Suara.com - Sosok Ferry Irwandi kini tengah menjadi sorotan setelah opininya di banyak platform mengenai perjuangan masyarakat dengan demonstrasi.
Meski belakangan juga tengah diisukan dengan kabar miring, namun hal yang tidak bisa lepas dari citranya adalah stoikisme yang dianutnya.
"Gue sudah 5 tahun menjalani aliran filsafat Stoikisme dan gue senang banyak teman-teman yang udah menjalani itu tanpa harus menjelaskan secara literal," ujar Ferry Irwandi dalam tayangan YouTube 2018.
Lantas apa itu Stoikisme?
Pada dasarnya, stoikisme adalah sebuah ajaran atau paham yang dianut oleh cukup banyak orang dengan menekankan prinsip keseimbangan hidup.
Aliran filsafat ini banyak mengajarkan penganutnya akan cara mengendalikan diri, sehingga dapat melihat dunia dari dari sudut pandang yang lebih teguh dan tenang.
![Ferry Irwandi [instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/04/48712-ferry-irwandi-instagram.jpg)
Ajaran in sudah ada sejak lama, namun ‘dipopulerkan’ oleh Ferry Irwandi sejak beberapa tahun yang lalu.
Pada beberapa podcast, Ferry sendiri sudah tidak terlalu tampak menyebarkan paham ini sebab ia merasa fasenya untuk menyebarkan informasi tersebut sudah lewat.
Mengenal Lebih Jauh Apa Itu Stoikisme
Jika dilihat lebih jauh, stoikisme berasal dari bahasa Yunani, yakni stoikos atau stoa. Istilah ini merujuk pada Stoa Poikile yakni sebuah sekolah filsafat yang ada di Athena, tempat Zeno, seorang filsuf terkemuka dari Citium memberikan pengaruh besar bagi dunia sekitar tahun 301 SM.
Pada proses penyebaran ilmunya, Zeno hanya duduk berbicara di area teras pendopo yang letaknya jauh dari keramaian pasar. Pendekatan ini adalah cara yang digunakan untuk membangun kelasnya sendiri, yang kemudian memberikan nama ajaran yang dibawanya dengan sebutan stoikisme.
Stoikisme merujuk pada bundaran tiang yang menopang teras tempat Zeno mengadakan diskusi dan ceramah.
Nantinya, apa yang disampaikan Zeno ini menjadi salah satu dasar pengembangan ajaran stoikisme yang dilanjutkan pula oleh Chrysippus, Cleathes, Panaetius, Posidonius, dan berkembang ke dalam bentuk stoikiome romawi yang dipengaruhi oleh pemikiran Lucius Annaeus Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius yang terkenal.
Menurut buku yang ditulis oleh A. Setyo Wibowo berjudul Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme, masyarakat cenderung lebih fokus pada aspek yang ada di luar jangkauan dan kendali mereka.
Pada kenyataannya, untuk mencapai kebahagiaan, kekuatan diri, serta kebijakan, terletak pada kemampuan kita untuk memusatkan perhatian pada hal yang ada di dalam kendali diri sendiri.
Dalam stoikisme, fokus pada apa yang bisa dikontrol adalah pondasi dari kebijaksanaan dan ketenangan batin.
Secara praktis apa yang terjadi dan di luar kendali tidak dapat diubah. Namun kendali penuh atas respon yang kita berikan dapat menjadi ‘senjata’ untuk menghadapi kondisi tidak menyenangkan dengan lebih bijak.
4 Manfaat Stoikisme
Stoikisme yang diterapkan dengan disiplin dapat membawa sedikitnya empat manfaat mendasar dalam kehidupan seseorang.
- Pertama, stoikisme menekankan pentingnya mengelola reaksi emosional pada apa yang terjadi dan di luar kendali. Hal ini memberikan kendali atas perasaan yang dimiliki.
- Kedua, paham ini mendorong seseorang untuk secara teratur merenungkan tindakan serta perilaku setiap hari, untuk dapat membuat keputusan lebih bijaksana di kemudian hari.
- Ketiga, ajaran ini mengajak seseorang untuk membedakan antara hal yang berada di dalam kendali dan di luar kendali, sehingga dapat memisahkan pikiran dengan lebih bijak.
- Keempat, stoikisme mengajarkan pentingnya empati pada orang lain dan melihat kemanusaian dengan lebih ideal.
Ferry Irwandi dan Stoikisme
Sebenarnya Ferry Irwandi sendiri sudah membahas tentang stoikisme sejak lama melalui berbagai platform media sosial. Penjelasannya disampaikan dengan bahasa sederhana, sehingga terasa dekat dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Ferry Irwandi menjelaskan stoikisme menurut pandangannya adalah fokus pada pemahaman dan penerimaan terhadap hal di luar kendali, dan pentingnya mengelola respon emosional pada situasi yang tidak bisa diubah.
Stoikisme tidak berarti menjadi apatis, namun menerima kenyataan dan mengembangkan ketenangan batin dengan pemahaman atas apa yang tidak bisa diubah.
Kontributor : I Made Rendika Ardian