- Laporan Brand Footprint 2026 menempatkan Indomie sebagai merek FMCG paling sering dipilih konsumen Indonesia sepanjang tahun ini.
- Persaingan pasar semakin sengit karena jumlah merek meningkat, sehingga hanya 44 persen merek yang berhasil mencatatkan pertumbuhan.
- Strategi menarik pembeli baru serta inovasi produk menjadi kunci utama bagi merek untuk bertahan di pasar Indonesia.
Suara.com - Pernah bertanya-tanya, produk apa yang paling sering masuk ke keranjang belanja masyarakat Indonesia? Jawabannya masih didominasi merek-merek yang sudah akrab di dapur dan kebutuhan sehari-hari.
Namun, di balik daftar tersebut, persaingan antarbrand kini semakin sengit.
Temuan itu terungkap dalam laporan Brand Footprint 2026 dari Worldpanel by Numerator, yang memeringkat merek Fast Moving Consumer Goods (FMCG) paling banyak dipilih konsumen di Indonesia.
Pemeringkatan ini menggunakan Consumer Reach Points (CRPs), yaitu ukuran yang menghitung seberapa sering sebuah merek dipilih melalui kombinasi jumlah rumah tangga yang membeli dan frekuensi pembelian.
Tahun ini, Indomie kembali menjadi merek FMCG yang paling sering dipilih konsumen Indonesia. Posisi berikutnya ditempati So Klin, Mie Sedaap, Roma, Indofood, Royco, Kapal Api, NABATI, Masako, dan Frisian Flag.
Komposisi 10 besar tidak banyak berubah dibanding tahun sebelumnya. Hanya terjadi sedikit pergeseran posisi.
Meski daftar merek favorit relatif stabil, persaingan sebenarnya justru semakin ketat. Rumah tangga Indonesia masih membeli sekitar 95 merek FMCG dalam setahun dengan rata-rata 293 kali perjalanan belanja. Artinya, kebiasaan belanja masyarakat tidak mengalami perubahan besar.
Namun, jumlah merek yang beredar di pasar terus bertambah. Worldpanel mencatat jumlah brand yang dipantau meningkat dari 436 menjadi 451 merek, sehingga setiap produk harus bekerja lebih keras untuk menarik perhatian konsumen.
Managing Director Worldpanel Indonesia Venu Madhav mengatakan kondisi tersebut membuat semakin sedikit merek yang berhasil mencatatkan pertumbuhan.
"Jumlah brand yang kami pantau meningkat dari 436 menjadi 451. Artinya, persaingan memperebutkan pilihan konsumen semakin ketat. Akibatnya, hanya 44 persen brand yang tumbuh pada 2025, turun dibandingkan 62 persen pada tahun sebelumnya," kata Venu.
Menurutnya, pertumbuhan pasar saja tidak lagi cukup untuk mendorong kinerja sebuah merek.
"Konsumen masih rutin berbelanja, tetapi brand tidak bisa lagi mengandalkan pertumbuhan pasar semata. Kemampuan menarik pembeli baru kini menjadi faktor yang semakin menentukan," ujarnya.
Laporan tersebut juga menunjukkan sekitar 80 persen brand yang berhasil tumbuh mampu menjangkau lebih banyak rumah tangga. Sebagian di antaranya juga sukses meningkatkan frekuensi pembelian dari pelanggan yang sudah ada.
Dengan kata lain, memenangkan hati konsumen baru tetap menjadi kunci utama jika ingin bertahan di tengah pasar yang semakin padat.
Menariknya, peluang tidak hanya dimiliki pemain besar. Brand berskala kecil juga mulai menunjukkan performa yang menjanjikan.