Suara.com - Istilah Musk tengah viral belakangan ini. Musk yang dimaksud adalah jenis parfum yang konon katanya sangat mahal karena susah didapat.
Musk adalah bahan aromatik klasik yang sudah digunakan sejak lama dalam dunia parfum.
Aromanya dikenal kuat, hangat, dan khas, dengan sentuhan nuansa alami yang sedikit “hewanis”.
Karakter ini membuat musk sangat efektif untuk memperkuat aroma parfum sekaligus memperpanjang ketahanannya di kulit.
Dahulu, musk diperoleh dari kelenjar khusus pada rusa jantan jenis tertentu. Namun karena alasan etika dan pelestarian lingkungan, saat ini sebagian besar musk yang digunakan adalah versi sintetis.
Meski buatan, kualitas dan efek aromanya tetap mampu menyaingi musk alami, sehingga banyak dipakai dalam industri parfum dan kosmetik modern.
Secara tradisional, minyak ini diperoleh dari sekresi kelenjar rusa kesturi jantan, yang memberikan esensi hewani yang kaya dan berfungsi sebagai pengikat, meningkatkan daya tahan wewangian.
Seiring munculnya pertimbangan etis dan ekonomi pada akhir abad ke-19, industri ini beralih ke alternatif sintetis dan nabati, memperluas definisi musk untuk mencakup berbagai sumber tersebut.
Terlepas dari evolusi ini, daya tarik misterius dari aroma musk yang kompleks dan bersahaja tetap bertahan, dan tetap menjadi elemen penting dalam komposisi wewangian kontemporer.

Sejarah singkat musk
Penggunaan musk sudah dikenal sejak lebih dari seribu tahun lalu. Awalnya, zat ini diambil dari kelenjar rusa kesturi, hewan kecil yang hidup di daerah pegunungan seperti Siberia hingga Himalaya.
Nama “musk” sendiri berasal dari bahasa kuno yang merujuk pada bagian tubuh tempat zat ini dihasilkan.
Karena tingginya permintaan, perburuan besar-besaran sempat terjadi dan menyebabkan populasi rusa kesturi menurun drastis.
Pada abad ke-20, puluhan ribu hewan dibunuh demi mendapatkan musk. Akibatnya, spesies ini sempat terancam punah dan harga musk alami menjadi sangat mahal.
Kini, rusa kesturi dilindungi dan sebagian dibudidayakan secara khusus. Selain itu, metode ekstraksi tanpa membunuh hewan juga mulai diterapkan, meskipun penggunaannya tetap terbatas.