- Kereta aling-aling adalah gerbong pelindung benturan yang menyelamatkan nyawa saat terjadi tabrakan darurat.
- Kebijakan era Ignasius Jonan ini memicu pro-kontra hingga pintu gerbong dilas mati demi keamanan.
- Teknologi modern Crash Energy Management (CEM) asal AS jadi solusi ideal pengganti aling-aling tradisional.
Suara.com - Kecelakaan tragis yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur kembali membuka luka lama. Insiden kereta pada akhir April 2026 ini langsung menyita perhatian dan mengejutkan publik.
Namun, ada satu perbincangan menarik yang mencuat di balik tragedi tersebut. Pencinta kereta api mendadak ramai membahas peran vital kereta aling-aling.
Fakta ini membawa kita pada sejarah kelam perkeretaapian yang jarang diketahui penumpang awam. Aling-aling bukan sekadar gerbong kosong, melainkan perisai pelindung nyawa yang dulunya penuh misteri.
Fungsi Krusial Penahan Benturan
Saat naik kereta api beberapa waktu silam, Anda mungkin sering melihat satu gerbong kosong tanpa penumpang. Itulah yang dinamakan kereta aling-aling.
Dalam kamus bahasa Indonesia, aling-aling bermakna pelindung, penahan, atau penyekat. Fungsinya sangat krusial sebagai penyerap energi jika terjadi benturan keras dari depan maupun belakang.
Biasanya, gerbong ini ditempatkan pada ujung paling depan dan paling belakang rangkaian kereta. Idealnya menggunakan gerbong bagasi (B) atau bagasi pembangkit (BP).
Lahir dari Rentetan Sejarah Kelam
Kebijakan aling-aling tidak muncul begitu saja di tubuh PT KAI. Penerapannya dimulai usai kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan Senja Utama Semarang di Petarukan.
Tragedi nahas tersebut merenggut nyawa lebih dari 30 penumpang. Tak lama berselang, kecelakaan serupa di Stasiun Langen juga memakan korban jiwa.
Dua peristiwa memilukan ini memberi pelajaran telak bagi manajemen KAI era kepemimpinan Ignasius Jonan. Langkah antisipasi radikal pun segera diambil demi menjamin keselamatan penumpang.

Drama "Mafia Tiket" dan Julukan Kereta Hantu
Pada masa awal, KAI terpaksa mengorbankan gerbong penumpang eksekutif hingga ekonomi karena keterbatasan gerbong bagasi. Kebijakan ini jelas memicu pro dan kontra.
Kru kereta harus berjibaku melawan rombongan mafia penumpang tanpa tiket. Mereka ini kerap kali oknum pegawai atau aparat yang nekat memaksa masuk gerbong kosong tersebut.
Gagal menahan massa dengan ikatan kawat, KAI mengambil langkah ekstrem yang tak populer. Semua pintu gerbong aling-aling dilas mati dan jendela kacanya diganti pelat baja tebal.
Kondisi gelap, berdebu, dan sangat steril membuat gerbong ini tampak menyeramkan. Penumpang nakal pun ketakutan dan mulai menyebutnya sebagai kereta setan atau kereta hantu.
Sikap Tegas Direksi KAI Tanpa Kompromi
PT KAI tidak pernah main-main soal nyawa dan keselamatan operasional. Julukan angker dibiarkan saja demi tegaknya aturan ketat di lapangan.
Pernah suatu ketika, ratusan oknum berhasil membobol gerbong aling-aling dan stasiun gagal mengatasinya. Direksi langsung bertindak tegas dengan memutasi Kepala Daerah Operasi (Kadaop) di Cirebon.
Direksi menilai Kadaop tersebut gagal mendukung kebijakan keselamatan perusahaan. Seharusnya, gerbong belakang itu dilepas dan ditinggal saja sebagai pelajaran bagi para pengganggu fasilitas umum.
Masa Depan Keselamatan Kereta Api
Kini, KAI patut diacungi jempol karena berhasil melewati masa transisi berdarah tersebut. Kebutuhan gerbong bagasi sebagai pelindung penumpang juga sudah terpenuhi secara bertahap.
Namun, operasional kereta aling-aling konvensional tetap memiliki kelemahan dari sisi teknis dan ekonomis. Dunia luar sudah mulai beralih ke teknologi yang jauh lebih canggih.
Amerika Serikat, misalnya, telah mengembangkan teknologi Crash Energy Management (CEM). Alat penyerap energi tabrakan ini terbukti sangat efektif menekan tingkat kerusakan secara revolusioner.