Kurangi Emisi Tak Selalu Butuh Teknologi Baru: Pelajaran dari Arsitektur Vernakular di Indonesia

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 10 Juni 2026 | 19:05 WIB
Kurangi Emisi Tak Selalu Butuh Teknologi Baru: Pelajaran dari Arsitektur Vernakular di Indonesia
Potret Arsitektur Vernakular di Kampung Oesosole, Desa Faifua , Nusa Tenggara Timur (Instagram/@arsitekturhijau)

Suara.com - Di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan dan tekanan perubahan iklim, upaya mengurangi emisi sering kali dikaitkan dengan teknologi baru, material modern, atau bangunan berstandar hijau.

Namun, sebagian jawabannya mungkin sudah lama hadir di sekitar kita—melalui rumah-rumah tradisional yang dibangun berdasarkan pengetahuan lokal dan hubungan dekat dengan alam.

Konsep tersebut dikenal sebagai arsitektur vernakular, yaitu pendekatan membangun yang berkembang dari kondisi lingkungan, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Ketua Komunitas Arsitektur Hijau Angkatan 40, Avril Silvio Brasdia, menjelaskan bahwa arsitektur vernakular tidak lahir dari satu standar desain yang seragam.

Bentuk dan karakter bangunan tumbuh dari kebiasaan hidup masyarakat sekaligus kondisi geografis tempat bangunan itu berdiri.

“Biasanya rumah-rumah vernakular ini dibangun berdasarkan apa yang berkembang dari konteks tapak, misalnya bisa dari aktivitas sehari-hari warga di sana, dan budaya yang berkembang di daerah tersebut yang tentunya bisa memberikan nilai lokal pada bangunannya,” ujar Avril.

Karena itu, rumah tradisional di berbagai daerah Indonesia memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang dirancang dengan kolong tinggi untuk menghadapi banjir, ada yang memaksimalkan sirkulasi udara di wilayah tropis, hingga menggunakan bentuk atap tertentu untuk menyesuaikan curah hujan dan suhu setempat.

Mengurangi Emisi Lewat Material yang Lebih Dekat

Di balik bentuknya yang khas, salah satu nilai yang dinilai relevan saat ini adalah penggunaan material lokal.

baca juga

Menurut Avril, bangunan vernakular umumnya memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi pembangunan. Pendekatan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan distribusi bahan bangunan dari wilayah lain yang membutuhkan energi besar.

“Kalau kita mengambil nilai vernakular untuk diterapkan pada bangunan yang akan kita ciptakan, di mana dari segi materialnya berasal dari kekayaan alam sekitar penggunaan material lokal, maka berpotensi memangkas jarak logistik sehingga *carbon footprint* material dapat berkurang,” katanya.

Pendekatan ini menjadi semakin penting karena sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar secara global.

Data yang dirangkum Ecochain dengan mengutip International Energy Agency (IEA) 2023 dan UNEP Global ABC 2022 menunjukkan sektor bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37–39 persen emisi CO global, sementara 7–11 persen di antaranya berasal dari produksi material bangunan**.

Dalam konteks tersebut, penggunaan material lokal dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menekan emisi sejak tahap pembangunan.

Belajar dari Cara Bangunan Beradaptasi dengan Alam

Tidak hanya soal material, arsitektur vernakular juga dinilai unggul karena berkembang melalui proses adaptasi panjang terhadap kondisi iklim.

Bentuk bangunan, arah orientasi rumah, hingga sistem ventilasi biasanya disusun berdasarkan pengalaman masyarakat menghadapi cuaca dan kondisi lingkungan di wilayahnya.

“Kalau untuk bangunan vernakular itu sendiri, jika dilihat bagaimana dari bangunan ini terbangun, dari adaptasinya terhadap kelokalan, tentunya akan lebih tahan terhadap iklim lokal,” ujar Avril.

Di Indonesia yang beriklim tropis, prinsip tersebut terlihat pada banyak rumah tradisional yang menggunakan atap tinggi, bukaan besar, serta ventilasi alami untuk menjaga sirkulasi udara.

