Makna Sakral Gendhing Raja Manggala, Iringi Sultan HB X saat Temui Pendemo di Jogja

Nur Khotimah

Minggu, 31 Agustus 2025 | 15:28 WIB
Makna Sakral Gendhing Raja Manggala, Iringi Sultan HB X saat Temui Pendemo di Jogja
Sri Sultan HB X menyampaikan pesannya terhadap massa aksi di Mapolda DIY, Sabtu (30/8/2025). [Hiskia/Suarajogja]
Baca 10 detik
  • Sultan HB X menemui pendemo di Polda DIY pada Sabtu (30/8/2025) dini hari.
  • Kedatangan Sultan HB X diiringi dengan Gendhing Raja Manggala yang langsung mencuri perhatian publik.
  • Setelah ditelusuri, Gendhing Raja Manggala memiliki makna yang sakral.

Suara.com - Massa aksi menyambut kedatangan Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X), Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), pada Sabtu (30/8/2025) dini hari di halaman Mapolda DIY.

Menariknya, ada Gendhing Raja Manggala yang disebut-sebut mengiringi Sang Sultan ketika menemui ribuan massa aksi yang memenuhi kawasan Ring Road. 

Dalam video yang beredar, terlihat Sultan turun dari mobil berplat AB 10 HB bersama putri-putrinya, yaitu GKR Condrokirono, putri keempatnya GKR Hayu, serta menantunya KPH Yudanegara.

Mobil yang membawa Sultan beserta keluarga membelah lautan manusia, disambut penuh perhatian oleh para demonstran yang sedang menuntut keadilan.

Di hadapan massa, Sultan HB X menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang meninggal dalam peristiwa di Jakarta.

Lebih jauh, Sultan menekankan pentingnya menjaga demokrasi di Yogyakarta agar berjalan tanpa kekerasan.

Ia menegaskan, Yogyakarta memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan persoalan dengan cara damai, sehingga semestinya semangat itu tetap dijaga.

Tidak hanya fokus pada kemunculan Sultan HB X, warga yang mengikuti berita melalui sosial media ikut tertarik ingin mengetahui apa makna lantunan Gendhing Raja Manggala di antara momen Sultan HB X ketika menemui massa aksi.

Berdasarkan narasi yang beredar di sosial media, alunan gamelan tersebut mengiringi Sultan sejak tiba hingga berada di area Mapolda DIY. 

baca juga

Apa Itu Gendhing Raja Manggala?

Berdasarkan situs Keraton Jogja, Gendhing Raja Manggala merupakan salah satu dari empat musik sakral di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Musik tersebut tergolong musik kehormatan sehingga memiliki kedudukan istimewa dalam tlatah budaya dan seni Keraton. 

Alunan Gendhing Raja Manggala biasanya akan dibunyikan untuk menghormati Sultan saat miyos dalem, artinya ketika Sultan keluar dari kediaman untuk menghadiri acara penting atau menerima tamu kerajaan.

Sesuai maknanya, Gendhing Raja Manggala bermakna sebagai penghormatan terhadap raja utama atau pemimpin agung. 

Penyajian resminya diawali dengan seruan khas seorang abdi dalem, "Rausss!". Begitu seruan terdengar, gamelan pun mulai mengalun.

Gending ini dibuka dengan buka bonang, lalu masuk ke irama I pada bagian umpak gendhing. Ketika Sultan sudah lenggah dhampar (duduk di singgasana), irama berubah menjadi irama II, sebelum akhirnya berlanjut ke bagian ngelik dengan lantunan syair koor hingga suwuk atau berhenti.

Dengan alunan gamelan tersebut, suasana menjadi khidmat. Musik bukan sekadar hiburan, melainkan simbol bahwa Sultan hadir sebagai pemimpin yang dihormati rakyatnya.

Selain Raja Manggala, Keraton Yogyakarta memiliki tiga gendhing lain yang juga digunakan sebagai musik kehormatan, yaitu:

  • Gendhing Prabu Mataram
  • Gendhing Tedhak Saking
  • Gendhing Sri Kondur

Gendhing Prabu Mataram dan Sri Kondur digubah oleh K.R.T Wiroguno, maestro karawitan Jawa pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII dan VIII.

Sedangkan pencipta Gendhing Raja Manggala dan Tedhak Saking tidak diketahui secara pasti, karena diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.

Keempat gending tersebut sama-sama masuk dalam kategori Gendhing Kurmat Dalem, yang dilantunkan khusus untuk mengiringi Sultan saat Miyos Dalem, artinya keluar menghadiri acara adat atau menerima tamu maupun Jengkar Dalem artinya bangkit dari dhampar untuk kembali ke kediaman.

Dari Keraton ke Diplomasi Modern

Gendhing Raja Manggala bukan hanya sakral di dalam tembok keraton, tapi juga pernah diperdengarkan dalam berbagai peristiwa diplomatik modern.

Pada tahun 2008, ketika Pangeran Charles yang kini menjadi Raja Charles III berkunjung ke Yogyakarta, kedatangannya diiringi Raja Manggala Pelog Patet 5.

Prosesi penyambutan berlangsung khidmat, dengan Sultan HB X menyambut langsung di Gapura Brojonolo, disertai barisan prajurit Mantrijero.

Setelah itu, perbincangan resmi dilakukan di Gedhong Jene dengan tema pluralitas dan keberagaman.

Tak hanya itu, Gendhing Raja Manggala juga pernah mengiringi acara kenegaraan tingkat nasional. Pada pembukaan Sidang Istimewa Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI 2023, Presiden Joko Widodo memasuki Assembly Hall Convention Center, Senayan, Jakarta, dengan iringan gamelan Ladran Raja Manggala.

