- Kacamata anti radiasi menggunakan filter khusus untuk menyerap sebagian paparan sinar biru dari layar perangkat elektronik digital.
- Dokter menyatakan efektivitas kacamata ini belum terbukti secara ilmiah mampu mencegah kelelahan mata atau kerusakan penglihatan pengguna.
- Pakar menyarankan metode 20-20-20 dan rutin berkedip sebagai cara lebih efektif untuk menjaga kesehatan mata saat menggunakan gawai.
Suara.com - Kacamata anti radiasi semakin populer seiring meningkatnya penggunaan komputer, laptop, dan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Apakah kacamata ini terbukti efektif?
Banyak orang membeli kacamata ini dengan harapan dapat mencegah mata lelah, mengurangi risiko mata minus, hingga melindungi mata dari paparan sinar biru.
Di sisi lain, muncul pertanyaan apakah manfaat tersebut benar-benar telah terbukti secara ilmiah atau hanya menjadi bagian dari strategi pemasaran.
Lalu, apa sebenarnya kacamata anti radiasi dan apakah penggunaannya memang efektif? Berikut penjelasannya berdasarkan keterangan para dokter.

Apa Itu Kacamata Anti Radiasi?
Kacamata anti radiasi merupakan kacamata yang dirancang dengan lapisan atau filter khusus untuk membantu mengurangi paparan radiasi elektromagnetik, terutama sinar biru (blue light).
Sinar biru banyak dipancarkan oleh perangkat elektronik seperti komputer, laptop, tablet, hingga smartphone yang digunakan setiap hari.
Berbeda dengan lensa kacamata biasa, lensa anti radiasi memiliki lapisan tambahan yang berfungsi menyerap atau meredam sebagian cahaya biru sebelum mencapai mata.
Karena itu, produk ini sering dipasarkan sebagai pelindung mata bagi orang yang bekerja dalam waktu lama di depan layar.
Paparan layar digital dalam durasi panjang memang dapat menyebabkan ketidaknyamanan, seperti mata terasa kering, pegal, pandangan kabur sementara, atau sakit kepala. Kondisi tersebut dikenal sebagai digital eye strain atau kelelahan mata digital.
Oleh sebab itu, penggunaan kacamata anti radiasi umumnya ditujukan bagi pekerja kantoran, pelajar, maupun siapa saja yang menghabiskan banyak waktu menggunakan perangkat digital.
Meski demikian, efektivitasnya dalam mencegah gangguan kesehatan mata masih menjadi pembahasan di kalangan medis.
Apakah Kacamata Anti Radiasi Efektif?
Sejumlah dokter mata menjelaskan bahwa manfaat kacamata anti radiasi, khususnya untuk menyaring sinar biru dari layar gawai, hingga kini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Saddam Ismail menjelaskan anggapan sinar biru dari ponsel menjadi penyebab utama mata rusak atau mata minus bertambah belum didukung bukti ilmiah yang kuat.
Menurutnya, keluhan mata lelah lebih banyak disebabkan kebiasaan menatap layar terlalu lama tanpa memberikan waktu istirahat pada mata.
Dalam sebuah unggahan di akun Instagram resminya, dr. Saddam Ismail mengatakan:
"Katanya (kacamata anti radiasi) wajib dipakai kalau main HP biar mata enggak rusak, biar enggak lelah, atau minusnya biar enggak bertambah. Benarkah sinar biru HP sejahat itu sampai butuh kacamata khusus? Jawabannya adalah mitos," kata dr. Saddam dikutip dari akun Instagram miliknya, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, klaim tersebut hanyalah trik marketing kacamata anti radiasi semata. Faktanya, mata lelah akibat paparan gadget bukan disebabkan oleh sinar biru, melainkan karena mata terlalu lama tidak berkedip.
"Mata lelah saat main HP itu bukan karena sinar birunya, tapi karena kamu lupa berkedip. Dan otot mata tegang karena fokus ya, jarak dekat terlalu lama. Nah, itu namanya mata lelah digital," ujarnya.
Jumlah sinar biru yang dipancarkan layar ponsel jauh lebih kecil dibandingkan sinar matahari. Karena itu, hingga saat ini belum ada bukti medis yang menunjukkan bahwa penggunaan kacamata anti radiasi mampu mencegah kerusakan mata.
"Jadi secara medis, kacamata itu tidak terbukti mencegah kerusakan mata," katanya.
Sebagai langkah sederhana yang lebih bermanfaat, dr. Saddam menyarankan menerapkan aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik setiap 20 menit menggunakan layar.
"Yang penting adalah simpan uangmu, cukup istirahat. Kemudian juga boleh konsumsi sayur, buah-buahan, ataupun suplemen ya jika diperlukan," ujarnya.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh dr. Tetty A. S. Usman, Sp.M(K), dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Premier Jatinegara.
Kacamata anti radiasi memang memiliki filter yang dapat membantu menyerap radiasi ultraviolet dari sinar matahari dan sebagian sinar biru dari perangkat digital.
Lensa kacamata anti radiasi dapat menyerap radiasi sinar matahari sampai dengan 90 persen, sementara pada blue ray sekitar 20-30 persen.
Meski demikian, hingga saat ini penelitian mengenai efektivitas filter sinar biru tersebut masih terus berlangsung.
"Penelitian itu juga sampai saat ini belum tuntas, apakah betul-betul itu akan bisa menyaring yang 20-30 persen sehingga kita menjadi aman memakai kacamata anti radiasi itu," katanya dikutip dari laman resmi RS Premier Jatinegara.
Karena itu, manfaat perlindungan kacamata anti radiasi terhadap sinar biru masih menjadi perdebatan.
Beberapa penelitian menunjukkan efektivitas penyaringan sinar biru hanya berkisar 20–30 persen sehingga belum dapat disimpulkan mampu memberikan perlindungan penuh terhadap mata.
Dr. Tetty justru menekankan bahwa menjaga kebiasaan menggunakan perangkat digital jauh lebih penting dibandingkan bergantung pada kacamata anti radiasi.
Ia menyarankan agar pengguna tidak menatap layar dari jarak terlalu dekat, membatasi durasi penggunaan gawai, serta memberikan waktu istirahat secara berkala.
Selain itu, paparan sinar matahari secara berlebihan juga perlu dihindari karena mengandung radiasi ultraviolet.
Meskipun beberapa lensa mampu menyerap hingga 90 bahkan 100 persen sinar UV, perlindungan mata tetap perlu dilakukan dengan membatasi paparan langsung, terutama pada waktu tertentu.
Tak kalah penting, dr. Tetty mengingatkan agar pengguna perangkat digital tidak lupa berkedip saat bekerja atau menonton dalam waktu lama. Kebiasaan sederhana tersebut membantu menjaga kelembapan permukaan mata sehingga risiko mata kering dapat berkurang.
"Jangan lupa berkedip, mata yang basah adalah mata yang sehat," katanya.