facebook

Bisa Terlihat Secara Kasat Mata, Ini Cara Gampang Bedakan Kain Tenun dengan Pewarna Alami VS Pewarna Kimia

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Bisa Terlihat Secara Kasat Mata, Ini Cara Gampang Bedakan Kain Tenun dengan Pewarna Alami VS Pewarna Kimia
Tenun Sikka NTT. (Suara.com/Firsta Nodia)

Seiring perkembangan zaman, kain tenun juga ada yang dibuat dengan pewarnaan zat kimia. Bagaimana cara membedakannya?

Suara.com - Pembuatan kain tenun dinilai lebih ramah lingkungan karena minim limbah dan menggunakan bahan pewarna alami. Namun, seiring perkembangan zaman, kain tenun juga ada yang dibuat dengan pewarnaan zat kimia.

Dari sisi ketahanan, kain tenun dengan pewarna alami lebih awet bahkan bisa tetap dipakai sampai ratusan tahun. Tak heran, kain tenun dengan pewarna kimia justru seringkali diklaim menggunakan pewarna alami untuk memikat pembeli.

"Sekarang banyak kain tenun dengan pewarna kimia tapi diklaim warna alam," kata desaiter Oerip Indonesia Dian Oerip ditemui di Indonesia Fashion Week di Jakarta Convention Center, Minggu (17/4/2022).

Menurut Dian, kain tenun dengan pewarna alam dan kimia sebenarnya bisa dibedakan secara kasat mata. Bagi desainer yang biasa menggunakan kain tenun bisa dengan mudah membedakannya.

Baca Juga: Hemat dan Ramah Lingkungan, Ini Cara Masyarakat NTT Mencuci Kain Tenun dengan Daun Kayu Putih

Kain Tenun [Risna/Suara.com]
Kain Tenun [Risna/Suara.com]

"Kalau pewarna alami, warnanya lebih soft. Kalau pewarna kimia, dari benang sudah terlihat warna terang mencolok, seperti pink mencolok. Kalau pemain kain pasti tahu perbedaannya. kalau pemakai baru, lama-lama juga bisa tahu," tuturnya.

Sebagai desainer, Dian sering bepergiaan ke berbagai daerah untuk mencari kain tenun yang dibuat secara alami oleh penenun masyarakat pedalaman. Menurut Dian, kain tenun yang telah berusia rarusan tahun bukan hanya menarik dari daya tahannya. Tapi juga warna dan motifnya yang unik dan langka.

"Saya pemburu kain tua, itu tidak bisa ditenun oleh penenun zaman sekarang, mulai dari warna, motif," ujarnya.

Selama pandemi Covid-19, Dian merasa minat masyarakat terhadap kain tenun justru meningkat. Ia mengaku perlu meningkatkan produksi karena pemesanan yang melonjak hingga tiga kali lipat.

"Selama 13 tahun saya ada di industri kain tenun, ini tertinggi selama berkarya. Kalau dulu produksi sehari 30 kali, saat pandemi bisa sampai 90," pungkasnya.

Baca Juga: Indonesia Punya Produk Kain Tenun Halal, Sudah Bersertifikat MUI

Komentar