Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB
Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir?
Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir? (Dok. Istimewa)
baca 10 detik
  • Masyarakat Desa Pulu, Sulawesi Tengah, melakukan restorasi lahan pascabanjir dengan menanam sereh wangi untuk mencegah erosi tanah berpasir.
  • Tanaman sereh wangi kemudian diolah menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi yang telah dipasarkan hingga ke mancanegara.
  • Keberhasilan ekonomi restoratif di Desa Pulu memerlukan dukungan pendampingan teknis, fasilitas penyulingan, serta komitmen menjaga kelestarian lingkungan berkelanjutan.

Suara.com - Lahan yang rusak akibat banjir umumnya dipandang sebagai beban pemulihan. Ketika lapisan tanah subur hilang dan berganti hamparan pasir, pilihan mata pencaharian warga ikut menyusut. Namun di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pemulihan lahan justru menjadi titik awal lahirnya aktivitas ekonomi baru.

Alih-alih mencari komoditas yang cepat menghasilkan, pemerintah desa bersama masyarakat memilih menanam sereh wangi sebagai bagian dari restorasi lahan. Tanaman ini dipilih karena mampu tumbuh di tanah berpasir sekaligus membantu menahan erosi.

Baru setelah fungsi ekologis lahan mulai pulih, tanaman tersebut diolah menjadi minyak atsiri yang kini dipasarkan hingga luar negeri.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan tidak selalu harus dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Namun, apakah model seperti ini dapat menjadi solusi bagi desa-desa lain yang menghadapi kerusakan lahan akibat bencana?

Pemulihan lahan menjadi titik awal

Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir? (Dok. Istimewa)
Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir? (Dok. Istimewa)

Desa Pulu merupakan salah satu wilayah yang berulang kali terdampak banjir setelah gempa Sulawesi Tengah. Banjir pada 2020 hingga 2021 berdampak kepada sekitar 1.365 warga dan menyebabkan kerugian pertanian yang diperkirakan mencapai hampir 70 persen.

Kondisi tersebut membuat sebagian lahan pertanian kehilangan lapisan tanah subur. Yang tersisa hanyalah material pasir yang sulit ditanami komoditas pangan.

Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu, Dilah Sahim, mengatakan pada tahap awal masyarakat tidak memikirkan potensi bisnis dari sereh wangi.

"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," kata Dilah.

baca juga

Menurutnya, sereh wangi dipilih karena memiliki sistem perakaran yang mampu memperkuat struktur tanah. Bersama tanaman bambu, sereh wangi digunakan untuk mengurangi erosi di bantaran sungai sekaligus memperbaiki lahan yang rusak.

Ketika restorasi mulai menghasilkan nilai ekonomi

Setelah lahan mulai pulih, masyarakat melihat peluang lain dari tanaman tersebut. Daun sereh kemudian diolah menjadi minyak atsiri yang menjadi bahan baku produk spa dan perawatan tubuh melalui usaha desa Lana Tumbavani.

Produksinya masih relatif terbatas. Dari sekitar 200 kilogram daun sereh, hanya dihasilkan sekitar 200 mililiter minyak murni. Namun kualitas produk tersebut justru menarik pembeli dari Malaysia, Nepal, hingga Amerika Serikat.

Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir? (Dok. Istimewa)
Mengapa Desa Pulu Memilih Sereh Wangi untuk Memulihkan Lahan yang Rusak Akibat Banjir? (Dok. Istimewa)

Bagi masyarakat Desa Pulu, nilai jual produk tidak hanya berasal dari minyak atsiri, tetapi juga dari cerita tentang bagaimana produk itu dihasilkan melalui proses pemulihan bentang alam.

Tidak semua desa bisa langsung meniru

Meski menunjukkan hasil positif, pendekatan ini bukan tanpa tantangan. Sereh wangi membutuhkan waktu sekitar delapan bulan sebelum panen pertama. Produksi minyak atsiri juga memerlukan fasilitas penyulingan, keterampilan teknis, dan akses pasar.

Karena itu, menurut Gampiri Interaksi, keberhasilan Desa Pulu tidak hanya ditentukan oleh tanaman yang dipilih, tetapi juga oleh pendampingan yang memastikan usaha desa berkembang tanpa meninggalkan tujuan restorasi lingkungan.

"Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh," kata perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?

Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:55 WIB

Mengapa Banjir Pesisir kini Semakin Sering Terjadi? Penelitian Ungkap Imbas Krisis Iklim

Mengapa Banjir Pesisir kini Semakin Sering Terjadi? Penelitian Ungkap Imbas Krisis Iklim

News | Selasa, 07 Juli 2026 | 13:09 WIB

Hamparan Eceng Gondok Selimuti Kali Blencong di Bekasi

Hamparan Eceng Gondok Selimuti Kali Blencong di Bekasi

Foto | Selasa, 07 Juli 2026 | 06:00 WIB

Terkini

Apa Itu Kacamata Photocromic? Cek 3 Rekomendasi Terlaris di Shopee dengan Review Jujur

Apa Itu Kacamata Photocromic? Cek 3 Rekomendasi Terlaris di Shopee dengan Review Jujur

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 11:18 WIB

3 Body Scrub yang Ampuh Memutihkan Kulit Sesuai Review Pembeli

3 Body Scrub yang Ampuh Memutihkan Kulit Sesuai Review Pembeli

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 11:14 WIB

Berapa Lama Waktu MPLS? Panduan Durasi, Jadwal, dan Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Berapa Lama Waktu MPLS? Panduan Durasi, Jadwal, dan Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 10:29 WIB

Perbedaan Loose Powder vs Setting Powder, Kapan Harus Pakai Keduanya?

Perbedaan Loose Powder vs Setting Powder, Kapan Harus Pakai Keduanya?

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 10:15 WIB

7 Sepatu Running Lokal Terbaik untuk Lari Jarak Jauh, Lengkap dengan Harganya

7 Sepatu Running Lokal Terbaik untuk Lari Jarak Jauh, Lengkap dengan Harganya

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 09:26 WIB

6 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 13 Juli 2026: Hari Penuh Hoki untuk Capricorn hingga Gemini

6 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 13 Juli 2026: Hari Penuh Hoki untuk Capricorn hingga Gemini

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 08:16 WIB

Promo Superindo Terbaru Periode 1316 Juli 2026: Minyak, Ikan hingga Daging Banting Harga

Promo Superindo Terbaru Periode 1316 Juli 2026: Minyak, Ikan hingga Daging Banting Harga

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 07:48 WIB

5 Cushion Lokal Terbaik untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat yang Sensitif

5 Cushion Lokal Terbaik untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat yang Sensitif

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 07:06 WIB

Modal Kecil, Untung Maksimal: 5 Ide Bisnis Kuliner Kekinian yang Lagi Viral!

Modal Kecil, Untung Maksimal: 5 Ide Bisnis Kuliner Kekinian yang Lagi Viral!

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 06:13 WIB

Memilih Pembalut yang Lebih Ramah Lingkungan, Ini yang Perlu Diketahui Perempuan

Memilih Pembalut yang Lebih Ramah Lingkungan, Ini yang Perlu Diketahui Perempuan

Lifestyle | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:20 WIB

×