Ini Alasan Ada Gerbong Khusus Perempuan dan Kenapa Letaknya di Belakang

Yasinta Rahmawati

Rabu, 29 April 2026 | 15:14 WIB
Ini Alasan Ada Gerbong Khusus Perempuan dan Kenapa Letaknya di Belakang
Evakuasi korban kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur April 2026. (Dok. Instagram/@kemenhub151)

Suara.com - Masalah gerbong khusus perempuan tengah menjadi perhatian publik setelah insiden kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur.

Dalam insiden itu, gerbong yang mengalami dampak paling parah adalah bagian paling belakang KRL yang diketahui merupakan gerbong khusus perempuan.

Peristiwa tersebut mungkin memunculkan pertanyaan besar di masyarakat: mengapa ada gerbong khusus perempuan dan kenapa posisinya justru berada di bagian belakang rangkaian? Simak penjelasan berikut ini.

Alasan Ada Gerbong Kereta Khusus Perempuan

Warga melihat kondisi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO//Darryl Ramadhan/app/agr]
Warga melihat kondisi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO//Darryl Ramadhan/app/agr]

Kenapa Ada Gerbong Kereta Khusus Perempuan?

Kebijakan menghadirkan gerbong khusus perempuan sebenarnya bukan hal baru. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah memperkenalkan konsep ini sejak sekitar 2010 sebagai bagian upaya meningkatkan rasa aman dan melindungi perempuan dari pelecehan seksual.

Gerbong ini biasanya ditandai dengan warna mencolok seperti pink atau merah muda, serta stiker bertuliskan "khusus wanita". Tujuannya sederhana tapi penting yakni memberikan ruang aman bagi perempuan di tengah padatnya transportasi publik.

Dalam kondisi kereta yang penuh terutama saat jam sibuk, risiko pelecehan seksual meningkat. Situasi berdesakan, minim ruang pribadi, hingga kontak fisik yang tidak diinginkan menjadi alasan utama mengapa kebijakan ini dibuat.

Data global juga memperkuat urgensi kebijakan ini. Survei yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation bersama YouGov menunjukkan bahwa keamanan transportasi sangat memengaruhi mobilitas dan kualitas hidup perempuan, terutama di kota besar.

Selain itu, data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan lonjakan signifikan jumlah penumpang kereta dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekitar 149 juta penumpang pada 2021, angka ini melonjak menjadi lebih dari 500 juta pada 2024. Lonjakan ini membuat kepadatan menjadi tantangan nyata, sehingga solusi seperti gerbong khusus perempuan dianggap relevan.

Kenapa Letaknya di Belakang (dan Depan)?

Penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian baik depan maupun belakang bukan tanpa alasan. Hal ini lebih berkaitan dengan aspek operasional daripada sekadar simbolis.

Pertama, posisi di ujung memudahkan penumpang mengenali lokasi gerbong sejak kereta datang. Dengan begitu, perempuan tidak perlu mencari-cari di tengah kerumunan.

Kedua, dari sisi pengawasan, petugas lebih mudah memantau area yang terlokalisasi. Hal ini penting untuk memastikan aturan tetap dipatuhi dan mencegah pelanggaran.

Ketiga, penempatan di ujung membantu mengatur arus naik dan turun penumpang. Distribusi massa menjadi lebih merata dan tidak menumpuk di satu titik saja.

Operator seperti PT Kereta Api Indonesia juga menyebut bahwa penempatan ini mempermudah kontrol operasional tanpa harus mengubah keseluruhan sistem rangkaian kereta.

Indonesia pun bukan satu-satunya negara yang menerapkan gerbong khusus perempuan. Jepang, India, hingga Brasil juga memiliki kebijakan serupa.

Di Tokyo, misalnya, gerbong perempuan diperkenalkan sejak awal 2000-an sebagai respons terhadap meningkatnya kasus pelecehan di kereta. Fenomena ini biasanya muncul di kota-kota dengan tingkat kepadatan tinggi, di mana mobilitas manusia meningkat lebih cepat dibanding kapasitas infrastruktur.

Usulan Evaluasi Pasca Insiden

Pasca kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat pada Senin (27/4/2026) malam, muncul usulan untuk mengevaluasi posisi gerbong khusus perempuan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke bagian tengah rangkaian demi alasan keselamatan.

Menurutnya, posisi di tengah bisa meminimalkan risiko fatal jika terjadi tabrakan dari depan atau belakang. Namun, usulan ini masih perlu dikaji lebih lanjut karena menyangkut banyak aspek, mulai dari teknis operasional hingga perilaku penumpang.

"Kalau kami ngobrol dengan KAI, alasan gerbong perempuan ditaruh di paling depan dan paling belakang supaya tidak terjadi rebutan," kata Arifah Fauzi.

