- Siswa Sekolah Adat Patanata Manusela di Maluku Tengah belajar mengenal tanaman obat tradisional langsung di dalam hutan.
- Guru dan tetua adat mengajarkan cara mengidentifikasi serta meracik berbagai tumbuhan sebagai upaya melestarikan pengetahuan warisan leluhur.
- Kegiatan rutin ini bertujuan memastikan generasi muda tetap memahami potensi alam dan manfaat kesehatan dari lingkungan sekitarnya.
Suara.com - Pagi itu, anak-anak Sekolah Adat Patanata Manusela tidak duduk berbaris di depan papan tulis. Mereka berjalan pelan memasuki kawasan hutan di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.
Langkah mereka mengikuti para guru dan tetua adat yang sesekali berhenti, menunjuk dedaunan, lalu mulai bercerita.
Bagi anak-anak itu, pelajaran hari itu tidak dimulai dengan membuka buku. Pelajaran dimulai dengan menyentuh daun, mengamati batang, dan mendengarkan cerita yang selama ini hidup dari mulut ke mulut.
“Ini namanya Sila.”
Seorang tetua adat menunjuk pada tanaman yang tumbuh di tepi jalur. Anak-anak langsung mendekat. Sebagian jongkok, sebagian lagi memperhatikan bentuk daunnya dengan saksama.
Sila—atau yang dikenal sebagai daun gatal (Laportea aestuans), bukan tanaman asing bagi masyarakat adat Manusela. Selama bertahun-tahun, tanaman ini digunakan sebagai bagian dari pengobatan tradisional untuk membantu mengurangi rasa lelah setelah beraktivitas.
Namun pagi itu, pelajaran yang diterima para siswa bukan sekadar mengetahui nama dan manfaat satu tanaman.
Mereka diajak memahami sesuatu yang lebih besar, bahwa hutan yang selama ini mereka lihat setiap hari juga menyimpan pengetahuan.
Dalam kegiatan praktik lapangan yang rutin dilakukan setiap hari Minggu, para siswa Sekolah Adat Patanata Manusela belajar mengenali berbagai jenis tanaman obat kampung, mengetahui khasiatnya, hingga memahami cara meraciknya menjadi obat alami yang selama ini digunakan masyarakat sekitar.
Ada tanaman untuk membantu meredakan demam, ada yang biasa digunakan untuk luka ringan, gangguan pencernaan, hingga sakit kepala.
Pelajaran dilakukan langsung di alam, karena bagi sekolah adat, pengetahuan seperti ini tidak cukup hanya dijelaskan lewat teori.
Bagi Sepnat Manukuany, guru Sekolah Adat Patanata Manusela, kegiatan tersebut lahir dari satu kekhawatiran: semakin banyak generasi muda yang tumbuh jauh dari pengetahuan leluhur.
Ia melihat perubahan itu terjadi perlahan. Anak-anak kini lebih mudah mengenali merek obat modern dibanding mengetahui tanaman yang tumbuh di sekitar rumah mereka.
Padahal, menurut Sepnat, pengetahuan tentang obat kampung bukan sekadar keterampilan bertahan hidup.
Di dalamnya ada cara masyarakat membaca alam, menjaga keseimbangan, dan memahami bahwa kesehatan juga berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal.
“Ini baru satu tumbuhan obat tradisional. Masih banyak lagi tumbuhan yang memiliki khasiat untuk kesehatan,” kata Sepnat kepada para siswa saat memperkenalkan tanaman obat kampung.
Karena itu, pengenalan sejak dini dianggap penting. Bukan untuk menggantikan pengobatan modern, tetapi agar anak-anak tidak kehilangan hubungan dengan warisan yang telah dijaga turun-temurun.
Guru lainnya, Danci Maloy, mengatakan kegiatan ini juga menjadi cara melestarikan budaya yang ditinggalkan para tetua adat.
Menurutnya, ketika pengetahuan lokal berhenti dipraktikkan, yang hilang bukan hanya informasi tentang tanaman—tetapi juga cara sebuah komunitas memahami alam.
“Kalau ini tidak dilakukan, bisa saja anak-anak kampung kita lupa dengan potensi alam kita,” ujarnya.
Menjaga Pengetahuan Leluhur Tetap Hidup
Di antara para siswa yang mengikuti kegiatan itu, Ferdy Lilihata tampak antusias mendengarkan penjelasan para guru.
Ia mengaku baru mengetahui bahwa banyak tanaman yang selama ini dilewati ternyata memiliki manfaat bagi kesehatan.
Baginya, belajar di hutan memberi pengalaman yang berbeda dari pelajaran biasa.
“Kegiatan ini sangat berguna sekali bagi kami. Saya baru tahu ternyata banyak tanaman obat kampung yang mengandung khasiat untuk kesehatan,” katanya.
Ferdy berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Sebab di Manusela, menjaga hutan tidak hanya dilakukan dengan melindungi pohonnya. Tetapi juga dengan memastikan pengetahuan yang hidup di dalamnya tetap sampai ke tangan generasi berikutnya.