facebook

Dua Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia, Pakar Keuangan Sebut Makin Banyak Masyarakat Sadar Pentingnya Imunitas Keuangan

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Dua Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia, Pakar Keuangan Sebut Makin Banyak Masyarakat Sadar Pentingnya Imunitas Keuangan
Ilustrasi menghitung keuangan (pexels.com/@karolina-grabowska)

Selama pandemi, gaya hidup masyarakat berubah drastis, salah satunya lebih mahir mengelola keuangan.

Suara.com - Tepat hari ini, dua tahun lalu, ditemukan kasus konfirmasi positif Covid-19 pertama di Indonesia. Selama dua tahun pandemi gaya hidup masyarakat berubah drastis, salah satunya lebih mahir mengelola keuangan.

Diungkap Financial Planner sekaligus Pakar Keuangan Prita Ghozie bahwa kini banyak masyarakat yang sudah mulai menyadari mencari uang tidaklah mudah, terbukti di awal 2020 banyak orang termasuk pengusaha yang merasakan pahitnya hantaman pandemi.

"Di 2020 waktu itu semua orang kaget, karena kurang persiapan atau bahkan sama sekali nggak ada persiapan. Jadi yang mampu bertahan saat ini, adalah mereka yang situasi keuangannya sehat, alias imunitas keuangannya kuat, jadi tetap bertahan," ungkap Prita dalam acara peluncuran e-Handbook Alibaba Group, Rabu (2/3/2022).

Imunitas keuangan yang dimaksud Prita adalah dana darurat, atau dana asuransi kesehatan. Sehingga saat memiliki dana darurat yang cukup, dan tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaan dan tidak memiliki penghasilan, dana darurat ini bisa menambal biaya kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Dear Para Ibu, Ini 4 Langkah Atur Keuangan Rumah Tangga dan Dana Usaha Sekaligus

Ilustrasi keuangan. (dok. ilustrasi)
Ilustrasi keuangan. (dok. ilustrasi)

Begitu juga asuransi kesehatan, yang bisa menambal biaya saat sakit, sehingga uang tabungan tidak terkuras untuk biaya pengobatan.

Nah, kata Prita, selama dua tahun pandemi berlangsung, sudah semakin banyak orang sadar pentingnya imunitas keuangan ini.

"Dua tahun ini berjalan, di tahun 2022 ini, 57 persen masyarakat Indonesia bisa kelola keuangan secara aktif. Dulu masyarakat berpikir untuk apa kelola uang. Ini perubahan yang bagus," ungkap Prita.

Bahkan, tidak hanya lebih peduli pada pengelolaan keuangan, 32 persen masyarakat juga sudah mulai berani mendirikan usaha pribadi dan mengelolanya sendiri.

Perilaku ini terjadi karena setelah sadar pentingnya kelola keuangan, baru terlihat ternyata tidak bisa mengandalkan satu pemasukan saja, tapi bisa membuka sumber penghasilan lain.

Baca Juga: Tanda Tangani Dekrit, Putin Larang Arus Keluar Mata Uang Asing di Atas 10.000 Dolar AS

"Selama 2 tahun terakhir ini, 37 persen masyarakat berhasil nabung. Dulu uang ada banyak, gampang dicari, sekarang sadar uang nggak gampang dicari. Jadi sebanyak apapun uang diputar jadi usaha," tutup Prita.

Komentar