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa musik keraton Yogyakarta tidak hanya berfungsi dalam lingkup tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya di tingkat nasional maupun internasional.

Simbol Kepemimpinan dan Kehormatan

Dalam budaya Jawa, kata "Raja Manggala" bermakna pemimpin utama atau pengayom yang memberi arah bagi rakyatnya.

Oleh sebab itu, musik ini menjadi simbol legitimasi kekuasaan sekaligus penghormatan terhadap raja yang sedang bertakhta.

Kehadirannya dalam peristiwa kontemporer seperti Sultan HB X menemui massa aksi di Mapolda DIY mengingatkan bahwa nilai-nilai tradisi masih tetap hidup.

Di tengah situasi penuh ketegangan, alunan gamelan mampu menciptakan ruang damai dan menghadirkan kewibawaan tanpa perlu kata-kata berlebih.

Sebagaimana dikutip dari laman Kraton Jogja, "Gending kehormatan adalah lagu khusus untuk menghormati Sultan, dimainkan dengan gamelan, dan diwariskan sebagai bagian dari tata upacara keraton."

Dengan demikian, Gendhing Raja Manggala bukan hanya musik seremonial, melainkan warisan budaya yang menyatukan sejarah, tradisi, dan legitimasi politik.

Dari keraton hingga ruang sidang Mahkamah Agung, dari penyambutan tamu kerajaan hingga menghadapi massa aksi, gending ini selalu hadir sebagai simbol keagungan dan keteguhan kepemimpinan Jawa.

Demikian itu penjelasan akan makna Gendhing Raja Manggala, semoga dapat dipahami. 

Kontributor : Mutaya Saroh

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Momen Sri Sultan HB X Datangi Mapolda DIY dan Dialog dengan Perwakilan Demonstran

Momen Sri Sultan HB X Datangi Mapolda DIY dan Dialog dengan Perwakilan Demonstran

Video | Sabtu, 30 Agustus 2025 | 12:00 WIB

Diiringi Gending Keraton, Sri Sultan Temui Massa Pengunjuk Rasa di Mapolda DIY Semalam

Diiringi Gending Keraton, Sri Sultan Temui Massa Pengunjuk Rasa di Mapolda DIY Semalam

Video | Sabtu, 30 Agustus 2025 | 11:02 WIB

Heboh Video Ricuh di Polda Metro Jaya: Pengacara Publik Diusir Paksa saat Minta Anak-anak Dibebaskan

Heboh Video Ricuh di Polda Metro Jaya: Pengacara Publik Diusir Paksa saat Minta Anak-anak Dibebaskan

News | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 13:05 WIB

Terkini

Depok Buka Kuota Gratis Kerjaan Sopir di Jepang untuk 1.000 Warga

Depok Buka Kuota Gratis Kerjaan Sopir di Jepang untuk 1.000 Warga

Bogor | Selasa, 01 September 2026 | 23:12 WIB

Gunung Gede Pangrango Tutup Pendakian Sampai Waktu yang Belum Ditentukan

Gunung Gede Pangrango Tutup Pendakian Sampai Waktu yang Belum Ditentukan

Jabar | Selasa, 01 September 2026 | 23:01 WIB

Gandeng Konsultan ITB Tangani Banjir, Bupati Serang Minta Langkah Ini Diduplikasi

Gandeng Konsultan ITB Tangani Banjir, Bupati Serang Minta Langkah Ini Diduplikasi

Banten | Selasa, 01 September 2026 | 22:53 WIB

Wakil Ketua DPRD Jabar Iwan Suryawan Dorong Efisiensi BTT APBD untuk AI Karhutla

Wakil Ketua DPRD Jabar Iwan Suryawan Dorong Efisiensi BTT APBD untuk AI Karhutla

Jabar | Selasa, 01 September 2026 | 22:47 WIB

Keracunan Massal Santri Usai Santap MBG Jadi Perhatian Khusus Bupati Sidoarjo

Keracunan Massal Santri Usai Santap MBG Jadi Perhatian Khusus Bupati Sidoarjo

Jatim | Selasa, 01 September 2026 | 22:42 WIB

Aktor Utama di Luar Negeri, Bareskrim Endus Pola Canggih Penyelundupan Narkoba Jalur Laut

Aktor Utama di Luar Negeri, Bareskrim Endus Pola Canggih Penyelundupan Narkoba Jalur Laut

News | Selasa, 01 September 2026 | 22:35 WIB

Jonatan Christie Kejar Poin di China Masters, Tiket World Tour Finals Jadi Target

Jonatan Christie Kejar Poin di China Masters, Tiket World Tour Finals Jadi Target

Sport | Selasa, 01 September 2026 | 22:30 WIB

Ratusan Santri di Sidoarjo Dilarikan ke RS Diduga Keracunan MBG, TNI Amankan TKP

Ratusan Santri di Sidoarjo Dilarikan ke RS Diduga Keracunan MBG, TNI Amankan TKP

News | Selasa, 01 September 2026 | 22:25 WIB

Tersangka Judi Kasino di Sukoharjo Bertambah Jadi 65 Orang

Tersangka Judi Kasino di Sukoharjo Bertambah Jadi 65 Orang

Video | Selasa, 01 September 2026 | 22:25 WIB

Emil Audero Berstatus Pinjaman di Rayo Vallecano? Singkirkan Kiper Portugal dan Argentina

Emil Audero Berstatus Pinjaman di Rayo Vallecano? Singkirkan Kiper Portugal dan Argentina

Bola | Selasa, 01 September 2026 | 22:24 WIB

×