Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 21 April 2026 | 10:13 WIB
Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'
Foto Bersama Dengan Perwakilan Tim Kertabumi Recycling Center (Dok.pribadi/Natasha Suhendra )

Suara.com - Ada satu pertanyaan yang belakangan terus datang tanpa diundang, setiap kali mata saya menangkap plastik berserakan di pinggir jalan atau tersangkut di selokan: ke mana semua ini akan berakhir?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia justru mengeras sejak saya membaca data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, bahwa sekitar 83,75 persen rumah tangga di Indonesia belum memilah sampah. Angka yang terdengar statistik, tapi diam-diam menjelaskan kebiasaan sehari-hari—bahwa sebagian besar dari kita masih mencampur, membuang, lalu selesai.

Di saat yang sama, keluhan tentang banjir, lingkungan rusak, dan kota yang kian sesak oleh limbah terus berulang. Kita marah pada akibat, tapi sering abai pada sebab yang paling dekat: cara kita memperlakukan sampah sejak dari rumah.

Kegelisahan itu akhirnya membawa saya ke sebuah sudut di Tangerang Selatan, ke Kertabumi Recycling Center. Di tempat ini saya melihat, bahwa sampah bisa punya 'nyawa kedua'. 

Pengalaman Berbincang Bersama Tim Kertabumi Recycling Center

Potret Wawancara Bersama Ikbal Alexander (Dok.Pribadi/Natasha Suhendra)
Potret Wawancara Bersama Ikbal Alexander (Dok.Pribadi/Natasha Suhendra)

Hari itu, langit Tangerang tak bisa ditebak. Pagi terasa panas, beberapa jam kemudian hujan turun deras dan meninggalkan genangan di banyak sudut jalan. Cuaca tidak menentu, tapi peliputan tetap berjalan.

Ini liputan pertama saya. Di perjalanan menuju Kertabumi Recycling Center, rasa tegang sempat memuncak, hal yang wajar untuk pengalaman pertama. Namun setibanya di lokasi, suasana langsung berbeda.

Tim Kertabumi menyambut dengan hangat. Obrolan mengalir ringan, tanpa jarak. Di dalam, aktivitas tetap berjalan meski hujan di luar belum benar-benar reda. Mereka menjelaskan proses kerja, menunjukkan bagaimana sampah dipilah, dan sesekali membantu proses dokumentasi. Semuanya dilakukan tanpa kesan terburu-buru.

Di ruang yang dipenuhi hasil olahan limbah, saya berbincang dengan Ikbal Alexander, pendiri sekaligus CEO Kertabumi. Ia bercerita dengan santai tentang awal mula perjalanannya.

Titik balik itu terjadi pada 2017. Saat itu, ia menyelam dengan harapan melihat pari manta. Namun yang ia temukan justru sebaliknya. Sampah plastik mengapung di laut. Pemandangan itu, kata Ikbal, cukup untuk mengubah cara pandangnya terhadap sampah.

baca juga

“Dari pengalaman itu, saya jadi mau berkontribusi terhadap negara dan lingkungan bahwa kita bisa loh untuk mengurangi sampah dari hal yang paling kecil,” ujarnya dengan nada bersemangat dan optimis. 

Berangkat dari keresahan itu, Ikbal Alexander memulai dari ruang yang sederhana, garasi rumahnya. Dari sana, kegiatan kecil mengumpulkan dan memilah sampah perlahan berkembang.

Ia membentuk jaringan warga, merapikan sitem, hingga akhirnya ekosistem bank sampah yang lebih terstruktur terbentuk. 

Di Kertabumi Recycling Center, sampah tidak berakhir sebagai sekadar limbah. Sebagian diolah kembali menjadi produk fungsional, tas dan barang lain yang bisa dipakai.

Bagi Ikbal, yang penting bukan hanya mengumpulkan, tetapi memikirkan kemungkinan berikutnya.

“Fokusnya bukan sekadar ambil lalu kirim. Tapi dipikirkan, ini bisa jadi apa lagi,” ujarnya.

