“Konsep taman ini sebenarnya nggak jelas. Namanya Cattleya, diambil dari jenis bunga anggrek, tapi dari ujung ke ujung kita sama sekali nggak nemu ada bunga anggrek di sini,” tukasnya sambil tersenyum miris.
Di sisi lain, Kelompok Aksesibilitas membongkar rapor merah fasilitas difabel seperti ketiadaan guiding block dan kondisi conblock yang miring. Kelompok Vegetasi mendesak pengadaan papan edukasi flora seperti pohon Kamboja, Bintaro, hingga pohon unik Bernama “Janda Merana” agar anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga bisa belajar mengenal berbagai macam tumbuhan yang ada di sana.
Seluruh keluhan fisik ini tidak akan dibiarkan menguap. Akhsan menegaskan bahwa data dari warga awam ini menjadi amunisi utama untuk melapor ke Dinas Pertamanan.
"Nah sebenarnya kita pengen… dari keluhan-keluhan itu kita mau laporin ke pihak terkait supaya jadinya kita menjembatan masyarakat," pungkas Akhsan. Taktik bertahan di masa pandemi menjadi jalan pendewasaan komunitas sebagai jembatan penghubung yang membawa suara kritis warga langsung ke meja birokrasi kota.
Penulis: Vicka Rumanti