- Film dokumenter Pesta Babi dirilis tahun 2026 oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale untuk menyoroti konflik agraria di Papua.
- Proyek strategis nasional memicu deforestasi masif dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
- Penayangan film tersebut memicu kontroversi serta diskusi luas mengenai dampak pembangunan nasional terhadap hak asasi masyarakat adat Papua.
Film ini juga menyentuh isu jangka panjang seperti dampak lingkungan, hilangnya biodiversitas, dan marginalisasi Orang Asli Papua di tanah leluhur mereka sendiri.
Dampak dan Kontroversi
Sejak premiere di Taman Ismail Marzuki pada April 2026, film ini menuai perhatian besar. Beberapa pemutaran komunitas (nobar) sempat dibubarkan paksa di berbagai daerah, yang justru membuat minat publik semakin tinggi.
Produser dan sutradara menyatakan bahwa tekanan ini malah memperpanjang “musim nobar” film tersebut.
Pesta Babi bukan film propaganda semata, melainkan hasil riset mendalam selama empat tahun yang melibatkan kolaborasi WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Jubi.id, Greenpeace, dan LBH Papua Merauke.
Dokumenter ini mengajak penonton merefleksikan pertanyaan besar: Pembangunan untuk siapa? Apakah kemajuan nasional harus mengorbankan hak asasi, lingkungan, dan budaya masyarakat adat?
Film ini menampilkan suara-suara masyarakat langsung, tanpa banyak narasi menggurui, sehingga kesannya lebih autentik dan menggugah.
Secara keseluruhan, Pesta Babi adalah potret jujur tentang benturan antara agenda pembangunan besar-besaran dengan keberlanjutan kehidupan lokal. Film ini mengingatkan bahwa di balik statistik proyek strategis, ada cerita manusia, hutan yang hilang, sungai yang mati, dan budaya yang terancam.
Dengan pendekatan visual yang memukau dan narasi yang kuat, Pesta Babi berhasil menjadi salah satu dokumenter Indonesia paling signifikan di tahun 2026. Film ini mendorong diskusi publik tentang keadilan lingkungan, hak adat, dan model pembangunan yang lebih inklusif.