Suara.com - Pernyataan Inara Rusli soal pernikahan janda tanpa wali nikah mendadak ramai diperbincangkan publik.
Dalam sebuah perbincangan yang beredar luas di media sosial, ia menyampaikan keyakinannya bahwa seorang perempuan berstatus janda boleh menikah tanpa wali.
Klaim ini pun menuai pro dan kontra, terutama karena menyangkut rukun nikah dalam Islam yang selama ini dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang baku dan tidak bisa diabaikan.
Lantas, apakah benar dalam Islam seorang janda boleh menikah tanpa wali? Ataukah pernyataan tersebut merupakan pemahaman yang kurang tepat?
Untuk menjawabnya, penting melihat persoalan ini dari sudut pandang fiqih Islam dan hukum pernikahan yang berlaku di Indonesia.
Wali Nikah dalam Islam: Rukun yang Tak Terpisahkan
Dalam hukum Islam, wali nikah memiliki peran penting dan termasuk salah satu rukun pernikahan menurut mayoritas ulama.
Terutama dalam mazhab Syafi’i (yang menjadi rujukan utama umat Islam di Indonesia) kehadiran wali merupakan syarat sahnya akad nikah.
Wali bukan sekadar simbol atau formalitas, melainkan pihak yang mewakili perempuan dalam akad pernikahan sebagai bentuk perlindungan, tanggung jawab, dan keteraturan hukum.
Baca Juga: Tak Pernah Minta Maaf ke Istri Pertama Insanul, Inara Rusli Batal Diundang TV Usai Diprotes
Tanpa wali, akad nikah dinilai tidak memenuhi syarat dan berpotensi tidak sah secara syariat.
Perbedaan Pernikahan Gadis dan Janda: Di Mana Letak Kesalahpahaman?
Salah satu sumber kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa status janda membuat seorang perempuan tidak lagi membutuhkan wali.
Padahal dalam fiqih Islam, perbedaan antara gadis dan janda bukan terletak pada kewajiban wali, melainkan pada hak wali untuk memaksa pernikahan.
Seorang janda memang memiliki hak penuh untuk menyetujui atau menolak calon suami tanpa paksaan wali.
Namun, hak memilih ini tidak menghapus keberadaan wali dalam akad nikah itu sendiri. Dengan kata lain, janda tetap menikah dengan wali, hanya saja wali tidak boleh memaksakan kehendak.