Ketupat sebagai simbol utama dalam Syawalan juga memiliki makna filosofis yang dalam.
Dalam tradisi Jawa, ketupat dimaknai sebagai "laku lepat" yang mencerminkan empat hal, yakni lebar, lebur, luber, dan labur.
Makna tersebut menggambarkan kondisi manusia yang kembali bersih setelah Ramadan. Selain itu, ketupat juga melambangkan kebahagiaan serta harapan akan keberkahan yang melimpah.
Hingga kini, Syawalan tetap menjadi tradisi yang lestari di Indonesia.
Perpaduan nilai religius dan budaya membuatnya tidak hanya bermakna spiritual, tapi juga memperkuat keharmonisan sosial di masyarakat.
Kontributor : Rizky Melinda