Suara.com - Kasus dugaan pelecehan sesama jenis yang melibatkan pendakwah Syekh Ahmad Al Misry (SAM) kembali mencuat ke publik setelah sempat meredup selama beberapa tahun.
Perkara ini menjadi sorotan karena melibatkan sejumlah santri serta adanya peran penting dari Oki Setiana Dewi dalam mengungkap kembali fakta yang sebelumnya dianggap telah selesai.
Kasus Dugaan Pelecehan oleh Syekh Ahmad Al Misry
Kasus ini sebenarnya bukan hal baru. Dugaan pelecehan seksual pertama kali mencuat pada 2021, ketika sejumlah santri mulai mengungkap pengalaman yang mereka alami. Para korban diketahui merupakan santri penghafal Al-Qur’an.
Saat itu, para guru, tokoh agama, dan pihak terkait melakukan tabayyun atau klarifikasi langsung kepada Syekh Ahmad Al Misry. Dalam proses tersebut, yang bersangkutan disebut telah mengakui perbuatannya, meminta maaf, dan berjanji tidak akan mengulanginya.
Karena adanya pengakuan dan permintaan maaf tersebut, kasus ini kemudian dianggap selesai secara internal. Tidak ada langkah hukum lanjutan pada saat itu, dan situasi pun berangsur mereda. Namun, di balik penyelesaian tersebut, ternyata persoalan belum benar-benar berakhir.
Terkuak Kasus Baru pada 2025
Perkembangan penting terjadi pada 2025 ketika Oki Setiana Dewi bertemu dan mewawancarai salah satu korban saat berada di Mesir. Dari percakapan tersebut, muncul pengakuan bahwa dugaan pelecehan masih terus terjadi meskipun sebelumnya pelaku telah berjanji berhenti.
Temuan ini menjadi titik balik dalam kasus tersebut. Oki kemudian segera menghubungi sejumlah ustaz, termasuk Ustaz Abi Makki, untuk menyampaikan informasi yang dinilai sangat serius.
Dari komunikasi tersebut, para tokoh agama menyadari bahwa kasus yang sebelumnya dianggap selesai ternyata masih berlanjut. Mereka kemudian mulai mengumpulkan kembali bukti-bukti serta keterangan dari para korban yang sebelumnya tersebar.
Dalam proses ini, terungkap bahwa jumlah korban mencapai lima orang. Seluruhnya merupakan laki-laki, dengan rentang usia dari di bawah umur hingga dewasa.
Selain itu, muncul pula dugaan bahwa tindakan pelecehan terjadi berulang kali, bahkan disebut dilakukan di berbagai tempat, termasuk di lingkungan ibadah. Para korban disebut berada dalam posisi sulit karena adanya pengaruh otoritas pelaku serta pendekatan yang dibungkus dengan narasi agama.
Modus Syekh Ahmad Al Misry
Dalam pengembangan kasus, terungkap pula dugaan modus yang digunakan pelaku untuk mendekati korban. Salah satunya adalah dengan menawarkan kesempatan pendidikan ke Mesir secara gratis.
Para santri diajak mengikuti kegiatan ceramah, lalu dijanjikan bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Beberapa di antaranya bahkan benar-benar diberangkatkan. Namun, disebutkan bahwa dana tersebut berasal dari sumbangan umat dan jemaah, bukan dari dana pribadi pelaku.