Suara.com - Siapa yang tidak mengenal Harry Potter? Bagi banyak orang yang tumbuh di awal 2000-an, kisah penyihir muda berkacamata dengan luka berbentuk petir di dahinya itu bukan sekadar film atau novel. Harry Potter adalah bagian dari masa kecil, teman tumbuh dewasa, sekaligus pelarian kecil dari dunia nyata lewat lorong-lorong Hogwarts yang terasa magis.
Meski film terakhirnya tayang lebih dari satu dekade lalu, dunia sihir itu rupanya belum benar-benar hilang. Setidaknya, itu yang saya rasakan saat datang ke Taman Ismail Marzuki pada Kamis pagi (14/5/2026).
Di area planetarium, komunitas Indo Harry Potter baru saja menggelar acara bertajuk Muggle Assemble. Tidak seperti gathering fandom yang penuh hingar-bingar, acara ini justru terasa hangat dan akrab. Orang-orang datang bukan hanya untuk membicarakan Harry Potter, tapi juga untuk bertemu sesama penggemar yang tumbuh dengan cerita yang sama.
Beberapa peserta terlihat mengenakan syal Gryffindor, jubah hitam Hogwarts, hingga pin kecil bergambar platform 9¾ yang menggantung di tas mereka. Ada yang datang sendiri, ada juga yang tertawa bersama teman-temannya sambil bertukar cerita soal karakter favorit atau adegan yang paling membekas di ingatan mereka.
Di tengah obrolan santai itu, saya menyadari satu hal: bagi mereka, Harry Potter bukan cuma nostalgia. Ada rasa nyaman dan perasaan “pulang” ketika bertemu orang-orang yang memahami kenangan yang sama.
Setelah acara selesai, saya berbincang dengan para pengurus Indo Harry Potter. Dari cerita mereka, komunitas ini bukan hanya tempat berkumpul para penggemar, tetapi juga ruang pertemanan yang terus hidup, bahkan ketika halaman terakhir buku Harry Potter sudah lama ditutup.
Perjalanan 25 Tahun Indo Harry Potter
Dari obrolan pagi itu, saya cukup kagum saat tahu komunitas penggemar Harry Potter ini ternyata sudah bertahan selama 25 tahun di Indonesia. Di tengah banyaknya fandom yang perlahan hilang setelah filmnya selesai atau trennya mereda, Indo Harry Potter justru masih terus hidup dan aktif sampai sekarang.
Yang membuat saya semakin tertarik, komunitas ini ternyata sudah ada jauh sebelum media sosial seperti Instagram atau TikTok menjadi tempat berkumpul fandom. Saat itu, para penggemar Harry Potter di Indonesia masih saling terhubung lewat mailing list dan forum internet sederhana.
Semua bermula dari obrolan kecil antar pembaca novel Harry Potter di awal 2000-an. Tidak lama setelah bukunya masuk ke Indonesia, para penggemar mulai mencari satu sama lain di internet untuk sekadar berdiskusi soal Hogwarts, teori cerita, atau karakter favorit mereka.
Salah satu prefek Indo Harry Potter, Paman Hadi, bercerita bahwa komunitas ini mulai terbentuk sekitar tahun 2001 lewat mailing list.
“Dulu itu semacam WhatsApp group, tapi lewat email,” ujarnya sambil tertawa.
Dari ruang virtual sederhana itu, mereka kemudian mulai bertemu langsung sekitar tahun 2001 hingga 2002. Awalnya kegiatan mereka sangat sederhana: duduk bersama, membahas buku terbaru, atau ngobrol soal film Harry Potter yang baru tayang di bioskop.
Namun, semakin besar demam Harry Potter di Indonesia, komunitas ini ikut tumbuh. Mereka mulai mengadakan nonton bareng hingga menyewa satu studio bioskop penuh. Bahkan, Indo Harry Potter juga pernah terlibat dalam berbagai acara peluncuran buku Harry Potter bersama penerbit.
“Dulu mungkin kita salah satu komunitas pertama yang bikin nobar satu studio bioskop,” kata Paman.
Mendengar cerita itu, saya seperti sedang melihat potongan kecil sejarah fandom di Indonesia. Ada masa ketika orang-orang rela berkirim email panjang hanya untuk membahas dunia sihir Hogwarts. Ada masa ketika berkumpul sesama penggemar terasa sangat spesial karena belum semudah sekarang menemukan komunitas di media sosial.
Dan mungkin itu yang membuat Indo Harry Potter bisa bertahan sampai hari ini. Bukan cuma karena Harry Potter-nya, tapi karena komunitas ini tumbuh dari rasa ingin saling menemukan dan berbagi kenangan yang sama.
Perubahan Zaman dalam Memengaruhi Cara Berkomunitas

Perubahan zaman turut mengubah cara Indo Harry Potter berinteraksi. Setelah era mailing list berakhir, komunitas ini sempat aktif di Facebook dan Twitter sebelum akhirnya berpindah ke Instagram, TikTok, hingga grup WhatsApp.
“Sekarang kebanyakan pindah ke Instagram sama WhatsApp group,” ujar salah satu prefek Indo Harry Potter, Paman Hadi.
Media sosial menjadi salah satu alasan komunitas ini mampu bertahan selama 25 tahun. Lewat platform digital, informasi soal gathering, diskusi, hingga berbagai acara komunitas kini lebih mudah menjangkau penggemar Harry Potter dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu pengurus komunitas, Alam Putra, mengatakan Indo Harry Potter kini juga rutin menggelar acara hybrid yang menggabungkan pertemuan offline dan online.
“Event kita hybrid, jadi ada yang offline dan online untuk menjangkau teman-teman di luar kota,” jelas Alam.
Berbagai kegiatan rutin masih terus diadakan hingga sekarang. Mulai dari nonton bareng Movie Magic, gathering Back to Hogwarts, Potter Bukber, hingga Muggle Assemble, acara santai yang mengajak anggota berkumpul tanpa harus selalu memakai konsep dunia sihir Hogwarts.
Selain itu, komunitas juga kerap mengadakan acara virtual seperti live Instagram saat perayaan ulang tahun Indo Harry Potter.
“Tahun kemarin kita sempat live di Instagram untuk ulang tahun IHP,” kata Alam.
Bagi penggemar Harry Potter yang ingin mengikuti berbagai kegiatan komunitas ini, informasi acara biasanya dibagikan melalui akun Instagram @infoharrypotter. Link grup WhatsApp komunitas juga tersedia di bio akun tersebut.
Penulis: Natasha Suhendra