Suara.com - Tokoh NU Islah Bahrawi buka suara soal kontroversi Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah. Ia menyebut pendakwah harusnya lebih mendasarkan ilmu ketimbang candaan pada jemaah.
"Ceramah seperti yang dilakukan Gus Miftah ini kalau bagi saya pribadi pada akhirnya kita kembalikan ke persoalan keilmuan. Kalau merasa tidak berilmu, enggak usah ceramah agama," kata Islah dilansir dari tayangan "Rakyat Bersuara" iNews TV yang tayang pada Selasa (10/12/2024).
"Kalau memang tidak bisa melakukan pendekatan-pendekatan literalis terhadap masyarakat, ya sebaiknya jangan," sambungnya.
Berani kritik Gus Miftah, seperti apa sosok Islah Bahrawi?
Profil Islah Bahrawi
![Islah Bahrawi dan Gus Miftah. [Kolase/Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/12/12/16334-islah-bahrawi-dan-gus-miftah.jpg)
Islah Bahrawi merupakan tokoh NU yang cukup dikenal publik. Ia merupakan Direktur Jaringan Moderat Indonesia.
Islah Bahrawi lahir di Bangkalan, Madura pada 21 April 1971. Islah Bahrawi banyak belajar Islam di Pesantren Syaichona Moch. Cholil Demangan, Bangkalan.
Islah adalah putra dari pasangan H. Bahrawi Qarib dan Hj. Faizah Zayyadi. Orang tua Islah merupakan pengusaha besi tua, sementara kakeknya adalah seorang kiai di Madura.
Islah Bahrawi sendiri lulusan SMPN 1 Blega dan SMAN 2 Bangkalan. Islah kemudian merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Jurusan Sastra Inggris Universitas Nasional pada 1989.
Setelah lulus kuliah, Islah bekerja sebagai wartawan Suara Pembaharuan lalu menikahi perempuan bernama Musdalifah pada 1997.
Ia kemudian mendirikan perusahaan kontraktor pameran bersama seorang teman. Sayangnya bisnis miliknya terdampak krisis moneter dan membuatnya merantau ke Amerika Setikat.
Saat di Amerika, Islah Bahrawi malah tak mendapatkan universitas hingga membuatnya bekerja serabutan. Ia kemudian sempat bekerja di toko buku di Amerika Serikat dan menamatkan lebih dari 2.000 bacaan.
Sayangnya ketika pulang ke Indonesia, ia terkena masalah hukum dan dipenjara selama 22 bulan. Setelah keluar penjara, Gus Islah menulis banyak pemikiran dan gagasan hingga akhirnya ia didekati Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 Kepolisian Indonesia untuk membuat tulisan-tulisan dengan misi menghalau gerakan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme.
Terakhir, Islah diangkat menjadi tenaga ahli bidang Pencegahan Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme di Polri.