Selama perbincangan, penjelasannya mengalir tanpa banyak jeda. Di luar, hujan masih turun, tapi di dalam ruangan perhatian tertuju pada proses yang sedang dijelaskan—bagaimana sampah dipilah, bagaimana nilainya dibangun kembali.

Ikbal juga terbuka soal tantangan. Menurutnya, persoalan utama bukan pada sistem, melainkan perilaku. Mengajak orang memilah sampah, katanya, tidak bisa instan.

“Ini soal perubahan kebiasaan. Butuh waktu. Setiap orang punya momennya sendiri untuk mulai,” ucapnya.

Untuk mendorong itu, Kertabumi mencoba berbagai cara. Salah satunya dengan mengaitkan keanggotaan bank sampah dengan kemudahan urusan administratif di lingkungan warga. Pendekatan ini terdengar tegas, tapi ditujukan untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih konsisten.

Di balik upaya itu, prosesnya tidak ringan. Namun hingga sekarang, tim Kertabumi tetap menjalankannya. Pelan, berulang, dan terus mencoba mengubah cara orang melihat sampah, dari sesuatu yang dibuang menjadi sesuatu yang bisa dikelola.

Perspektif yang Salah Mengenai Produk Daur Ulang

Proses Pengolahan Limbah oleh Kertabumi Recycling Center ( Dok.pribadi/Natasha Suhendra )
Proses Pengolahan Limbah oleh Kertabumi Recycling Center ( Dok.pribadi/Natasha Suhendra )

Di tengah perbincangan, ada satu momen yang mengubah cara pandang saya. Selama ini, saya terbiasa mengira barang daur ulang seharusnya murah. Logikanya sederhana: bahan dasarnya sampah.

Tapi di Kertabumi Recycling Center, prosesnya tidak sesederhana itu.

Satu kantong plastik dibuka, isinya dipilah satu per satu. Yang masih bisa dipakai dipisahkan, lalu dicuci sampai bersih, dijemur, dicacah, baru kemudian diolah lagi jadi bentuk baru. Semuanya dilakukan berulang, pelan, dan tidak bisa dipercepat begitu saja. Dalam beberapa kasus, satu produk butuh waktu sampai dua hari.

“Buang sampah itu tidak bisa gratis, karena pengolahannya butuh biaya,” kata Ikbal Alexander.

Kalimat itu terasa masuk akal di ruang ini. Di sisi lain, serpihan plastik kecil dikumpulkan lagi ke dalam wadah. Tidak ada yang dibiarkan tercecer lama. Bahkan sisa-sisa kecil pun masih dicari kemungkinan pakainya.

Saya berkeliling ditemani Deri. Ia menjelaskan sambil sesekali berhenti, menunjuk proses yang sedang berjalan.

Di sini, hampir tidak ada sampah yang benar-benar selesai sebagai limbah. Semua masih tengah menunggu untuk diolah agar jadi punya 'nyawa kedua'.

Ketika Cerita Liputan Mengubah Perspektif Pribadi

Potret Foto Bersama dengan Tim Kertabumi Recycling Center (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)
Potret Foto Bersama dengan Tim Kertabumi Recycling Center (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)

Di akhir kunjungan, kami sempat berhenti sejenak. Tim Kertabumi Recycling Center mengajak kami berfoto. Sederhana, tapi hangat. Momen singkat itu jadi salah satu yang paling melekat.

Dalam perjalanan pulang, satu hal terasa jelas bagi saya: urusan sampah tidak berhenti di pemerintah. Ia juga butuh keterlibatan kita—ke kebiasaan kecil, ke pilihan sehari-hari.

Di Kertabumi, saya melihatnya langsung. Dengan proses yang dijaga dan kerja yang konsisten, sampah tidak selalu berakhir di tumpukan. Ia bisa diproses ulang, diberi fungsi, dan—dalam cara tertentu—punya 'nyawa kedua'. 

Mulailah Memilah : Kirim Sampahmu ke Kertabumi Recycling Center !

