Suara.com - Di tengah kepadatan kota yang terus bertambah, ruang hijau sering kali dinilai dari seberapa banyak tanaman yang berhasil tumbuh. Namun bagi Sendalu Permaculture di Sukmajaya, Depok, ukuran keberhasilan sebuah kebun justru tidak berhenti pada panen sayuran atau rimbunnya tanaman.
Keberhasilan itu terlihat ketika makhluk-makhluk kecil mulai kembali datang.
Suatu hari, Gibran Tragari, inisiator Sendalu Permaculture, menemukan kehadiran katydid atau belalang daun di area kebunnya.
Di waktu lain, berbagai jenis lebah liar mulai terlihat singgah. Bahkan sejumlah satwa yang sebelumnya jarang dijumpai di lingkungan perkotaan juga mulai muncul.
Bagi Gibran, kedatangan mereka bukan sekadar pemandangan menarik. Kehadiran berbagai spesies tersebut menjadi tanda bahwa ekosistem di kebunnya mulai bekerja sebagaimana mestinya.
“Mungkin kalau orang berkebun di kota, paling banyak melihat keberagaman tanaman. Tapi bagi kami, salah satu indikator keberhasilan justru ketika semakin banyak jenis serangga yang datang,” ujarnya.
Keanekaragaman hayati sering kali menjadi aspek yang luput dari perhatian masyarakat perkotaan. Padahal, keberadaan serangga penyerbuk, predator alami, hingga satwa kecil lainnya berperan penting menjaga keseimbangan rantai makanan.
Ketika mereka kembali hadir, itu menandakan lingkungan mulai menyediakan habitat yang cukup aman untuk mendukung kehidupan.
Ekosistem Kota yang Mudah Berubah
Meski demikian, membangun ekosistem di tengah kota bukan pekerjaan yang mudah.
Berbeda dengan kawasan pedesaan atau hutan yang relatif stabil, lanskap perkotaan dapat berubah dalam waktu singkat. Pohon besar yang selama bertahun-tahun menjadi tempat hidup berbagai satwa bisa ditebang dalam hitungan hari. Lahan kosong yang sebelumnya menjadi area resapan air dapat berubah menjadi bangunan baru.
“Tantangan terbesar tentu lingkungannya. Di kota itu semuanya bisa berubah sangat cepat,” kata Gibran.
Ia mencontohkan bagaimana pohon-pohon besar di sekitar kebun dapat hilang sewaktu-waktu karena keputusan pemilik lahan. Perubahan tersebut secara langsung memengaruhi suhu, kelembapan, hingga keberadaan satwa yang bergantung pada vegetasi tersebut.
Kondisi itu membuat pengelola kebun perkotaan harus terus beradaptasi. Mereka tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga merancang sistem yang mampu bertahan di tengah perubahan lingkungan yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Menanam Kehidupan, Bukan Sekadar Kebun
Alih-alih melihat tantangan tersebut sebagai hambatan, Sendalu memilih menjadikannya sebagai alasan untuk memperluas dampak.
Selain mengembangkan kebun, Gibran dan timnya mulai menelusuri kembali berbagai pengetahuan lokal yang berkaitan dengan pengelolaan alam di wilayah Depok. Mereka ingin praktik permakultur yang dijalankan tidak sekadar mengadopsi konsep dari luar negeri, tetapi juga berakar pada kearifan lokal.
Semangat itu juga tercermin dalam logo Sendalu yang bergambar kura-kura dengan daun di atas cangkangnya.
Bagi Gibran, simbol tersebut menggambarkan gagasan sederhana: ke mana pun manusia pergi, ia bisa membawa kehidupan bersamanya.
Karena itu, Sendalu tidak hanya menjual bibit dan mengoleksi benih. Mereka berupaya mendorong lahirnya lebih banyak kebun kecil di tengah kota, baik di halaman rumah, sekolah, maupun ruang-ruang komunitas.
“Yang ingin kami lakukan adalah membawa kehidupan. Membawa kebun baru di tempat-tempat lain di kota,” ujarnya.
Penulis: Vicka Rumanti