Suara.com - Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim, aksi individu kerap dipandang sebatas perubahan gaya hidup pribadi, seperti mengurangi penggunaan plastik, membawa tumbler, atau memilih produk ramah lingkungan. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menilai tanggung jawab utama sepenuhnya berada di tangan korporasi dan pemerintah.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa aksi iklim tidak cukup hanya berhenti pada pola konsumsi individu maupun menyalahkan pihak tertentu. Laporan yang dipublikasikan Phys.org menyebut tindakan paling berdampak justru lahir ketika individu mampu mendorong perubahan di tingkat sistem sosial yang lebih luas.
Penelitian tersebut mengembangkan kerangka kerja untuk mengidentifikasi tindakan iklim yang paling efektif melalui tiga pertanyaan dasar, yakni peran apa yang dimiliki seseorang, tindakan apa dalam peran tersebut yang paling berpengaruh terhadap iklim, serta hambatan apa yang membuat tindakan itu sulit dilakukan.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat lima peran utama yang dinilai memiliki potensi mendorong perubahan sistemik, yaitu sebagai warga negara, profesional, investor, konsumen, dan panutan sosial.
Sebagai warga negara, individu dapat menggunakan hak pilih untuk mendukung kebijakan iklim yang lebih kuat. Sementara sebagai investor, seseorang dapat mendorong divestasi dari industri bahan bakar fosil atau memilih investasi yang lebih berkelanjutan.
Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa aksi iklim tidak terbatas pada aktivitas konsumsi pribadi. Dalam lingkup komunitas, misalnya, warga dapat mengorganisasi kampanye infrastruktur rendah karbon atau menyuarakan perlindungan bagi kelompok rentan terhadap dampak iklim.
Di sektor formal, pengaruh individu juga dapat muncul melalui kebijakan internal institusi. Contohnya, petugas pengadaan di rumah sakit dapat memilih penyedia energi terbarukan atau mengalihkan katering ke menu berbasis nabati yang memiliki emisi lebih rendah.
Menurut penelitian itu, tindakan individu di posisi strategis dapat menciptakan efek pengganda yang lebih luas. Integrasi isu iklim ke dalam kurikulum sekolah, misalnya, dinilai mampu memperluas diskusi soal krisis iklim hingga ke lingkungan keluarga dan komunitas siswa.
Meski demikian, penelitian tersebut menekankan bahwa kemampuan setiap orang untuk terlibat dalam aksi iklim tidak berada dalam posisi yang setara. Faktor sosial dan ekonomi memengaruhi akses seseorang terhadap pilihan berkelanjutan, termasuk dalam investasi, konsumsi, maupun partisipasi gerakan sosial.
Data dari Inggris menunjukkan sepertiga populasi bertanggung jawab atas lebih dari 80 persen total penerbangan, sementara setengah populasi lainnya bahkan tidak pernah menggunakan pesawat sama sekali.
Karena itu, penelitian tersebut menyebut kelompok dengan akses, sumber daya, dan kebebasan bertindak yang lebih besar juga memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mengurangi emisi pribadi sekaligus mendorong perubahan kebijakan di sektor yang berdampak terhadap iklim.
Penulis: Vicka Rumanti