"Namun dengan peristiwa ini, kami mengusulkan gerbong perempuan ditempatkan di tengah rangkaian, sementara bagian depan dan belakang untuk penumpang laki-laki," lanjutnya.

Di sisi lain, pengamat transportasi menilai bahwa akar masalah dari kecelakaan bukan pada posisi gerbong, melainkan pada sistem jalur dan manajemen lalu lintas kereta yang perlu diperbaiki.

Kronologi Kecelakaan

Kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam melibatkan KRL Commuter Line yang ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Benturan keras tersebut menghantam gerbong paling belakang KRL yang merupakan gerbong khusus perempuan hingga mengalami kerusakan parah dan menimbulkan korban jiwa.

Berdasarkan laporan Tim SAR pada Selasa (28/4/2026), seluruh korban yang dievakuasi dari gerbong terdampak adalah perempuan, sesuai dengan fungsi gerbong tersebut sebagai area khusus wanita.

Rangkaian kejadian bermula dari sebuah taksi listrik yang mogok di perlintasan kereta api, yang kemudian memicu gangguan perjalanan KRL. Dampaknya, salah satu rangkaian KRL tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Saat dalam posisi berhenti itulah KA Argo Bromo Anggrek datang dari arah belakang dan tidak sempat menghindar sehingga tabrakan pun terjadi.

Seluruh sekitar 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat. Sementara itu, dari total 106 korban di pihak KRL (per 29 April), sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Jumlah ini masih berpotensi berubah seiring proses evakuasi dan investigasi yang sedang berlangsung.

Kontributor : Trias Rohmadoni

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gerbong Wanita Disorot Usai Kecelakaan KRL, Salah Posisi atau Salah Sistem?

Gerbong Wanita Disorot Usai Kecelakaan KRL, Salah Posisi atau Salah Sistem?

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:02 WIB

Potret Dirut KAI Bobby Rasyidin Terduduk Lesu di Depan Kereta Ringsek Bikin Pilu

Potret Dirut KAI Bobby Rasyidin Terduduk Lesu di Depan Kereta Ringsek Bikin Pilu

Entertainment | Rabu, 29 April 2026 | 14:07 WIB

Kesaksian Korban Kecelakaan KRL: Nyawa Selamat Berkat Cooler Bag ASI

Kesaksian Korban Kecelakaan KRL: Nyawa Selamat Berkat Cooler Bag ASI

Your Say | Rabu, 29 April 2026 | 13:15 WIB

Terkini

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriah 1448 H: Arab, Latin, hingga Waktu Terbaik Membacanya

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Hijriah 1448 H: Arab, Latin, hingga Waktu Terbaik Membacanya

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 14:42 WIB

Lirik Lagu Menteri Durmagati dan Maknanya, Karya Satir Politik dari Grup Musik Ponorogo

Lirik Lagu Menteri Durmagati dan Maknanya, Karya Satir Politik dari Grup Musik Ponorogo

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 14:05 WIB

5 Lampu Emergency Tahan Lama untuk Antisipasi Listrik Padam, Ada yang Awet 20 Jam

5 Lampu Emergency Tahan Lama untuk Antisipasi Listrik Padam, Ada yang Awet 20 Jam

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 13:27 WIB

Kapan 1 Muharram 1448 H? Ini Tanggal Pastinya Versi Kemenag, Muhammadiyah, dan NU

Kapan 1 Muharram 1448 H? Ini Tanggal Pastinya Versi Kemenag, Muhammadiyah, dan NU

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 13:12 WIB

Profil Ayyoub Bouaddi: Wonderkid 18 Tahun Maroko yang Bersinar di Piala Dunia 2026

Profil Ayyoub Bouaddi: Wonderkid 18 Tahun Maroko yang Bersinar di Piala Dunia 2026

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 13:00 WIB

5 Warna Lipstik yang Tidak Direkomendasikan untuk Pemilik Kulit Sawo Matang

5 Warna Lipstik yang Tidak Direkomendasikan untuk Pemilik Kulit Sawo Matang

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:57 WIB

6 Kandungan Moisturizer yang Ampuh Mencerahkan Kulit, Cek sebelum Beli

6 Kandungan Moisturizer yang Ampuh Mencerahkan Kulit, Cek sebelum Beli

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:56 WIB

Cari Sunscreen Mengandung Kolagen? Ini 4 Pilihan yang Harganya Mulai Rp30 Ribuan

Cari Sunscreen Mengandung Kolagen? Ini 4 Pilihan yang Harganya Mulai Rp30 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:38 WIB

Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026

Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:29 WIB

Jumat Kliwon Weton Tulang Wangi atau Bukan? Simak Penjelasan Om Hao Jelang Malam 1 Suro

Jumat Kliwon Weton Tulang Wangi atau Bukan? Simak Penjelasan Om Hao Jelang Malam 1 Suro

Lifestyle | Minggu, 14 Juni 2026 | 12:10 WIB