- Program AMANAH diluncurkan kembali di Kawasan Industri Aceh, Aceh Besar, untuk mewadahi kreativitas dan inovasi generasi muda.
- Fasilitas tersebut menyediakan ruang kreatif, studio, dan area pengembangan produk guna mendukung potensi sumber daya manusia lokal.
- Pemerintah daerah berharap inisiatif ini dapat menciptakan ekosistem inovatif yang berdaya saing tinggi bagi para pemuda Aceh.
Suara.com - Pengembangan potensi generasi muda di Aceh masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan akses terhadap ruang kreatif, fasilitas inovasi, serta ekosistem yang mampu menjembatani ide-ide anak muda agar berkembang menjadi karya nyata.
Kondisi ini membuat banyak potensi belum sepenuhnya terfasilitasi secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut dijawab lewat peluncuran kembali Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar. Program ini diposisikan sebagai upaya menghadirkan ruang yang lebih terstruktur bagi pengembangan kreativitas dan inovasi generasi muda di Aceh.
Dalam kegiatan relaunching tersebut, berbagai karya anak muda dipamerkan, mulai dari produk UMKM, inovasi teknologi, hingga karya kreatif di sektor digital dan industri lokal. Kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang interaksi antar pelaku muda dari berbagai bidang.

Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, mengatakan keberadaan AMANAH menjadi bagian dari upaya memperkuat sumber daya manusia muda di daerah. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas yang ada untuk pengembangan ide dan keterampilan.
“Ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkembang, berinovasi, dan menciptakan karya yang bermanfaat,” ujarnya.
Direktur AMANAH, Safwan Nurdin, menilai relaunching ini menunjukkan adanya kebutuhan nyata akan ruang kreatif di kalangan anak muda Aceh. Ia berharap fasilitas yang tersedia tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga wadah lahirnya inovasi berkelanjutan.
“Semangat anak muda Aceh hari ini menjadi energi besar untuk terus melahirkan karya,” katanya.
Kegiatan ini turut diisi dengan pelatihan singkat, diskusi, serta interaksi antar peserta dari berbagai latar belakang. Sejumlah fasilitas seperti studio podcast, ruang kreatif, hingga area pengembangan produk lokal juga diperkenalkan sebagai bagian dari ekosistem yang sedang dibangun.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menilai AMANAH dapat menjadi ruang alternatif bagi anak muda untuk mengembangkan potensi mereka di berbagai bidang.
“Fasilitas ini menjadi jawaban atas kebutuhan generasi muda yang ingin berkembang dan berkarya,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan ke depan adalah memastikan AMANAH tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar terhubung dengan kebutuhan komunitas dan industri secara berkelanjutan.
Dengan kembali diaktifkannya program ini, pemerintah daerah berharap AMANAH dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas dalam mendorong lahirnya generasi muda Aceh yang inovatif dan berdaya saing.