Krisis Iklim di Depan Mata, Ini Lima Cara Untuk Gen Z Kurangi Eco-Anxiety

Bimo Aria Fundrika

Senin, 02 Juni 2025 | 17:38 WIB
Krisis Iklim di Depan Mata, Ini Lima Cara Untuk Gen Z Kurangi Eco-Anxiety
Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Perubahan iklim kini bukan sekadar isu global—ia telah menjadi kenyataan yang dirasakan secara langsung. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia dilanda gelombang panas ekstrem, kebakaran hutan yang meluas, banjir besar, dan bencana alam lainnya. Dampaknya tak hanya menghantam lingkungan, tetapi juga kesehatan mental manusia.

Kekhawatiran akan masa depan bumi kian menguat. Setiap hari, berita tentang krisis iklim muncul di berbagai platform. Semuanya menyiratkan satu pesan: situasi darurat. Dari sinilah muncul satu istilah baru dalam ranah kesehatan mental—eco-anxiety atau kecemasan lingkungan.

Kondisi ini muncul ketika seseorang mengalami rasa cemas atau takut berlebihan akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Bukan hanya karena informasi, tetapi juga karena pengalaman pribadi—seperti terkena langsung bencana alam.

Proses Terjadinya Perubahan Iklim. (Pexels)
Proses Terjadinya Perubahan Iklim. (Pexels)

Menurut earthday.org, studi American Psychological Association (APA) tahun 2023 menunjukkan bahwa generasi Z adalah kelompok yang paling merasakan tekanan ini. Mereka mengalami stres dan trauma tinggi akibat ancaman serta dampak nyata dari krisis iklim.

Fakta serupa muncul pada penelitian tahun 2021: 45% Gen Z mengalami kecemasan iklim yang memengaruhi kehidupan mereka setiap hari. Angka itu diprediksi terus meningkat hingga tahun 2025, seiring kondisi lingkungan yang makin tak menentu.

Namun, Gen Z bukan hanya ingin didengar. Mereka menginginkan solusi. Bagi mereka, membicarakan kesehatan mental tidak cukup jika tidak diiringi dengan aksi nyata. Maka, eco-anxiety tak lagi dipandang sebagai hambatan—melainkan bahan bakar untuk bergerak.

Dikutip dari oneearth.org, berikut lima langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi eco-anxiety sekaligus memberi dampak positif bagi lingkungan:

1. Kembali ke Alam

Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Aktivis lingkungan melakukan aksi di Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (27/9/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Hubungan manusia dengan alam bukan hanya fisik, tapi juga emosional. Studi menunjukkan, berada di alam bisa menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.

baca juga

Tidak perlu naik gunung atau pergi ke pantai. “Seperti duduk di bawah pohon, berjalan santai di taman, atau hanya menikmati udara segar”—itulah cara sederhana untuk merasa lebih tenang dan terhubung kembali dengan bumi.

2. Ubah Kebiasaan Sehari-hari

Mengurangi jejak karbon bisa dimulai dari rumah. Membatasi konsumsi daging, mengurangi limbah makanan, dan memilih produk ramah lingkungan adalah langkah kecil dengan dampak besar.

Perubahan ini mungkin tampak sepele. Namun jika dilakukan terus-menerus, hasilnya bisa signifikan—baik untuk diri sendiri maupun untuk planet ini.

3. Bergabung dengan Komunitas Peduli Lingkungan

Berada dalam komunitas yang satu visi memberi kekuatan. “Menemukan komunitas yang saling peduli dapat memberi dukungan emosional”, tulis oneearth.org. Tak hanya itu, komunitas juga bisa menjadi ruang belajar, berbagi ide, dan menyemai semangat kolektif.

Ikuti acara lokal, pameran keberlanjutan, atau gerakan penanaman pohon. Aksi kecil, jika dilakukan bersama, bisa terasa lebih ringan dan berdampak luas.

