- Susu Mbok Darmi mengadakan acara Nyusu After Office di Rumah Wijaya untuk membahas relevansi manusia di era AI.
- Kegiatan ini memfasilitasi profesional muda membangun relasi dan bertukar wawasan melalui konsep diskusi santai serta suportif.
- Para pembicara menekankan bahwa kemampuan beradaptasi dan penggunaan teknologi AI secara efektif menjadi kunci penting pengembangan karier.
Suara.com - Bagi banyak generasi produktif saat ini, jam pulang kantor bukan lagi sekadar waktu untuk beristirahat. Di tengah dunia kerja yang berubah cepat, muncul realita baru yang semakin dekat dengan keseharian pekerja muda: capek kerja, tetapi tetap merasa harus terus upgrade diri agar tidak tertinggal.
Tekanan untuk selalu relevan membuat banyak profesional muda kini aktif mencari ruang belajar baru di luar kantor. Mulai dari networking event, komunitas kreatif, sharing session, hingga diskusi soal artificial intelligence (AI), semuanya perlahan menjadi bagian dari perjalanan profesional generasi urban masa kini.
Menariknya, cara anak muda membangun koneksi dan belajar juga ikut berubah. Jika dulu networking identik dengan acara formal penuh presentasi dan tukar kartu nama, kini banyak orang justru mencari ruang yang lebih santai, hangat, dan terasa relate dengan kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini terlihat dalam acara “Nyusu After Office” yang digelar Susu Mbok Darmi di Rumah Wijaya. Mengangkat tema “AI vs Humans: Who Stays Relevant?”, acara tersebut memadukan networking, obrolan soal AI, dan suasana after office hangout dalam satu ruang yang santai tetapi tetap penuh insight.
Berawal sebagai brand susu segar lokal yang dekat dengan keseharian anak muda, Susu Mbok Darmi kini mulai berkembang bukan hanya sebagai produk minuman, tetapi juga ruang interaksi dan komunitas.
Mengusung semangat bahwa “ngobrol baik sering dimulai dari segelas susu”, brand ini menghadirkan berbagai activation yang relevan dengan gaya hidup generasi produktif, mulai dari kegiatan komunitas hingga networking event.
Melalui konsep tersebut, anak muda tidak hanya datang untuk mendengar materi, tetapi juga membangun relasi, bertukar pengalaman, hingga mencari perspektif baru tentang dunia kerja modern.
CEO Susu Mbok Darmi, Dhony Pratama, mengatakan generasi sekarang membutuhkan ruang yang bukan hanya insightful, tetapi juga nyaman secara emosional.
“Sekarang anak muda bukan cuma cari acara yang insightful, tapi juga yang nyaman secara emosional. Mereka ingin tempat untuk connect, recharge, dan merasa tidak sendirian menghadapi tekanan dunia kerja modern,” ujarnya.
Berbeda dari seminar karier konvensional, Nyusu After Office dikemas seperti social space modern. Peserta datang setelah pulang kerja, menikmati free flow susu segar, mengikuti sharing session, hingga networking santai dengan profesional dari berbagai industri.
Konsep ini sekaligus mencerminkan perubahan gaya hidup generasi muda urban. Networking kini tidak lagi soal formalitas, tetapi tentang membangun koneksi yang lebih authentic dan meaningful.
Topik AI yang diangkat dalam acara ini juga terasa sangat dekat dengan keresahan banyak pekerja muda saat ini. Bukan hanya soal teknologi yang semakin canggih, tetapi juga tentang kekhawatiran apakah manusia masih akan relevan di tengah perkembangan AI.
Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara dari industri kreatif dan digital, seperti Airlangga Aridharma, Edward Santoso, dan Riska Putri.
Mereka membahas bagaimana AI mulai mengubah cara manusia bekerja, skill yang perlahan mulai tergeser, hingga kemampuan yang justru semakin penting di era sekarang seperti komunikasi, kreativitas, leadership, dan kemampuan membangun relasi.
Selain membahas tantangan, diskusi juga menyoroti bagaimana AI seharusnya dipandang sebagai tools untuk membantu pekerjaan, bukan semata ancaman bagi manusia. Kemampuan beradaptasi dan memahami cara menggunakan AI secara efektif kini mulai menjadi skill penting dalam professional journey generasi muda.