Suara.com - Mempertahankan integritas akademik sangat penting untuk sektor pendidikan, tetapi pergeseran metode pembelajaran hibrid telah menimbulkan tantangan tersendiri. Salah satunya adalah pelanggaran akademik yang dilakukan oleh siswa.
Minimnya pengawasan dari orangtua dan pendidik saat pembelajaran hibrid, membuat beberapa siswa mengambil jalan pintas dan mengembangkan kebiasaan buruk, yang mengakibatkan pelanggaran akademik.
Menurut Yovita Marlina, Senior Manager, Customer Growth, Southeast Asia untuk Turnitin, kasus pelanggaran akademik yang terjadi di lingkungan pembelajaran hibrida dapat menjadi efek dari kurangnya akses dan keterlibatan dalam kelas online.
Dengan pandemi yang berlangsung di Indonesia, siswa tidak hanya perlu menghadiri kelas online, tetapi juga menyerahkan tes, esai, dan pekerjaan mereka secara online.

“Akibatnya, skenario ini memberi tekanan pada pendidik untuk meninjau dan memeriksa keaslian dan orisinalitas pekerjaan siswa, menyoroti kendala waktu dan kemampuan," kata Yovita. mengutip siaran pers resminya.
Dalam artikel yang diterbitkan Journal of Learning Theory and Methodology, ada metode kreatif dalam kecurangan akademik di kalangan mahasiswa seperti berpindah jendela browser untuk mencari jawaban di internet, dan mengakses gambar dan teks dari perangkat seperti ponsel atau jam tangan pintar.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan teknologi yang sesuai untuk dapat membantu mengidentifikasi anomali dan teks yang dijiplak, sambil mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan di mana guru harus fokus pada pembinaan siswa.
Dengan memperkenalkan dan mendidik siswa tentang pentingnya integritas akademik di tingkat sekolah menengah, tambahnya, pendidik akan mengembangkan generasi siswa yang percaya diri dan pemikir orisinal dan melihat pengurangan yang signifikan dalam pelanggaran akademik.
“Ada kemauan dalam komunitas akademik untuk meningkatkan dan mengintegrasikan teknologi, tidak hanya untuk meningkatkan pengalaman siswa, tetapi juga untuk membantu siswa memperoleh keterampilan berpikir kritis," katanya lagi.
Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang mengungkapkan bahwa keterampilan berpikir kritis di kalangan siswa berkembang pesat selama pembelajaran online.
Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi pendidik dan institusi akademik untuk menerapkan alat dan teknologi digital yang tepat untuk memberdayakan pendidik dan memungkinkan siswa berkembang dalam lingkungan pembelajaran hibrida.
Di era digital, kata Yovita, siswa dihadapkan pada sejumlah besar sumber daya yang dapat diakses oleh teknologi. Oleh karena itu, pengajaran literasi digital sangat penting dalam mendorong siswa untuk cerdas dalam menemukan, menggunakan, dan mengutip informasi, dan menerapkannya pada tugas yang dihadapi.
“Dari apa yang kami amati, institusi akademik meningkatkan investasi mereka dalam alat dan teknologi yang bertujuan membantu instruktur untuk melakukan pekerjaan mereka secara lebih efektif dan efisien. Ini terkait dengan agenda nasional negara untuk meningkatkan penggunaan teknologi digital untuk mengatasi masalah dan tantangan saat ini,” katanya.
Institusi akademik semakin menyadari kerusakan plagiarisme terhadap integritas akademik dan hasil pembelajaran, yang merupakan ancaman serius terhadap kualitas dan standar sistem pendidikan Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah meningkatkan standar rekrutmen, penilaian dan pelatihan pendidik dan instruktur berkualitas di Indonesia.
“Di Turnitin, kami melengkapi institusi pendidikan dengan solusi yang menjaga integritas dan memenuhi kebutuhan mereka untuk mempertahankan standar akademik, baik di ruang kelas fisik maupun virtual. Kami bertujuan untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap konsisten selama pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi risiko plagiarisme dan pelanggaran akademik terkait,” kata Yovita.