4. Terlibat dalam Masyarakat Sipil

Eco-anxiety bisa diarahkan menjadi dorongan untuk berpartisipasi. “Menandatangani petisi, ikut aksi damai, hingga memilih pemimpin yang peduli lingkungan” adalah bentuk keterlibatan sipil yang bisa mengubah rasa cemas menjadi kontribusi nyata.

5. Dukung Organisasi Berbasis Solusi

Banyak organisasi lingkungan yang membutuhkan dukungan. Jika belum bisa berdonasi, bantu mereka menjangkau lebih banyak orang lewat media sosial.

“Dengan membagikan informasi, menyukai, dan mengomentari konten mereka”, kita sudah ikut memperkuat kampanye lingkungan dan membangun kesadaran kolektif.

Penulis: Kayla Riasya Salsabila

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Usai Longsor di Gunung Kuda: Saatnya Mendesak Tata Kelola Tambang Bertanggung Jawab

Usai Longsor di Gunung Kuda: Saatnya Mendesak Tata Kelola Tambang Bertanggung Jawab

News | Senin, 02 Juni 2025 | 12:56 WIB

Indonesia Gaungkan Solidaritas Iklim Global Pelestarian Gletser dari Negeri Tropis

Indonesia Gaungkan Solidaritas Iklim Global Pelestarian Gletser dari Negeri Tropis

News | Senin, 02 Juni 2025 | 10:47 WIB

Problematika Militer di Balik Kepercayaan Masyarakat Terhadap TNI

Problematika Militer di Balik Kepercayaan Masyarakat Terhadap TNI

Liks | Senin, 02 Juni 2025 | 08:32 WIB

Terkini

Apa yang Terjadi dalam Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Betrand Peto? Ini Kronologinya

Apa yang Terjadi dalam Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Betrand Peto? Ini Kronologinya

News | Rabu, 16 September 2026 | 13:16 WIB

Pemerintah Singapura Bayar Warga untuk Baca Buku

Pemerintah Singapura Bayar Warga untuk Baca Buku

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 13:12 WIB

Kronologi Konflik Lahan Berujung Maut di Setokok Batam, Dua Orang Tewas

Kronologi Konflik Lahan Berujung Maut di Setokok Batam, Dua Orang Tewas

Batam | Rabu, 16 September 2026 | 13:09 WIB

Indonesia Sports Industry of the Year 2026 Diraih BRI, Bukti Konsistensi Dukung Olahraga Nasional

Indonesia Sports Industry of the Year 2026 Diraih BRI, Bukti Konsistensi Dukung Olahraga Nasional

Malang | Rabu, 16 September 2026 | 13:04 WIB

BRI Raih Penghargaan Kemenpora, Perkuat Komitmen Majukan Industri Olahraga Nasional

BRI Raih Penghargaan Kemenpora, Perkuat Komitmen Majukan Industri Olahraga Nasional

Lampung | Rabu, 16 September 2026 | 13:03 WIB

PORTA by Ambarrukmo Hadirkan Pameran Eksperimental Photography "Somewhere Blue" by Nia Nanoka

PORTA by Ambarrukmo Hadirkan Pameran Eksperimental Photography "Somewhere Blue" by Nia Nanoka

Jogja | Rabu, 16 September 2026 | 13:01 WIB

Pelemparan Terjadi di Persija Jakarta vs Persib, I.League Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus

Pelemparan Terjadi di Persija Jakarta vs Persib, I.League Tegaskan Tak Ada Perlakuan Khusus

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 13:01 WIB

Dukung Kemajuan Olahraga Nasional, BRI Raih Penghargaan Indonesia Sports Industry of the Year 2026

Dukung Kemajuan Olahraga Nasional, BRI Raih Penghargaan Indonesia Sports Industry of the Year 2026

Bekaci | Rabu, 16 September 2026 | 13:00 WIB

Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?

Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 13:00 WIB

BRI Sabet Indonesia Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Kemajuan Olahraga Indonesia

BRI Sabet Indonesia Sports Industry of the Year 2026, Konsisten Dukung Kemajuan Olahraga Indonesia

Bogor | Rabu, 16 September 2026 | 12:57 WIB

×