- Kasus kekerasan seksual di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati, memicu amarah publik.
- Kasus ini menjadi pengingat orangtua terkait keamanan pendidikan berbasis agama.
- Orangtua wajib memeriksa legalitas, rekam jejak, transparansi komunikasi, serta sistem perlindungan anak di setiap lembaga pendidikan pesantren.
Pesantren yang baik di era modern seharusnya sudah memiliki konsep "Pesantren Ramah Anak". Tanyakan kepada pengelola beberapa hal berikut:
- Bagaimana sistem pengawasan di asrama?
- Apakah ada CCTV di area-area publik?
- Apakah ada kanal pengaduan jika santri merasa tidak nyaman atau mengalami pelecehan?
- Bagaimana latar belakang para pengajar dan pengasuhnya?
Pesantren yang memiliki kesadaran akan isu kekerasan seksual biasanya memiliki aturan ketat mengenai interaksi antara pengajar dan santri, terutama di ruang-ruang privat.
5. Hindari Budaya "Kultus" Berlebihan
Dalam dunia pesantren, menghormati guru (takzim) adalah kewajiban. Namun, waspadalah jika penghormatan tersebut berubah menjadi kepatuhan buta yang tidak logis.
Kekerasan seksual sering kali berlindung di balik doktrin "berkah" atau "kepatuhan total kepada guru". Pilihlah pesantren yang tetap mengedepankan logika sehat dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan di atas dalih-dalih spiritual yang menyimpang.
6. Perhatikan Lingkungan dan Fasilitas
Saat berkunjung (survei), perhatikan kondisi asramanya. Apakah ada sekat yang jelas antara area privat dan umum? Bagaimana pengawasan saat jam-jam rawan seperti malam hari?
Pastikan ada pendamping (ustadz/ustadzah) yang tinggal berdekatan dengan santri untuk melakukan pengawasan rutin.
7. Dengarkan Intuisi Anak
Libatkan anak dalam proses memilih. Perhatikan reaksinya saat diajak berkunjung.
Jika anak merasa tidak nyaman atau ketakutan tanpa alasan yang jelas, jangan abaikan perasaan tersebut. Keamanan anak dimulai dari kenyamanan mereka sendiri terhadap lingkungan tempat mereka akan tinggal.
Kesimpulan
Menitipkan anak ke pesantren adalah bentuk kepercayaan besar. Namun, kepercayaan (trust) harus dibarengi dengan verifikasi (verify).
orangtua tidak boleh lepas tangan sepenuhnya setelah anak masuk ke gerbang pesantren.
Komunikasi yang intens dan kepekaan terhadap perubahan perilaku anak adalah benteng terakhir untuk melindungi mereka dari predator yang bisa saja bersembunyi di balik jubah pendidikan.