- Arif Hermawan memulai usaha hidroponik selada di Lumajang setelah belajar secara otodidak dari kegagalan teknis budidaya tanaman.
- Usaha tersebut kini berkembang pesat dengan 4.200 lubang tanam dan mampu memproduksi tujuh kuintal selada setiap panen.
- Hasil panen selada dari kebun hidroponik Arif disalurkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Lumajang.
Permintaan yang terus bertambah membuat Arif mengambil keputusan yang tidak ringan. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai sales marketing dan memilih menekuni hidroponik secara penuh.
Keputusan itu diikuti dengan pinjaman modal sebesar Rp65 juta dari perbankan untuk memperluas usaha.
Langkah tersebut penuh risiko. Selain harus membayar cicilan, Arif juga menanggung tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga dari usaha yang saat itu belum sepenuhnya stabil.
Namun keputusan tersebut menjadi titik balik.
Dari instalasi sederhana di loteng rumah, usaha hidroponiknya berkembang ke lahan seluas sekitar 220 meter persegi. Sistem produksi menjadi lebih terukur dan kapasitas tanam meningkat hingga ribuan lubang.
Saat ini, kebunnya mampu menghasilkan omzet sekitar Rp21 juta setiap siklus panen dengan keuntungan bersih mencapai sekitar Rp15 juta.
Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan
Meski demikian, Arif menilai keberhasilan usahanya tidak semata diukur dari pendapatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat semakin sedikit anak muda yang tertarik bekerja di sektor pertanian. Padahal kebutuhan pangan terus meningkat dan regenerasi petani menjadi tantangan di banyak daerah.
Karena itu, ia mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) untuk berbagi pengalaman kepada masyarakat dan generasi muda yang tertarik mengembangkan pertanian modern.
"Pertanian sekarang sudah berbeda. Ada hidroponik, pemasaran digital, penjualan online, dan berbagai teknologi yang membuat usaha tani lebih menjanjikan," ujarnya.
Perkembangan usaha Arif juga bersinggungan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Melalui kerja sama dengan dapur SPPG, hasil panen hidroponiknya kini menjadi bagian dari rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis. Kepastian permintaan tersebut membuat pola tanam harus disusun lebih disiplin agar pasokan sayuran tetap tersedia setiap pekan.
Solusi dari Skala Kecil
Pemerintah Kabupaten Lumajang melihat inisiatif seperti yang dilakukan Arif sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Sejalan dengan itu, pemerintah daerah mengembangkan Program Pekarangan Sehat (PESAT) yang mendorong keluarga memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran, buah, dan sumber pangan lainnya.
Menurut Bupati Lumajang, Indah Amperawati, ketahanan pangan keluarga menjadi fondasi penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi maupun pangan di masa depan.
Dari ruang kecil di atas rumahnya, Arif membuktikan bahwa pertanian masih memiliki masa depan. Bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memastikan pangan dan gizi tetap tersedia bagi generasi berikutnya.