tembus 13 Persen, Minat Borong?

Bri | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:26 WIB

Sifat dan Karakter Shio Kambing dari Positif hingga Negatif

Sifat dan Karakter Shio Kambing dari Positif hingga Negatif

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:22 WIB

Meroket Lagi, IHSG Menuju Level 6.400

Meroket Lagi, IHSG Menuju Level 6.400

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:18 WIB

Chelsea Tikung Arsenal, Rekrut Morgan Rogers dengan Harga Fantastis!

Chelsea Tikung Arsenal, Rekrut Morgan Rogers dengan Harga Fantastis!

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:16 WIB

Serangan Harimau Kembali Terjadi di Siak, Kali Ini Korbannya Pekerja Alat Berat

Serangan Harimau Kembali Terjadi di Siak, Kali Ini Korbannya Pekerja Alat Berat

Riau | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:15 WIB

Kiamat Harga Gadget 2027? TSMC Naikkan Biaya Produksi Chip 10%, Raksasa Teknologi Mulai "Eksodus"

Kiamat Harga Gadget 2027? TSMC Naikkan Biaya Produksi Chip 10%, Raksasa Teknologi Mulai "Eksodus"

Tekno | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:13 WIB

Live Malam Hari! Catat Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026

Live Malam Hari! Catat Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 09:06 WIB

×