- Diyah Kusumastuti tawarkan janji fasilitas mewah untuk jerat orang tua korban.
- Pihak Little Aresha manipulasi dokumentasi foto guna tutupi penyiksaan fisik anak.
- Orang tua dilarang cek lokasi saat hari kerja demi sembunyikan kekerasan
Suara.com - Kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, menguak tabir gelap di balik manajemen yayasan yang dipimpin Diyah Kusumastuti (DK).
Sebelum kasus ini meledak, Diyah Kusumastuti, Ketua Yayasan Little Aresha memberikan sejumlah janji manis berupa fasilitas yang mewah, program pembelajaran yang bagus dan jam jemput yang fleksibel kepada orangtua murid.
Brosur dan tawaran yang diberikan Little Aresha terlihat sangat profesional, agamis, dan menjanjikan kenyamanan paripurna.
Namun, siapa sangka di balik janji-janji manis dan foto-foto estetik itu, tersimpan praktik tidak manusiawi.
Berikut deretan taktik manipulasi dan janji fasilitas Little Aresha yang kini berbanding terbalik dengan kenyataan:
1. Janji Rasio Pengasuh Ideal
![Daycare Little Aresha disegel polisi. [Suara.com/Hiskia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/27/90892-daycare-little-aresha.jpg)
Dalam promosinya, Little Aresha menjanjikan rasio pengasuh yang sangat ideal demi keamanan anak:
- Kelas Bayi: 1 pengasuh atau bidan maksimal memegang 2 anak.
- Kelas Toddler: 2 pengasuh maksimal memegang 3-4 anak.
Faktanya, polisi menemukan satu pengasuh memegang 7 hingga 10 anak sekaligus.
Sebanyak 20 anak pun sampai dimasukkan dalam satu ruangan ukuran 3x3 meter dalam kondisi diikat dan tidak memakai baju.
2. Iming-iming Fasilitas Premium dan Islami
Diyah Kusumastuti menjual citra daycare yang sangat lengkap dan sangat mengeedepankan nilai-nilai Islam.
Orang tua mana yang tidak tergiur dengan daftar fasilitas ini:
- Kesehatan & Edukasi: Pemeriksaan dokter gigi, pemeriksaan psikologis, hingga pijat bayi rutin sebulan sekali.
- Kurikulum Mentereng: Program Three Lingual (Bahasa Indonesia, Inggris, dan
Jawa), kelas IT, hingga story telling. - Kegiatan Keagamaan: Murottal Al-Quran tiap hari, salat dhuha bersama, iqro,
dan melatih sedekah sejak dini. - Logistik Lengkap: Ruang ber-AC, paket mandi lengkap, makan siang, dan snack.
3. Taktik Tanpa Denda untuk Jerat Orang Tua Sibuk

Little Aresha juga menjerat orangtua yang aktif beekerja ini ddengan kemudahan jam jemput yang jarang diberikan daycare lainnya.
- Tersedia program penitipan Senin - Jumat dan Seni - Sabtu dari pukul 07.00 - 17.00 WIB dan pukul 07.00 - 18.00 WIB dengan tarif yang berbeda.
- Tidak ada biaya atau denda keterlambatan jemput. Orang tua yang telat hanya diminta mengisi kotak infaq di meja resepsionis atau memberikan kepada pengasuh yang bertugas seikhlasnya.
- Tetap buka meski libur semester. Hanya tutup pada hari besar mengikuti jadwal pemerintah.
- Layanan 24 Jam: Menyediakan penitipan harian malam hari (pukul 18.00 - 07.00) dan penitipan di hari libur/Minggu dengan biaya tambahan.
4. Strategi Marketing: Foto Estetik & Larangan Cek Lokasi saat Hari Kerja
Untuk meyakinkan calon korbannya, admin Little Aresha akan mengirimkan foto-foto kondisi kamar, kasur, dapur, hingga tempat bermain yang tampak sangat bersih, rapi, dan ber-AC.
Bahkan, admin Littler Aresha mempersilahkan orangtua untuk mengecek kondisi dalam daycare sebelum menitipkan anaknya dengan syarat berikut:
- Orang tua hanya boleh datang mengecek lokasi pada hari Minggu.
- Wajib membuat janji terlebih dahulu langsung dengan pemilik (Diyah Kusumastuti).
Diduga kuat, pembatasan waktu kunjungan ini dilakukan agar orang tua tidak melihat langsung praktik penyiksaan yang penuh tangis anak karena terikat saat hari kerja.
Selain itu, janji temu ini diduga kuat untuk siasat Diyah Kusumastuti mempersiapkan kondisi Daycare yang bersih, layak dihuni anak-anak dan sejuk karena ber-AC dan sirkulasi udara baik.
5. Kedok Perhatian yang Manipulatif

Admin Little Aresha juga menawarkan jasa membantu memandikan atau memberi makan jika anak belum sempat diurus di rumah pada pagi harinya.
Hal ini membangun citra bahwa mereka sangat peduli dan penuh kasih sayang pada anak dan orangtua yang sibuk.
Faktanya, polisi mengungkap bahwa anak-anak justru langsung diikat tangan dan kakinya sejak pagi hari saat baru datang.
Ikatan baru dilepas saat jam makan atau mandi hanya untuk keperluan dokumentasi foto yang akan dikirimkan kepada orang tua agar terlihat aman.