Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim

Rendy Adrikni Sadikin

Selasa, 17 Juni 2025 | 09:40 WIB
Inovasi Sayuran dan Pupuk Organik ala Petani Tegalsari Perangi Krisis Iklim
Ketua KUB Sarimulyo Ngarimin dan kebun pembelajaran di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)

Suara.com - "Untuk menjadi lebih baik berarti berubah; untuk menjadi sempurna berarti sering berubah.” Kutipan dari eks Perdana Menteri Inggris Winston Churchill ini, layak disematkan untuk anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sarimulyo. Melalui jalan perubahan, mereka menabuh genderang perang melawan krisis iklim.

Cuaca kekinian memang tidak menentu. Penyebabnya perubahan iklim yang terjadi. Thus, sekelompok petani di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pun mulai menanam sayuran alih-alih bertani jagung. Hebatnya, mereka menggunakan pupuk organik buatan sendiri!

Langkah perubahan ini di antaranya dipelopori oleh Ketua KUB Sarimulyo, Ngarimin, 52 tahun dan Fandoli, 49 tahun. Mereka menghibahkan lahan pribadi seluas 0,5 hektare atau 5.000 meter persegi untuk dikelola secara komunal oleh KUB Sarimulyo. Lahan itu dinamakan sebagai ‘Kebun Pembelajaran’. Di sana, mereka bereksperimen dengan menanam sayuran.

Ditemui di kebun pembelajaran beberapa waktu silam, Ngarimin selaku ketua KUB Sarimulyo, menjelaskan keputusan perlahan beralih dari jagung ke sayuran diambil. Dia beralasan tanaman sayur lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Hasilnya pun lebih cepat. Jagung hanya bisa dipanen 3-4 bulan sekali. Sementara, kuantitas panen sayuran bisa lebih tinggi dari itu.

“Kami beralih ke sayuran seperti terong, kacang panjang, dan labu madu karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan cepat panen. Selain itu, sayur lebih fleksibel dikelola secara gotong royong. Ini membuat kami lebih mandiri dan saling mendukung di tengah kesulitan,” ujar Ngarimin.

Tak hanya menanam sayuran, bertempat di lahan pembelajaran tersebut, para anggota juga memproduksi sendiri pupuk organik cair (POC) dari bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar rumah. Ada enam jenis, mulai dari POC Oyot Pring, Biourine, Biopestisida, Rumen, Lindi hingga Bioactivator. Harganya pun beragam dari Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.

Keenam POC tersebut memiliki kegunaannya masing-masing. POC Biourine, misalnya, biasa digunakan para petani untuk merangsang serta mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Sementara, POC jenis Lindi biasanya digunakan untuk menjaga kualitas tanah serta mengurangi ketergantungan dengan pupuk kimia.

Ngarimin mengakui, “Pupuk ini lebih murah, tidak mencemari tanah, dan hasilnya nyata. Tanaman lebih sehat, hijau, dan cepat tumbuh. Kami juga tidak lagi tergantung pada pupuk kimia dari luar. Ini penting untuk menjaga tanah tetap subur dalam jangka panjang.”

Memang, tanah yang terkena pupuk dengan bahan kimia cenderung lebih kering dan tidak subur cum gembur. Bahkan, berdasarkan pantauan jurnalis di lapangan, beberapa ruas tanah cenderung berwarna merah. Teksturnya terlihat pecah-pecah, persis seperti tanah yang tengah terimbas kekeringan.

baca juga
Tempat pembuatan pupuk organik cair di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)
Tempat pembuatan pupuk organik cair di Dusun Tegalsari, Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.(Suara.com/Rendy Adrikni Sadikin)

Tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan tanah, Salah satu penggagas kegiatan ini, Fandoli, menambahkan hasil dari pertanian organik ternyata jauh lebih menjanjikan ketimbang dibandingkan pola tanam jagung yang selama ini dilakukan.

“Sayur bisa dipanen lebih sering. Jagung butuh empat bulan, belum tentu untung. Sekarang dapur kami lebih terjamin isinya. Anak istri ikut merasakan manfaat langsung,” kata pria yang kerap menjadi juru bicara KUB Sarimulyo.

Kegiatan bertani ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru dari hasil penjualan produk pertanian dan pupuk organik. Ya, kata Ngarimin, anggota KUB Sarimulyo tidak memperoleh pupuk dengan cuma-cuma. Mereka diwajibkan untuk membeli. Nantinya, penghasilan dari pupuk untuk mengisi kas kelompok.

“Kami atur hasil penjualan (pupuk organik cair–RED) masuk kas kelompok supaya bisa beli bibit atau alat tanam bersama. Kami ingin usaha ini terus berkembang dan bisa menghidupi lebih banyak keluarga,” terang Ngarimin.

Berdasarkan pengakuan Ngarimin, warga sekitar awalnya masih ragu terhadap metode baru tersebut. Maklum, perubahan terkadang terasa asing dan menakutkan, terlebih mereka sudah merasa cukup dengan bercocok tanam jagung. Kendati begitu, lambat laun mereka mulai menunjukkan minat setelah melihat hasilnya.

Ngarimin mengatakan, “Awalnya banyak (Warga–RED) yang tidak percaya (dengan hasil dari pupuk organik–RED). Tapi begitu lihat hasilnya, banyak yang tertarik ikut (menanam dan menggunakan pupuk organik–RED). Sekarang bahkan ada warga dari dusun tetangga yang datang belajar ke sini.”

