- Dokter Yessica Tania menyatakan bahwa konsumsi kopi berlebihan dapat mengganggu kualitas tidur nyenyak yang penting bagi regenerasi kulit.
- Kualitas tidur yang buruk akibat kafein berlebih menyebabkan tubuh gagal melakukan proses perbaikan organ dan memicu kulit kusam.
- Masyarakat disarankan mengonsumsi kopi secara bijak dan rutin mencukupi kebutuhan vitamin untuk mendukung kesehatan kulit secara menyeluruh dari dalam.
Suara.com - Minum kopi less sugar hingga no sugar kini menjadi tren kesehatan di masyarakat. Namun, dokter estetika menyebut kebiasaan ini bisa menjadi bumerang bagi kesehatan kulit karena kandungan kafein yang berlebihan dapat mengganggu kualitas tidur.
Skincare and Aesthetic Expert, dr. Yessica Tania, Dipl. AAAM., mengatakan mengurangi asupan gula dengan mengonsumsi kopi less sugar atau no sugar memang baik untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Pasalnya, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan inflamasi atau peradangan yang membuat kulit lebih mudah berjerawat dan membebani kerja ginjal.
Namun, kafein yang dikonsumsi secara berlebihan dapat mengganggu pola tidur seseorang. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit mencapai tidur nyenyak atau deep sleep.
Padahal, menurut dr. Yessica, fase deep sleep memiliki peran penting dalam proses perbaikan organ dan regenerasi tubuh, termasuk kulit.
"Berpengaruh, karena sebenarnya kalau tidur itu kan ada yang namanya deep sleep," kata dr. Yessica dalam acara peluncuran Zegavit Gummy Multivitamin di Beauty Fest Asia 2026, Jumat (29/5/2026).

"Kalau bahasa medisnya ada yang REM dan non-REM. Nah, di sini peran tubuh juga berbeda saat kita memasuki fase deep sleep," lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa fase deep sleep merupakan periode ketika tubuh melakukan berbagai proses pemulihan.
Pada anak-anak, fase tidur nyenyak bahkan sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
"Makanya dari bayi, terutama usia 0 sampai 5 tahun, diusahakan malam itu tidurnya harus deep sleep, tidak boleh terlalu sering terbangun," ujarnya.
Hal yang sama juga berlaku pada orang dewasa. Meski fungsi yang dominan berbeda, tubuh tetap membutuhkan fase tidur nyenyak untuk menjalankan proses perbaikan organ secara optimal.
"Kalau di orang dewasa, salah satunya berpengaruh ke repair organ. Jadi tetap ada pengaruh ke kualitas tidur," lanjutnya.

Masalahnya, seseorang mungkin tetap bisa tertidur pada malam hari setelah minum kopi. Namun, ketika asupan kafein berlebihan, kualitas tidur yang diperoleh tidak maksimal meski durasinya mencapai delapan jam.
Kondisi ini juga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian orang tetap terlihat lelah atau kulitnya tampak kusam meski merasa sudah tidur cukup.
"Tapi kan kafeinnya itu membuat kita tidak tidur. Kalaupun sekarang bisa tidur, kualitas tidurnya tidak sempurna, tidak bisa deep sleep. Kualitasnya tidak cukup bagus," jelas dr. Yessica.