- Penderita hipertensi perlu mewaspadai kandungan natrium tinggi pada bumbu dapur dan daging olahan saat perayaan Idul Adha.
- Mengonsumsi bagian daging berlemak atau jeroan dapat meningkatkan kolesterol dan memicu lonjakan tekanan darah secara signifikan.
- Konsumsi sayur, buah kaya potasium, serta metode masak sehat mampu menjaga stabilitas tekanan darah saat pesta daging.
Suara.com - Momen Idul Adha identik dengan stok daging melimpah di dapur, mulai dari daging sapi hingga kambing yang siap diolah menjadi beragam hidangan lezat.
Namun, bagi pengidap hipertensi, perayaan ini menuntut kewaspadaan ekstra karena tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam yang bisa memicu komplikasi jantung hingga stroke.
Bukan hanya soal porsi dagingnya, ternyata berbagai bahan pelengkap dan bumbu yang jamak digunakan saat Idul Adha bisa menjadi "bom waktu" bagi kesehatan jika tidak diseleksi dengan ketat.
Bumbu tinggi natrium
Salah satu musuh utama yang wajib diwaspadai adalah natrium atau garam tersembunyi yang ada dalam bumbu-bumbu cair dan instan.
Kecap manis, yang menjadi bahan utama dalam menu populer seperti semur, sate, oseng daging, hingga tongseng, mengandung kadar garam yang cukup tinggi meskipun rasanya dominan manis.
Penggunaan kecap manis secara berlebihan dapat menarik air ke dalam pembuluh darah, meningkatkan volume darah, dan akhirnya memicu lonjakan tekanan darah secara signifikan.
Selain kecap, penggunaan penyedap rasa, kaldu instan, dan bumbu blok juga sangat berisiko bagi penderita darah tinggi karena kandungan natriumnya yang terkonsentrasi.
Bahan makanan yang perlu diskip
![Ilustrasi garam Himalaya, mitosnya bisa meredakan asam lambung. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/25/40673-ilustrasi-garam-himalaya-mitosnya-bisa-meredakan-asam-lambung-ist.jpg)
Bahan lain yang sering luput dari perhatian adalah daging olahan seperti sosis, kornet, atau bacon.
Meski praktis diolah bersama daging kurban, jenis makanan ini mengandung bahan pengawet dan kadar garam yang jauh lebih tinggi dibandingkan daging segar, sehingga sangat tidak disarankan untuk penderita hipertensi.
Begitu pula dengan penggunaan santan yang dimasak berulang kali. Santan segar sebenarnya relatif aman dalam jumlah wajar, namun jika dipanaskan atau direbus berkali-kali hingga berminyak (seperti pada proses memasak rendang atau gulai yang lama), lemaknya bisa berubah menjadi lemak trans yang berbahaya bagi kesehatan pembuluh darah.
Waspadai lemak
Penderita hipertensi juga harus sangat selektif dalam memilih bagian daging yang akan dikonsumsi.
Bagian jeroan seperti usus, babat, dan paru, serta bagian daging yang memiliki lapisan lemak tebal sebaiknya dihindari sepenuhnya.
Lemak jenuh yang tinggi pada bagian tersebut dapat meningkatkan kolesterol dan memperburuk kondisi tekanan darah.
Sebagai gantinya, sangat disarankan untuk memilih potongan daging yang ramping seperti bagian has dalam yang lebih rendah lemak.
Menariknya, sebuah tinjauan ilmiah mengungkapkan bahwa daging kambing sebenarnya memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan daging sapi.
Daging kambing yang "dikambinghitamkan"
Faktor utama yang sering memicu kenaikan tekanan darah usai menyantap kambing justru berasal dari tambahan garam yang berlebihan selama proses pengolahan, terutama pada individu yang memiliki gangguan fungsi ginjal.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengganti garam dengan rempah alami seperti bawang putih, jahe, ketumbar, lada, atau daun salam untuk memperkuat rasa tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Untuk menyeimbangkan asupan selama "pesta daging", pengidap hipertensi wajib memperbanyak konsumsi sayuran berserat tinggi seperti brokoli, bayam, atau buncis, serta buah-buahan seperti pisang dan kiwi yang kaya akan potasium.
Potasium berperan penting dalam membantu ginjal membuang lebih banyak sodium melalui urine, sehingga tekanan darah tetap bisa terkendali dengan baik.
Mengolah daging dengan metode yang lebih sehat seperti direbus, dipanggang, atau dikukus juga jauh lebih aman dibandingkan dengan menggorengnya dalam minyak banyak.