Potret Nasabah dari Bank Sampah Kertabumi Recycling Center (Instagram/kertabumirecyclingcenter)
Potret Nasabah dari Bank Sampah Kertabumi Recycling Center (Instagram/kertabumirecyclingcenter)

Sekarang, perannya ada di kita. Sampah tidak harus selalu berakhir di TPA atau kembali jadi masalah.

Kita bisa mulai dari hal sederhana: memilah sesuai jenisnya, lalu membersihkannya sebelum dibuang. Langkah kecil, tapi berarti.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Daur Ulang Air Wudhu hingga Panel Surya, Jejak Kampus Muhammadiyah Menuju Transisi Energi

Daur Ulang Air Wudhu hingga Panel Surya, Jejak Kampus Muhammadiyah Menuju Transisi Energi

News | Senin, 20 April 2026 | 22:15 WIB

Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Beralih ke Kemasan Daur Ulang

Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Beralih ke Kemasan Daur Ulang

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 14:12 WIB

Pemerintah AS Kaji Ulang Aturan Daur Ulang Plastik, Lingkungan Terancam?

Pemerintah AS Kaji Ulang Aturan Daur Ulang Plastik, Lingkungan Terancam?

News | Jum'at, 17 April 2026 | 12:20 WIB

Terkini

Review Cherophobia: Takut Bahagia Justru Menjauhkan Kita dari Kebahagiaan

Review Cherophobia: Takut Bahagia Justru Menjauhkan Kita dari Kebahagiaan

Your Say | Kamis, 17 September 2026 | 08:00 WIB

Tembus Pelosok! 90 Dapur Makan Bergizi Gratis Resmi Berdiri di Wilayah 3T Lampung

Tembus Pelosok! 90 Dapur Makan Bergizi Gratis Resmi Berdiri di Wilayah 3T Lampung

Lampung | Kamis, 17 September 2026 | 07:58 WIB

Aturan Saham Gocap Berakhir! BEI Hapus Batas Bawah Harga Menjadi Rp1

Aturan Saham Gocap Berakhir! BEI Hapus Batas Bawah Harga Menjadi Rp1

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 07:51 WIB

Influencer Promosikan Investasi Ilegal Dipanggil OJK, Kode Referral Berhadiah Jadi Sorotan

Influencer Promosikan Investasi Ilegal Dipanggil OJK, Kode Referral Berhadiah Jadi Sorotan

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 07:51 WIB

Berujung Maut! Tertangkap Basah Curi Jeruk, Pria di Banyuwangi Tewas Dihajar Warga

Berujung Maut! Tertangkap Basah Curi Jeruk, Pria di Banyuwangi Tewas Dihajar Warga

Jatim | Kamis, 17 September 2026 | 07:50 WIB

Siswa SMA-SMK di Pekanbaru Diliburkan Gegara Kabut Asap Karhutla

Siswa SMA-SMK di Pekanbaru Diliburkan Gegara Kabut Asap Karhutla

Riau | Kamis, 17 September 2026 | 07:46 WIB

3 Shio yang Menarik Keberuntungan 17 September 2026, Lagi Kebagian Hoki

3 Shio yang Menarik Keberuntungan 17 September 2026, Lagi Kebagian Hoki

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 07:44 WIB

7 Tips Mengemas Bekal di Lunch Box agar Tidak Cepat Basi dan Tetap Enak

7 Tips Mengemas Bekal di Lunch Box agar Tidak Cepat Basi dan Tetap Enak

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 07:42 WIB

Sudah Jadi Cagar Budaya, Eks Stasiun Banjarnegara Dibongkar, KAI Segera Turun Cek Kondisi

Sudah Jadi Cagar Budaya, Eks Stasiun Banjarnegara Dibongkar, KAI Segera Turun Cek Kondisi

Jawa Tengah | Kamis, 17 September 2026 | 07:37 WIB

3 Oven Mini Kompor untuk Rumah Tangga, Lebih Hemat Listrik

3 Oven Mini Kompor untuk Rumah Tangga, Lebih Hemat Listrik

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 07:35 WIB

×