- BINAR dan Microsoft menyelenggarakan GARUDA AI Impact Summit 2026 di Jakarta untuk mendorong pemanfaatan teknologi AI secara inklusif.
- Forum ini merayakan keberhasilan pelatihan AI bagi 145.000 ASN nasional guna meningkatkan produktivitas kerja di berbagai pelosok Indonesia.
- Pemerintah menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk memastikan penggunaan AI tetap aman, beretika, serta bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Suara.com - Pernahkah Anda menyadari betapa tipisnya batas antara fiksi ilmiah dan realitas kita saat ini? Jika beberapa tahun lalu kita hanya bisa mengagumi asisten virtual pintar di layar bioskop, kini teknologi tersebut sudah ada di genggaman tangan. Mulai dari mengetik pesan dibantu AI generatif di WhatsApp, hingga algoritma pintar yang menyusun playlist musik senada dengan suasana hati kita sehari-hari. Ya, AI bukan lagi konsumsi para pencinta teknologi di laboratorium sunyi, melainkan bagian dari gaya hidup modern kita.
Namun, di tengah gegap gempita adopsi teknologi yang super cepat ini, muncul sebuah pertanyaan penting bagi gaya hidup masa depan kita: Bagaimana memastikan teknologi ini benar-benar aman, inklusif, dan membawa manfaat nyata bagi semua orang, tanpa ada yang tertinggal?
Jawabannya coba dirajut dalam GARUDA AI Impact Summit 2026 di Jakarta. Diinisiasi oleh BINAR bersama Microsoft, forum ini mengusung tema yang sangat hangat dan humanis: “Empowering Responsible AI for Indonesian Citizen”. Acara ini juga menandai puncak dari program beasiswa pelatihan AI nasional melalui platform garuda.elevaite.id yang dalam setahun terakhir telah melatih 145.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) di berbagai pelosok negeri.
Membawa AI Keluar dari Menara Gading
Selama ini, ada stigma bahwa AI hanyalah mainan baru bagi masyarakat urban kelas atas atau perusahaan teknologi raksasa. Kesenangan mengulik teknologi mutakhir sering kali melupakan esensi utamanya: manusia itu sendiri.
Dalam keynote speech-nya yang bertajuk “AI for Everyone”, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, menggarisbawahi perubahan lanskap gaya hidup digital ini. Ia mengingatkan bahwa jika dulu kesejahteraan digital diukur dari sekadar punya akses internet atau tidak, sekarang tolok ukurnya sudah bergeser ke arah kemampuan memanfaatkan AI secara produktif.
Nezar mengutip data dari Work Trend Index 2024 rilisan Microsoft dan LinkedIn yang mencatat fakta mencengangkan: sebanyak 92% pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia sudah mengintegrasikan AI dalam rutinitas kerja harian mereka. Angka ini bahkan melampaui rata-rata global.
"AI yang dulu mahal, kini bisa diakses siapapun. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar penonton dalam revolusi AI global ini," ungkap Nezar Patria.
Meski adopsinya masif, Nezar mengingatkan agar kita tidak terlena pada kecanggihan semata. Tantangan terbesarnya adalah menjembatani jurang pemisah agar teknologi ini tidak eksklusif.
"Apakah teknologi ini hanya akan memperbesar kesenjangan antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi dengan mereka yang tidak punya akses? Ataukah AI akan menjadi kekuatan yang memperluas kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia? Inilah alasan mengapa tema AI for Everyone menjadi sangat relevan. Kita tidak ingin AI hanya dimanfaatkan oleh segelintir pihak yang memiliki akses dan kemampuan teknologi. Manfaat AI harus dapat dirasakan oleh pelajar, guru, pelaku UMKM, aparatur pemerintah, komunitas lokal, hingga masyarakat umum di seluruh Nusantara."

Menjaga Sentuhan Manusia di Era Robotik
Menyelami AI dalam kehidupan sehari-hari memang menyenangkan. Kita disuguhi asisten pintar, pencarian berbasis AI yang menggantikan mesin pencari konvensional, hingga kehadiran physical AI berupa robot-robot humanoid yang siap membantu pekerjaan rumah tangga atau menjaga lahan pertanian.
Namun, gaya hidup yang cerdas (smart living) juga harus dibarengi dengan kebijaksanaan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Pratikno, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengingatkan kita untuk tetap memegang kendali penuh atas teknologi yang kita gunakan.
"AI tidak menggantikan manusia, melainkan alat yang dapat memperkuat kapasitas manusia. Karena itu, yang terpenting bukan hanya kemampuan menggunakan AI, tetapi juga bijak dalam menentukan batasannya dan cerdas dalam memaksimalkan manfaatnya," tutur Pratikno. Beliau menambahkan bahwa kenyamanan digital harus selaras dengan ruang digital yang aman, terutama bagi anak-anak.
Senada dengan hal itu, Alamanda Shantika selaku Founder dan CEO BINAR, membagikan visinya tentang bagaimana transformasi teknologi harus berdampak langsung pada kualitas hidup manusia secara sistemik, bukan sekadar gaya-gayaan menggunakan tools baru.