- Seblak sering dikaitkan dengan risiko kista ovarium.
- Faktanya, penyebab utama kista lebih berkaitan dengan hormon dan gaya hidup.
- Pola makan sehat dan olahraga rutin penting untuk menjaga kesehatan reproduksi.
Suara.com - Seblak dikenal sebagai makanan pedas yang punya banyak penggemar, terutama di kalangan anak muda.
Di balik popularitasnya, muncul anggapan bahwa terlalu sering makan seblak bisa memicu kista ovarium.
Tidak sedikit yang kemudian mulai khawatir, apalagi jika sering mengonsumsi makanan pedas dan instan hampir setiap hari.
Diketahui, hubungan antara seblak dan kista ovarium tidak sesederhana itu.
Menyadur informasi dari website Klinik Utama CITO pada Jumat, 29 Mei 2026, kista lebih berkaitan dengan kondisi hormon, metabolisme tubuh, serta pola hidup secara keseluruhan dibanding satu jenis makanan tertentu.

Mengenal Kista Ovarium
Kista ovarium merupakan kantong berisi cairan yang muncul di bagian ovarium atau indung telur.
Sebagian besar kasus bersifat jinak dan bahkan dapat mengecil atau hilang tanpa tindakan medis khusus.
World Health Organization (WHO) tahun 2022 menjelaskan bahwa gangguan kesehatan reproduksi perempuan sering dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon dan masalah metabolik.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2023 menyebut obesitas dan resistensi insulin juga memiliki hubungan dengan kondisi seperti PCOS yang dapat meningkatkan risiko munculnya kista.
Apakah Seblak Jadi Penyebab Kista?
Sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa makan seblak secara langsung dapat menyebabkan kista ovarium. Konsumsi sesekali umumnya tidak menjadi masalah.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah kandungan dalam seblak yang identik dengan makanan ultra-proses.
Pasalnya, seblak biasanya memakai mie instan, kerupuk, sosis, bakso olahan, serta bumbu tinggi garam dan penyedap.
Selain itu, proses memasaknya juga sering menggunakan minyak dalam jumlah cukup banyak.
Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa pola makan seimbang, kondisi ini dapat memicu kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme.
WHO tahun 2023 menyebut pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan natrium dapat meningkatkan risiko obesitas.