Suara.com - Kabar TikTok Shop ditutup hingga kini masih menuai pro kontra dari publik. Belum selesai dengan hal tersebut, muncul lagi kabar soal pedagang Tanah Abang yang meminta semua e-commerce yang ada di Indonesia minta ditutup juga.
Tentu saja kabar itu membuat publik turut bereaksi. Khususnya para pembeli dan beberapa juga sesama pedagang tanah abang yang lain.
Tak dapat dipungkiri dengan adanya toko berbasis online ini memudahkan konsumen untuk menemukan barang dengan efektif dan efisien. Namun, permintaan beberapa pedagang Tanah Abang yang meminta e-commerce ini ikut ditutup juga membuat publik menilai hal itu terkesan ngelunjak.
Tapi apakah pernah, mereka memikirkan soal hal-hal sepele tak mengenakan yang kerap terjadi di pasar tradisional. Yang mana hal itu menjadi pertimbangan pembeli jika ingin membeli barang di pasar tradisional
Berikut beberapa keluhan pembeli yang bisa menjadi bahan introspeksi pedagang dan pemerintah.

Pasar Konvensional: Identik dengan Pedagang yang Tidak Ramah
Melansir dari unggahan Instagram @folkative, ada seorang pengguna yang turut mengomentari kabar soal lingkungan Tanah Abang yang membuatnya enggan untuk bertransaksi di sana.
"Kalau dipikir-pikir mungkin bukan pure salah e-commerce ya wak. Tapi lingkungan dan pelayanan Tanah Abang yang bikin orang-orang enggan ke situ," tulis pemilik akun @mis.prabawati.
Komentar itu tentu mengundang sahutan lain. Mereka mengeluhkan soal pelayanan penjual yang kadang kurang mengenakan. Misalnya, penjual dengan gaya pelayanan yang jutek. Penjual dengan pelayanan yang jutek pun tak hanya ditemui di pasar Tanah Abang saja, mereka juga kerap ditemui di pasar-pasar tradisional lainnya.
Biasanya tipe-tipe penjual jutek itulah yang membuat pembeli enggan bertransaksi. Tentu akan sangat menyebalkan jika sedang diposisi membutuhkan barang tapi sambil melihat wajah penjual yang masam.
E-commerce: Pedagang Relatif Lebih Interaktif dan Menyediakan Beragam Fitur Penilaian
Tentu pelayanan semacam itu akan sangat jarang ditemui di sebuah e-commerce. Jika ada pun, pembeli memiliki ruang untuk meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Entah bisa direct message, bisa juga di kolom penilaian produk dan pelayanan. Dan hal tersebut bisa dianggap lebih fair atau adil.
Pasar Tradisional: Enggan Berkembang, Pedagang Dianggap Lebih Suka Nyinyir
Masih melansir dari unggahan yang sama, salah seorang pedagang di Tanah Abang pun melontarkan unek-uneknya yang kerap digunjing pedagang lain.
"Bener banget kak, malah kadang kita seller Tanah Abang yang biasa live langsung di toko offline aja bisa dinyinyirin sama tetangga toko yang mager berkembang dengan e-commerce lainnya, mengsedih," tulis pemilik akun @by.najaah.