Suara.com - Di Indonesia, praktik ibadah Ramadhan sering kali memiliki sedikit perbedaan teknis antara organisasi Islam yang besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, serta keputusan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama.
Perbedaan ini biasanya bukan pada substansi ibadahnya, melainkan pada metode penetapan awal Ramadhan, jumlah rakaat shalat tarawih, maupun teknis pelaksanaannya.
Shalat tarawih sendiri dilakukan setelah shalat Isya. Bagi warga Muhammadiyah, terdapat tata cara tertentu yang merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis sahih sesuai manhaj tarjih Muhammadiyah.
Lalu, bagaimana tata cara shalat Tarawih menurut Muhammadiyah? Berikut penjelasan lengkapnya.
Pengertian Shalat Tarawih
Shalat Tarawih adalah shalat sunah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadhan. Kata “tarawih” berasal dari bahasa Arab raaha yang berarti istirahat, karena pada masa dahulu para sahabat beristirahat sejenak setelah beberapa rakaat.
Muhammadiyah memandang shalat Tarawih sebagai qiyam Ramadhan, yaitu bagian dari shalat malam yang sangat dianjurkan berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa yang mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Muhammadiyah
Salah satu perbedaan yang sering menjadi perhatian adalah jumlah rakaat. Muhammadiyah menetapkan bahwa shalat Tarawih dilakukan sebanyak 8 rakaat, kemudian ditambah 3 rakaat shalat Witir, sehingga totalnya 11 rakaat.
Dasar penetapan ini merujuk pada hadis riwayat Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah shalat malam, baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari 11 rakaat.
Pelaksanaannya biasanya dilakukan dengan pola:
Baca Juga: Masjid Istiqlal Dipenuhi Jemaah pada Salat Tarawih Perdana Ramadan 1447 Hijriah
- 2 rakaat salam
- 2 rakaat salam
- 2 rakaat salam
- 2 rakaat salam
- Kemudian ditutup dengan 3 rakaat Witir (2 rakaat salam, lalu 1 rakaat salam).
Atau
- 4 rakaat salam
- 4 rakaat salam
- Kemudian ditutup dengan 3 rakaat Witir secara langsung.
Tata Cara Pelaksanaan
Secara umum, tata cara shalat Tarawih Muhammadiyah tidak berbeda dari shalat sunah lainnya. Berikut langkah-langkahnya:
1. Niat
Niat dilakukan di dalam hati. Tidak ada keharusan melafalkan niat secara keras. Contoh niat dalam bahasa Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatat tarawihi rak‘ataini lillahi ta‘ala.
Artinya: “Saya niat shalat sunah Tarawih dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Untuk Witir:
أُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى (untuk dua rakaat pertama)
dan satu rakaat terakhir dengan niat Witir satu rakaat.
2. Takbiratul Ihram
Mengangkat kedua tangan dan membaca “Allahu Akbar”.
3. Membaca Doa Iftitah
Seperti shalat pada umumnya, disunnahkan membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram.
4. Membaca Surah Al-Fatihah
Wajib membaca Surah Al-Fatihah pada setiap rakaat.
5. Membaca Surah Pendek
Setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca surah atau ayat Al-Qur’an. Dalam praktiknya di masjid Muhammadiyah, biasanya imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan agar selama Ramadan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an.
6. Rukuk, I’tidal, Sujud
Gerakan dilakukan sebagaimana shalat biasa, dengan membaca bacaan rukuk, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud.
7. Salam
Setelah dua rakaat, diakhiri dengan salam, kemudian berdiri lagi untuk dua rakaat berikutnya.
Tidak Ada Bacaan Khusus Antar Rakaat
Dalam praktik Muhammadiyah, tidak ada bacaan dzikir tertentu secara berjamaah di antara rakaat Tarawih. Tidak ada pembacaan shalawat atau doa khusus yang dibakukan secara bersama-sama. Jika ingin berdzikir atau berdoa, dilakukan secara pribadi tanpa dipimpin secara khusus.
Hal ini didasarkan pada prinsip kembali kepada praktik Rasulullah SAW yang tidak mencontohkan bacaan khusus berjamaah di sela-sela Tarawih.
Shalat Witir
Setelah 8 rakaat Tarawih, dilanjutkan dengan shalat Witir 3 rakaat. Biasanya dikerjakan dengan pola 2 rakaat salam, lalu 1 rakaat salam.
Pada rakaat terakhir, boleh membaca doa qunut Witir, meskipun dalam praktik Muhammadiyah doa qunut tidak selalu dibaca secara rutin kecuali ada dalil yang kuat atau dalam kondisi tertentu.
Dilakukan Berjamaah atau Sendiri
Shalat Tarawih dapat dilakukan secara berjamaah di masjid maupun sendiri di rumah. Muhammadiyah tidak mewajibkan berjamaah di masjid, namun menganjurkan jika memungkinkan karena memiliki nilai syiar dan kebersamaan umat.
Tata cara shalat Tarawih Muhammadiyah menekankan kesederhanaan dan kesesuaian dengan dalil sahih. Jumlah rakaat yang dipilih adalah 8 rakaat ditambah 3 Witir, tanpa bacaan tambahan yang tidak dicontohkan Nabi.
Kontributor : Dea Nabila