Suara.com - Ikan sapu-sapu merupakan ikan yang sifatnya invasif. Artinya ikan ini dapat merusak ekosistem air tawar di Indonesia dan mengubahnya. Tapi tahukah Anda sebenarnya ada ikan yang merusak ekosistem selain sapu-sapu?
Sifat invasif yang dimiliki oleh spesies ikan ini sebenarnya berdampak buruk pada ekosistem. Tidak hanya menjadi spesies yang dominan karena tidak memiliki predator alami, namun juga dapat mengganggu keseimbangan yang seharusnya tercipta.
Jumlahnya yang terlalu besar bisa jadi salah satu isu utama, selain tentu sifat merusak lingkungan yang dimilikinya. Lebih lanjut, beberapa ikan yang merusak ekosistem selain sapu-sapu bisa Anda cermati di bawah ini.
1. Red Devil Cichlid
Ikan yang satu ini tergolong sangat agresif. Banyak ditemukan di perairan yang diakses banyak orang seperti waduk dan area-area sejenis, Red Devil sering kali diketahui memakan telur dan burayak ikan asli ekosistem tempat mereka ‘datang’.
2. Ikan Aligator
Ikan aligator termasuk salah satu predator buas yang bisa tumbuh hingga berukuran sangat besar. Ikan ini memangsa hampir semua ikan yang ukurannya lebih kecil, tanpa adanya pemangsa alami di ekosistem perairan Indonesia.
3. Arapaima Gigas
Spesies ini juga memiliki sifat yang sama dengan ikan aligator, dan menjadi apex predator di suatu ekosistem. Arapaima bisa dengan mudah memusnahkan ikan-ikan lokal karena ukurannya yang sangat besar dan sifatnya yang agresif.
4. Ikan Nila dan Ikan Mas
Meski jadi dua jenis ikan yang dagingnya cukup digemari karena dianggap bernutrisi dan lezat, namun pada kenyataannya ikan nila dan ikan mas juga termasuk invasif.
Penyebabnya adalah tingkat perkembangbiakan yang sangat cepat dan dapat merusak habitat dengan mengeruk dasar perairan.
Akibatnya perairan menjadi keruh, dan kondisinya tidak kondusif untuk kehidupan ikan lainnya.
5. Ikan Midas Cichlid
Masih ‘bersaudara’ dengan spesies red devil, ikan ini juga sangat kompetitif dalam perebutan makanan. Tidak jarang ikan-ikan lokal harus kalah dalam persaingan ini dan berkurang jumlahnya secara drastis hingga bahkan terhapus dari ekosistem tempat midas cichlid berada.
6. African Tigerfish
Ikan selanjutnya dikenal juga dengan nama Hydrocynus spp. dan memiliki gigi yang sangat tajam. Sifatnya yang agresif jadi pemangsa utama di perairan lokal bisa mengurangi jumlah populasi ikan lokal secara drastis dalam waktu singkat.
7. Ikan Cere atau Gupi
Ikan ini memiliki tingkat perkembang biakan yang luar biasa cepat dan bisa menggeser ikan kecil lokal. Meski memang tidak seagresif ikan invasif lain, tapi keberadaannya tetap harus dikontrol dengan predator yang memangsanya sehingga jumlah ikan ini terkendali.
Langkah Pencegahan Disiplin demi Kebaikan Bersama
Keberadaan ikan invasif jelas adalah ancaman tersendiri untuk ekosistem lokal. Namun hal ini bisa dicegah sebelum terlambat, dengan beberapa langkah sederhana.
- Pertama, melakukan edukasi di masyarakat. Edukasi bisa dilakukan pada penghobi akuarium dan masyarakat luas untuk tidak melepasliarkan ikan invasif ke perairan umum.
- Kedua, karantina dan pemeriksaan. Pastikan ikan impor atau asing sudah melalui pemeriksaan karantina ketat sesuai dengan regulasi berlaku, UU No. 21 Tahun 2019.
- Ketiga, penjualan terbatas. Lakukan pengaturan dan pelarangan penjualan jenis ikan invasif tertentu di pasar hewan peliharaan.
Itu tadi sedikit penjelasan singkat tentang ikan yang merusak ekosistem selain sapu-sapi. Cukup banyak jenis berbeda harus selalu dicermati, dan langkah pencegahan sebelum terjadinya dominasi di perairan lokal harus dilakukan. Semoga bermanfaat!
Kontributor : I Made Rendika Ardian