Suara.com - Ada satu pertanyaan yang belakangan terus datang tanpa diundang, setiap kali mata saya menangkap plastik berserakan di pinggir jalan atau tersangkut di selokan: ke mana semua ini akan berakhir?
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia justru mengeras sejak saya membaca data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, bahwa sekitar 83,75 persen rumah tangga di Indonesia belum memilah sampah. Angka yang terdengar statistik, tapi diam-diam menjelaskan kebiasaan sehari-hari—bahwa sebagian besar dari kita masih mencampur, membuang, lalu selesai.
Di saat yang sama, keluhan tentang banjir, lingkungan rusak, dan kota yang kian sesak oleh limbah terus berulang. Kita marah pada akibat, tapi sering abai pada sebab yang paling dekat: cara kita memperlakukan sampah sejak dari rumah.
Kegelisahan itu akhirnya membawa saya ke sebuah sudut di Tangerang Selatan, ke Kertabumi Recycling Center. Di tempat ini saya melihat, bahwa sampah bisa punya 'nyawa kedua'.
Pengalaman Berbincang Bersama Tim Kertabumi Recycling Center

Hari itu, langit Tangerang tak bisa ditebak. Pagi terasa panas, beberapa jam kemudian hujan turun deras dan meninggalkan genangan di banyak sudut jalan. Cuaca tidak menentu, tapi peliputan tetap berjalan.
Ini liputan pertama saya. Di perjalanan menuju Kertabumi Recycling Center, rasa tegang sempat memuncak, hal yang wajar untuk pengalaman pertama. Namun setibanya di lokasi, suasana langsung berbeda.
Tim Kertabumi menyambut dengan hangat. Obrolan mengalir ringan, tanpa jarak. Di dalam, aktivitas tetap berjalan meski hujan di luar belum benar-benar reda. Mereka menjelaskan proses kerja, menunjukkan bagaimana sampah dipilah, dan sesekali membantu proses dokumentasi. Semuanya dilakukan tanpa kesan terburu-buru.
Di ruang yang dipenuhi hasil olahan limbah, saya berbincang dengan Ikbal Alexander, pendiri sekaligus CEO Kertabumi. Ia bercerita dengan santai tentang awal mula perjalanannya.
Titik balik itu terjadi pada 2017. Saat itu, ia menyelam dengan harapan melihat pari manta. Namun yang ia temukan justru sebaliknya. Sampah plastik mengapung di laut. Pemandangan itu, kata Ikbal, cukup untuk mengubah cara pandangnya terhadap sampah.
“Dari pengalaman itu, saya jadi mau berkontribusi terhadap negara dan lingkungan bahwa kita bisa loh untuk mengurangi sampah dari hal yang paling kecil,” ujarnya dengan nada bersemangat dan optimis.
Berangkat dari keresahan itu, Ikbal Alexander memulai dari ruang yang sederhana, garasi rumahnya. Dari sana, kegiatan kecil mengumpulkan dan memilah sampah perlahan berkembang.
Ia membentuk jaringan warga, merapikan sitem, hingga akhirnya ekosistem bank sampah yang lebih terstruktur terbentuk.
Di Kertabumi Recycling Center, sampah tidak berakhir sebagai sekadar limbah. Sebagian diolah kembali menjadi produk fungsional, tas dan barang lain yang bisa dipakai.
Bagi Ikbal, yang penting bukan hanya mengumpulkan, tetapi memikirkan kemungkinan berikutnya.
“Fokusnya bukan sekadar ambil lalu kirim. Tapi dipikirkan, ini bisa jadi apa lagi,” ujarnya.