Suara.com - Di tengah ancaman triple planetary crisis, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan, hutan dinilai tidak hanya berperan menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga dapat membantu memulihkan kesehatan fisik dan mental. Hal itu dikenal dengan konsep healing forest atau terapi hutan.
Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, mengatakan paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells, yaitu sel imun yang berperan melawan infeksi dan sel kanker.
Terapi hutan juga disebut mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental.
"Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental," kata Siti dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.
Menurutnya, manfaat tersebut berasal dari senyawa phytoncide, yakni senyawa volatil alami yang dilepaskan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan. Senyawa ini mengandung antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas.
Tidak semua hutan cocok untuk terapi
Namun, Siti menegaskan bahwa tidak semua kawasan hutan dapat dijadikan lokasi healing forest. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar manfaat terapi dapat dirasakan secara optimal.
Salah satunya adalah tingkat kebisingan yang rendah. Menurutnya, untuk membantu meredakan stres, tingkat kebisingan di lokasi terapi idealnya berada di bawah 40 desibel sehingga suasana tetap tenang dan mendukung relaksasi.
Selain itu, kualitas udara juga menjadi faktor penting. Kawasan yang dipilih sebaiknya memiliki vegetasi yang lebat sehingga menghasilkan lebih banyak senyawa phytoncide. Jalur yang dilalui pengunjung juga perlu aman dan relatif landai agar peserta terapi dapat menikmati suasana hutan tanpa khawatir terhadap risiko di medan.
"Seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal," ujarnya.
Dinilai berpotensi memberi manfaat ekonomi
Siti menilai pemanfaatan hutan sebagai lokasi terapi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat mendorong upaya konservasi dan membuka peluang ekonomi baru.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan hutan secara berkelanjutan, semakin besar pula dorongan untuk menjaga kawasan hutan dari alih fungsi. Pengelolaan hutan yang baik juga berkontribusi terhadap penyerapan karbon, penyediaan udara bersih, dan perlindungan habitat flora serta fauna.
Di sisi lain, konsep healing forest juga dinilai dapat menciptakan lapangan kerja, mulai dari pemandu terapi hutan bersertifikat, pengelola fasilitas, penyedia kuliner lokal, hingga pemandu trekking.
Salah satu contoh yang telah menerapkan konsep ini adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang menawarkan paket wisata healing forest dengan jalur khusus, aktivitas terapi alam, dan pendampingan pemandu.