Seorang peserta panik karena dompet berisi paspor dan uang raib entah ke mana. Mau tak mau, Zusy harus sigap: menenangkan tamu, urus laporan polisi, cek CCTV, bahkan hubungi KBRI di Madrid.
Di saat yang sama, dia tetap pastikan rombongan tur lainnya tetap happy.
Menurutnya, TL itu harus multitasking, sabar, juga problem solver di segala situasi.
Belum cukup, ada juga kejadian 'horror' di padang savana Afrika. Saat mobil tur mereka didekati singa, suasana mendadak mencekam.
"Mirip adegan film Revenant, tapi Leonardo DiCaprio nggak sendirian,” kenangnya.
Tapi Kak Zusy tahu: TL nggak boleh panik. Dengan tenang, ia memberi tanda ke ranger untuk pengamanan ekstra.
"Kalau kita panik, tamu makin stres," ujarnya sambil tersenyum.
Membangun Bisnis Travel Impian
Berbekal semua pengalaman suka duka itu, Kak Zusy akhirnya membangun bisnis travel impiannya, Jalan Langit.
Ia sadar, tak selamanya bisa jadi TL di lapangan, tapi bisa tetap berbagi lewat bisnis travel yang menawarkan private trip, itinerary fleksibel, dan pengalaman personal untuk tiap klien.
"Saya nggak jual murah, saya jual pengalaman," kata perempuan yang telah mendapat sertifikasi tour leader international dari Pramindo dan peraih penghargaan the best tour leader dalam ajang pelatihan tour leader Indonesia serta peraih Certified Professional Tour Leader tahun 2022 itu.
Media sosial pun jadi senjatanya, lewat akun @JalanLangit_tour yang kian dikenal di kalangan pelancong.
Awalnya sulit — modal kecil, klien minim. Tapi pengalaman sebagai TL jadi aset utamanya.
"Saya tahu apa yang dicari turis, saya ngerti mood orang jalan-jalan," katanya.
Lambat laun, kepercayaan datang, repeat order bertambah, bahkan perusahaan besar mulai pesan paket group trip lewat usahanya.
"Paling senang kalau klien balik lagi atau ngerekomendasiin ke teman. Itu bukti nyata usaha ini dipercaya," imbuhnya bangga.
Kini, Kak Zusy tak cuma dikenal sebagai TL senior, tapi juga pengusaha travel yang berhasil. Namun baginya, perjalanan belum selesai.
"Industri ini terus berubah. Saya tetap harus belajar, upgrade skill, dan tetap mendengarkan kebutuhan wisatawan," ujarnya bijak.
Jadi tour leader memang penuh suka duka. Dari menghadapi singa Afrika sampai copet di Eropa, dari bantu klien panik sampai membuat itinerary sempurna. Tapi dari semua tantangan itu, Kak Zusy justru menemukan makna: bahwa traveling bukan cuma soal pemandangan indah, tapi juga soal menemani orang lain menciptakan kenangan seumur hidup.
“Saya merasa puas ketika bisa menjadi bagian dari kenangan indah yang mereka ciptakan selama tur sejak awal dan akhir perjalanan," pungkas Kak Zusy yang telah bergabung dalam organisasi Tour Leader Indonesia yakni ITLA selama hampir satu dekade ini.