- Stigma dan minimnya akses informasi menstruasi di Indonesia meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi serta penularan infeksi menular seksual.
- AHF Indonesia dan Kementerian Sosial menggelar edukasi kesehatan menstruasi di Jakarta pada 25 Mei 2026 untuk para remaja.
- Literasi kesehatan yang baik mampu memperkuat kemandirian remaja dalam menjaga kebersihan diri serta mencegah berbagai risiko sosial berbahaya.
Suara.com - Menstruasi masih menjadi topik yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Padahal, pemahaman yang baik mengenai kesehatan menstruasi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan reproduksi remaja sekaligus membantu mencegah berbagai risiko kesehatan, termasuk infeksi menular seksual (IMS) dan HIV.
Kurangnya akses terhadap informasi yang benar mengenai menstruasi masih menjadi tantangan di banyak negara, termasuk Indonesia. Stigma dan budaya bungkam yang mengelilingi menstruasi sering membuat remaja perempuan enggan bertanya atau mencari informasi ketika mengalami masalah kesehatan reproduksi.
Akibatnya, banyak remaja tidak memahami cara mengelola menstruasi dengan aman dan sehat. Kesadaran mengenai kesehatan menstruasi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan produk sanitasi yang layak, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap perubahan tubuh, kebersihan diri, kesehatan reproduksi, hingga kemampuan mengambil keputusan yang lebih baik terkait kesehatan seksual.
Dengan pengetahuan yang memadai, remaja dapat lebih percaya diri menjaga kesehatan dirinya dan terhindar dari berbagai risiko yang dapat memengaruhi masa depannya.
Dr. Chhim Sarath, Kepala Biro Asia AIDS Healthcare Foundation (AHF), menegaskan bahwa stigma yang masih melekat pada menstruasi berdampak langsung terhadap kesehatan perempuan dan remaja putri.

"Di banyak wilayah Asia, stigma dan sikap bungkam seputar menstruasi masih terus membatasi akses terhadap produk menstruasi maupun informasi kesehatan yang sangat penting," ujarnya.
Menurutnya, ketika seseorang tidak dapat mengelola menstruasinya secara aman, dampaknya tidak hanya berupa rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap HIV dan penyakit IMS lainnya.
Karena itu, peningkatan akses terhadap produk menstruasi, edukasi yang tepat, serta keterbukaan dalam membahas kesehatan reproduksi menjadi langkah penting dalam melindungi kesehatan masyarakat.
Secara global, hampir dua miliar orang mengalami menstruasi, namun sekitar 500 juta di antaranya masih menghadapi kemiskinan menstruasi. Kondisi ini mencakup keterbatasan akses terhadap pembalut atau produk menstruasi yang memadai, fasilitas sanitasi yang layak, serta lingkungan yang mendukung.
Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik. Banyak remaja perempuan terpaksa absen dari sekolah karena kesulitan mengelola menstruasi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesempatan pendidikan, meningkatkan kerentanan ekonomi, hingga memperbesar risiko terjadinya hubungan yang tidak sehat yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penularan HIV maupun IMS.
Maka dari itu, edukasi kesehatan menstruasi perlu berjalan beriringan dengan edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV. Remaja perlu memahami bagaimana menjaga kesehatan tubuhnya, mengenali risiko perilaku berbahaya, serta mengetahui pentingnya akses terhadap layanan kesehatan yang aman dan terpercaya.
Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza dan ODHIV Kementerian Sosial RI, Anna Puspasari, menilai bahwa literasi kesehatan yang baik merupakan salah satu fondasi penting bagi tumbuh kembang remaja.
"Remaja yang cerdas paham akan kesehatan tubuhnya, dan memiliki literasi informasi yang baik, akan memiliki harga diri (self-esteem) yang kuat. Remaja yang percaya diri dan teredukasi cenderung memiliki benteng pertahanan yang kokoh untuk menolak segala bentuk risiko sosial, termasuk bahaya penyalahgunaan Napza dan penularan HIV," tuturnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan bukan sekadar memberikan informasi, melainkan juga membangun kemampuan remaja untuk membuat keputusan yang tepat dalam kehidupannya.
Ketika remaja memiliki pengetahuan yang cukup tentang menstruasi, kesehatan reproduksi, dan HIV, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan sosial yang muncul di lingkungan sekitarnya.
Selain meningkatkan akses terhadap produk dan fasilitas sanitasi yang layak, upaya menghapus stigma menstruasi juga menjadi langkah penting. Menstruasi merupakan proses biologis yang normal dan seharusnya dapat dibicarakan secara terbuka tanpa rasa malu maupun diskriminasi.
Lingkungan yang mendukung akan membantu remaja memperoleh informasi yang benar dan mencari pertolongan ketika menghadapi masalah kesehatan reproduksi.
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Menstruasi yang diperingati setiap 28 Mei, AIDS Healthcare Foundation (AHF) Indonesia bersama Kementerian Sosial RI menggelar kegiatan edukatif di Sentra Handayani, Jakarta, pada 25 Mei 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dari Sekolah Rakyat Sentra Handayani dan Sentra Mulya Jaya. Acara dikemas melalui edukasi kesehatan reproduksi perempuan, hiburan bagi remaja, sesi kuis berhadiah, serta disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial.
Melalui kegiatan ini, AHF Indonesia ingin mendorong peningkatan kesadaran mengenai kesehatan menstruasi, mengurangi stigma yang masih melekat di masyarakat, sekaligus memperkuat pemahaman remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah HIV sejak usia dini.