Desain seperti ini membantu mengurangi panas di dalam ruangan dan menekan ketergantungan pada pendingin udara yang membutuhkan konsumsi energi besar.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jakarta Baru Punya 5,31 Persen Ruang Terbuka Hijau: Mengapa Warga Turun Tangan Kawal Taman Kota?

Jakarta Baru Punya 5,31 Persen Ruang Terbuka Hijau: Mengapa Warga Turun Tangan Kawal Taman Kota?

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:00 WIB

Prabowo Ungkap Target Besar Kesehatan Nasional, 350 Rumah Sakit Akan Dimodernisasi

Prabowo Ungkap Target Besar Kesehatan Nasional, 350 Rumah Sakit Akan Dimodernisasi

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB

Pertanian Jadi Penyumbang Utama Emisi Metana di Indonesia, Apa Dampaknya bagi Iklim?

Pertanian Jadi Penyumbang Utama Emisi Metana di Indonesia, Apa Dampaknya bagi Iklim?

Lifestyle | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:07 WIB

Terkini

Petaka Bakar Sampah Ditinggal di Manggarai, Bedeng dan Dua Mobil Ludes Terbakar

Petaka Bakar Sampah Ditinggal di Manggarai, Bedeng dan Dua Mobil Ludes Terbakar

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:22 WIB

Kesaksian Quiermo Dumay Usai Dihajar Jhon van Beukering: Berawal dari Kontak Mata Berakhir di UGD

Kesaksian Quiermo Dumay Usai Dihajar Jhon van Beukering: Berawal dari Kontak Mata Berakhir di UGD

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 15:21 WIB

Sudaryono ke Kepala Sekolah dan Guru: Cek Kelayakan Menu MBG Sebelum Sampai ke Meja Siswa

Sudaryono ke Kepala Sekolah dan Guru: Cek Kelayakan Menu MBG Sebelum Sampai ke Meja Siswa

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:15 WIB

6 Airy Sunscreen untuk Pemakai Kacamata agar Frame Hidung Tidak Licin dan Melorot sesuai Review

6 Airy Sunscreen untuk Pemakai Kacamata agar Frame Hidung Tidak Licin dan Melorot sesuai Review

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 15:15 WIB

Day Cream dan Night Cream untuk Flek Hitam, Diformulasikan Adik Oki Setiana Dewi

Day Cream dan Night Cream untuk Flek Hitam, Diformulasikan Adik Oki Setiana Dewi

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 15:11 WIB

Sekilas Sama, Perbedaan Bedak Two Way Cake dengan Bedak Padat Biasa Apa Saja?

Sekilas Sama, Perbedaan Bedak Two Way Cake dengan Bedak Padat Biasa Apa Saja?

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 15:10 WIB

Ini Agenda Kerja Presiden Prabowo di Sulawesi Selatan

Ini Agenda Kerja Presiden Prabowo di Sulawesi Selatan

Sulsel | Rabu, 16 September 2026 | 15:07 WIB

Diumumkan Depan Prabowo, Pramono Tetapkan Tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai Rp8 Selama 8 Hari

Diumumkan Depan Prabowo, Pramono Tetapkan Tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai Rp8 Selama 8 Hari

News | Rabu, 16 September 2026 | 15:07 WIB

Cashmere Fluffy hingga Korduroi Ringan, Material Hangat Jadi Andalan Gaya Fall/Winter 2026

Cashmere Fluffy hingga Korduroi Ringan, Material Hangat Jadi Andalan Gaya Fall/Winter 2026

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 15:06 WIB

5 Pilihan HP Murah Bersertifikasi IP Tinggi Harga Rp2 Jutaan, Anti Air dan Debu Ekstrem!

5 Pilihan HP Murah Bersertifikasi IP Tinggi Harga Rp2 Jutaan, Anti Air dan Debu Ekstrem!

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 15:04 WIB

×