- Iskandar ST menjadi korban salah tangkap oleh pihak kepolisian saat berada di dalam pesawat yang ditumpanginya.
- Ketua NasDem Sumut itu dipaksa turun dari pesawat Garuda Indonesia pada Rabu, 15 Oktober 2025.
- Ia diduga sebagai salah satu tersangka kasus judi online (judol), akan tetapi belakangan diketahui bahwa penangkapan tersebut merupakan kesalahan identitas.
Suara.com - Ketua NasDem Sumatera Utara (Sumut), Iskandar ST, menjadi korban salah tangkap oleh pihak kepolisian saat berada di dalam pesawat yang ditumpanginya.
Ia dipaksa turun dari pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 193 rute Kualanamu–Soekarno Hatta, di Bandara Kualanamu pada Rabu, 15 Oktober 2025.
Iskandar ST diduga sebagai salah satu tersangka kasus judi online (judol), akan tetapi belakangan diketahui bahwa penangkapan tersebut merupakan kesalahan identitas.
Buntut dari kejadian tersebut, Iskandar ST melayangkan somasi terbuka kepada sejumlah pihak karena merasa dipermalukan setelah menjadi korban salah tangkap.
Atas insiden ini, banyak pihak mulai mencari tahu sosok Iskandar ST. Berikut adalah profil lengkapnya.
![Ketua NasDem Sumut, Iskandar ST. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/16/69028-ketua-nasdem-sumut.jpg)
Profil Iskandar ST
Iskandar ST merupakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sumatera Utara (Sumut) periode 2025–2029. Ia resmi menjabat posisi tersebut sejak Mei 2025.
Ia menjadi korban salah tangkap di dalam pesawat yang ditumpanginya di Bandara Internasional Kualanamu. Saat itu, ia sempat diduga sebagai tersangka kasus judi online.
Insiden tersebut terjadi di pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 193 rute Kualanamu–Soekarno Hatta, tepat sebelum pesawat dijadwalkan lepas landas sekitar pukul 19.25 WIB.
Ketika sudah duduk di kursinya dan menunggu waktu keberangkatan, Iskandar ST didatangi oleh sejumlah pria berompi dan berpakaian preman yang mengaku sebagai anggota kepolisian.
Petugas kepolisian yang mendatanginya diketahui berasal dari Polrestabes Medan dan saat itu mereka didampingi oleh petugas Avsec Bandara Kualanamu serta awak kabin Garuda.
"Pada saat itu saya sedang menonton film yang disiapkan maskapai Garuda. Tiba-tiba di samping saya sudah berdiri lima orang," ujar Iskandar dalam video klarifikasinya, dikutip dari unggahan Instagram @nasdemsumut pada Jumat, 17 Oktober 2025.
"Di depannya itu adalah petugas Avsec. Sedangkan ada empat orang di belakang menggunakan seragam dengan rompi, dan ada juga yang berpakaian preman," sambungnya.
Ketua NasDem Sumut itu kemudian diminta turun dari pesawat oleh petugas kepolisian yang mengaku akan melakukan penangkapan.
"Mereka meminta saya untuk turun dari pesawat. Saya tanya, 'Kenapa saya harus turun?' Mereka memaksa, mereka mengatakan ada kepolisian yang akan melakukan penangkapan," bebernya.
"Saya akhirnya keluar dari pesawat karena saya tidak ingin ada kegaduhan di dalam pesawat. Saya tidak ingin mengganggu kenyamanan penumpang lain," lanjutnya.
Setelah turun, Iskandar ST disodori surat perintah atas nama Iskandar dari Polrestabes Medan, yang saat itu tengah menangani kasus scamming dan judi online.
Sementara itu, menurut keterangan dari pihak kepolisian, mereka sedang menyelidiki kasus tersebut yang melibatkan seorang terduga bernama Iskandar.
Setelah melakukan penelusuran, aparat mendeteksi keberadaan seorang pria dengan nama yang sama di Bandara Kualanamu.
Mereka kemudian berkoordinasi dengan pihak bandara untuk melakukan verifikasi identitas.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa mereka tidak berniat melakukan penangkapan, melainkan hanya ingin memastikan apakah pria tersebut adalah sosok yang sedang dicari.
Namun, setelah proses verifikasi dilakukan, dipastikan bahwa Iskandar yang dimaksud bukanlah Iskandar ST, yang merupakan politikus dari Partai NasDem.
Selain itu, surat yang dibawa aparat bukan surat penangkapan, melainkan surat perintah tugas dalam rangka penyelidikan.
Merasa dipermalukan di hadapan publik, Iskandar ST melalui kuasa hukumnya melayangkan somasi terbuka kepada Polrestabes Medan, petugas Avsec, dan kru pesawat Garuda Indonesia.
Menanggapi insiden tersebut, Polda Sumut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas peristiwa salah tangkap yang terjadi di dalam pesawat.