- Dr. Timothy Astandu menjadi orang pertama berpaspor Indonesia yang berhasil mengunjungi 197 negara serta wilayah di dunia.
- Perjalanan tersebut dilakukan untuk melakukan observasi langsung guna memverifikasi stereotipe dan memahami perilaku masyarakat secara mendalam.
- Pengalaman tersebut melatarbelakangi pendirian perusahaan riset Populix pada tahun 2018 untuk mendemokratisasi akses data masyarakat di Indonesia.
Suara.com - Bagi sebagian orang, keliling dunia mungkin menjadi mimpi seumur hidup. Namun bagi Dr. Timothy Astandu, perjalanan lintas negara bukan sekadar soal mengumpulkan cap paspor, melainkan cara memahami manusia secara lebih mendalam.
Pendiri perusahaan riset Populix ini tercatat sebagai orang pertama yang berhasil menggunakan paspor Indonesia untuk menjelajahi secara tuntas 197 negara dan wilayah di dunia. Pencapaian tersebut telah diakui oleh tiga komunitas perjalanan internasional bergengsi, yakni Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).
Dari total 197 destinasi yang dikunjungi, sebanyak 193 merupakan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara pengamat PBB yaitu Vatikan dan Palestina, serta dua wilayah dengan pengakuan terbatas, yakni Taiwan dan Kosovo.
Namun bagi Timothy, angka tersebut bukanlah tujuan utama.
Sebagai seorang peneliti, ia justru memanfaatkan setiap perjalanan sebagai kesempatan untuk mempelajari perilaku manusia secara langsung. Mulai dari mengobrol dengan warga lokal, mengunjungi pasar tradisional, hingga mengamati kebiasaan konsumsi masyarakat di berbagai belahan dunia.
"Setiap percakapan dengan penduduk lokal merupakan data yang menarik. Setiap pasar yang dimasuki menjadi arena observasi lapangan," ungkap Timothy.
Belajar Melampaui Stereotipe
Salah satu pelajaran terbesar yang ia dapatkan selama menjelajah dunia adalah pentingnya memverifikasi asumsi melalui pengalaman langsung.
Menurut Timothy, banyak gambaran tentang suatu negara yang terbentuk dari pemberitaan atau media sosial ternyata tidak selalu sama dengan realitas di lapangan.
Irak, misalnya, yang selama bertahun-tahun identik dengan konflik dan ketidakstabilan politik, justru meninggalkan kesan mendalam baginya karena keramahan masyarakatnya.
"Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya," katanya.
Pengalaman serupa juga ia temukan di sejumlah negara yang kerap diasosiasikan dengan perang dan konflik.
Somalia dan Yaman, misalnya, ternyata masih memiliki pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga ruang publik yang tetap aktif digunakan masyarakat sehari-hari.
"Bagi seorang peneliti, ini bukan anekdot. Ini adalah pelajaran metodologi yang paling mendasar. Jangan percaya pada asumsi sebelum melakukan verifikasi lapangan," ujarnya.
Kekayaan Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kebahagiaan
Selain membongkar stereotipe tentang negara-negara tertentu, perjalanan tersebut juga membawanya pada kesimpulan menarik mengenai hubungan antara kemakmuran dan kebahagiaan.
Timothy menemukan bahwa negara dengan tingkat ekonomi tinggi belum tentu memiliki masyarakat yang lebih bahagia dibanding negara berkembang atau negara yang sering dipandang sebelah mata.
"Tidak berarti negara yang ekonominya lebih maju itu lebih bahagia. Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia," ujarnya.
Menurutnya, faktor-faktor seperti kesederhanaan hidup, kedekatan sosial, hingga rasa syukur sering kali berperan besar dalam membentuk kebahagiaan seseorang.
Temuan tersebut kemudian memperkuat keyakinannya bahwa memahami manusia tidak bisa hanya mengandalkan data ekonomi semata.
Dari Perjalanan Dunia ke Populix
Semangat menjelajah dan membangun Populix ternyata berangkat dari sumber yang sama, yakni rasa ingin tahu terhadap manusia.
Bersama dua rekannya, Timothy mendirikan Populix pada 2018 dengan misi mendemokratisasi akses data dan riset di Indonesia.
Nama Populix sendiri berasal dari frasa Latin vox populi yang berarti "suara rakyat". Filosofi tersebut menjadi fondasi perusahaan dalam menyediakan akses terhadap data dan opini masyarakat secara lebih luas.
Salah satu layanan yang dikembangkan adalah PopSurvey, platform survei mandiri yang memungkinkan pengguna menyusun kuesioner, menentukan target responden, hingga memperoleh hasil riset secara cepat dari jaringan lebih dari 1,3 juta responden.
Terbaru, Populix juga menghadirkan AskLumia, platform riset berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengguna menguji berbagai hipotesis menggunakan responden sintetis sebelum melakukan penelitian lanjutan.
"AskLumia adalah versi ringkas dari apa yang saya lakukan selama bertahun-tahun: memahami manusia dari berbagai penjuru dunia, dengan cepat, tanpa hadir secara langsung," kata Timothy.
Bagi Timothy, perjalanan ke 197 negara bukan sekadar pencapaian pribadi. Pengalaman tersebut menjadi laboratorium hidup yang memperkaya cara pandangnya terhadap manusia, budaya, dan cara masyarakat mengambil keputusan—pelajaran yang kini ia bawa ke dunia riset dan teknologi.