Keberhasilan inisiatif tersebut tentunya tak lepas dari dukungan dan peran dari Yayasan Rebo Ijo. Yayasan tersebut menginisiasi program pertanian ramah iklim berbasis komunitas ini, terutama di KUB Sarimulyo, sejak akhir tahun 2023.

Eko Maryanto, 56 tahun, selaku Ketua Yayasan Rebo Ijo berujar, “Kami hanya memantik. Yang menjalankan adalah warga. Kini mereka tidak perlu lagi berutang untuk makan. Ini bukan sekadar pertanian, tapi cara membangun kemandirian dan martabat warga melalui ekosistem yang sehat.”

Adapun program ini merupakan bagian dari kemitraan Yayasan Rebo Ijo bersama Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, yang mendukung inisiatif masyarakat sipil dalam adaptasi perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup di tingkat lokal.

Inisiatif ini menunjukkan bagaimana adaptasi terhadap perubahan iklim bisa dilakukan dari tingkat lokal. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, petani Tegalsari membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan bisa menjadi solusi masa depan.(*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Petani Kesulitan Dapat Pupuk Subsidi, Legislator NasDem Ultimatum Agen: Jangan Nakal Mainkan Harga!

Petani Kesulitan Dapat Pupuk Subsidi, Legislator NasDem Ultimatum Agen: Jangan Nakal Mainkan Harga!

News | Sabtu, 14 Juni 2025 | 20:55 WIB

Nelayan dan Petani Cilacap Manfaatkan Energi Ramah Lingkungan

Nelayan dan Petani Cilacap Manfaatkan Energi Ramah Lingkungan

Bisnis | Rabu, 11 Juni 2025 | 15:08 WIB

Inklusivitas dalam Setiap Teguk di Kopi Difabis

Inklusivitas dalam Setiap Teguk di Kopi Difabis

Foto | Senin, 09 Juni 2025 | 18:54 WIB

Infrastruktur Irigasi Selalu jadi Persoalan Pertanian RI

Infrastruktur Irigasi Selalu jadi Persoalan Pertanian RI

Bisnis | Kamis, 05 Juni 2025 | 08:12 WIB

Era Prabowo Surplus Beras, Ini Tantangan Titiek Soeharto ke Pemerintah Agar Petani Sejahtera

Era Prabowo Surplus Beras, Ini Tantangan Titiek Soeharto ke Pemerintah Agar Petani Sejahtera

News | Selasa, 03 Juni 2025 | 15:00 WIB

Terkini

Enam Karya Gen Z Raih Penghargaan Video Terbaik di Youth Economic Summit 2026

Enam Karya Gen Z Raih Penghargaan Video Terbaik di Youth Economic Summit 2026

Bisnis | Minggu, 08 November 2026 | 01:24 WIB

Dunia Kerja yang Semakin Keras Bukan Ancaman bagi Gen Z

Dunia Kerja yang Semakin Keras Bukan Ancaman bagi Gen Z

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 23:07 WIB

PTUN Batalkan Penggolongan Tarif Air Kalibata City sebagai Rumah Susun Menengah

PTUN Batalkan Penggolongan Tarif Air Kalibata City sebagai Rumah Susun Menengah

News | Sabtu, 07 November 2026 | 22:50 WIB

PDIP Ajak Generasi Muda Teladani Semangat Perjuangan Bung Karno Lewat Soekarno Run 2026

PDIP Ajak Generasi Muda Teladani Semangat Perjuangan Bung Karno Lewat Soekarno Run 2026

News | Sabtu, 07 November 2026 | 22:50 WIB

4 Cara Mengecek E-Meterai Asli, Perhatikan Ciri-ciri yang Palsu!

4 Cara Mengecek E-Meterai Asli, Perhatikan Ciri-ciri yang Palsu!

Tekno | Sabtu, 07 November 2026 | 22:50 WIB

Menko Airlangga Klaim Kasus Sadap Presiden Bisa Berdampak ke Ekonomi Negara

Menko Airlangga Klaim Kasus Sadap Presiden Bisa Berdampak ke Ekonomi Negara

Video | Sabtu, 07 November 2026 | 22:45 WIB

Kebakaran di Hall Selatan Stasiun Gambir, KAI Pastikan Perjalanan Kereta Tak Terganggu

Kebakaran di Hall Selatan Stasiun Gambir, KAI Pastikan Perjalanan Kereta Tak Terganggu

News | Sabtu, 07 November 2026 | 22:41 WIB

Cara Membeli E-Meterai Online untuk Persiapan CPNS 2026, Jangan Sampai Kehabisan!

Cara Membeli E-Meterai Online untuk Persiapan CPNS 2026, Jangan Sampai Kehabisan!

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 22:30 WIB

Literasi Keuangan Sumbar Masih 76,6 Persen, Easycash Sasar Mahasiswa dan UMKM

Literasi Keuangan Sumbar Masih 76,6 Persen, Easycash Sasar Mahasiswa dan UMKM

Sumbar | Sabtu, 07 November 2026 | 22:15 WIB

DPP AMPI Tegaskan Soliditas, Tegak Lurus Dukung Kepemimpinan Bahlil Lahadalia di Partai Golkar

DPP AMPI Tegaskan Soliditas, Tegak Lurus Dukung Kepemimpinan Bahlil Lahadalia di Partai Golkar

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 22:07 WIB

×