Hutan Bisa Jadi Ruang Terapi di Tengah Polusi dan Krisis Iklim, Apa Saja Manfaatnya?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:31 WIB
Hutan Bisa Jadi Ruang Terapi di Tengah Polusi dan Krisis Iklim, Apa Saja Manfaatnya?
Healing forest punya segudang manfaat (dok.Unsplash/Lukasz Szmigiel)

Suara.com - Di tengah ancaman triple planetary crisis, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan, hutan dinilai tidak hanya berperan menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga dapat membantu memulihkan kesehatan fisik dan mental. Hal itu dikenal dengan konsep healing forest atau terapi hutan.

Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, mengatakan paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells, yaitu sel imun yang berperan melawan infeksi dan sel kanker.

Terapi hutan juga disebut mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental.

"Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental," kata Siti dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University.

Menurutnya, manfaat tersebut berasal dari senyawa phytoncide, yakni senyawa volatil alami yang dilepaskan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan tekanan lingkungan. Senyawa ini mengandung antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas.

Tidak semua hutan cocok untuk terapi

Namun, Siti menegaskan bahwa tidak semua kawasan hutan dapat dijadikan lokasi healing forest. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar manfaat terapi dapat dirasakan secara optimal.

Salah satunya adalah tingkat kebisingan yang rendah. Menurutnya, untuk membantu meredakan stres, tingkat kebisingan di lokasi terapi idealnya berada di bawah 40 desibel sehingga suasana tetap tenang dan mendukung relaksasi.

Selain itu, kualitas udara juga menjadi faktor penting. Kawasan yang dipilih sebaiknya memiliki vegetasi yang lebat sehingga menghasilkan lebih banyak senyawa phytoncide. Jalur yang dilalui pengunjung juga perlu aman dan relatif landai agar peserta terapi dapat menikmati suasana hutan tanpa khawatir terhadap risiko di medan.

baca juga

"Seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal," ujarnya.

Dinilai berpotensi memberi manfaat ekonomi

Siti menilai pemanfaatan hutan sebagai lokasi terapi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat mendorong upaya konservasi dan membuka peluang ekonomi baru.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan hutan secara berkelanjutan, semakin besar pula dorongan untuk menjaga kawasan hutan dari alih fungsi. Pengelolaan hutan yang baik juga berkontribusi terhadap penyerapan karbon, penyediaan udara bersih, dan perlindungan habitat flora serta fauna.

Di sisi lain, konsep healing forest juga dinilai dapat menciptakan lapangan kerja, mulai dari pemandu terapi hutan bersertifikat, pengelola fasilitas, penyedia kuliner lokal, hingga pemandu trekking.

Salah satu contoh yang telah menerapkan konsep ini adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang menawarkan paket wisata healing forest dengan jalur khusus, aktivitas terapi alam, dan pendampingan pemandu.

"Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan," kata Siti.

Ia menambahkan, menghadapi triple planetary crisis membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada konservasi dan pemulihan ekosistem, tetapi juga pembangunan hutan kota, peningkatan kemampuan vegetasi menyerap polutan, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

"Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan," ujarnya.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenapa Jadi Pepes di KRL Lebih Baik bagi Lingkungan

Kenapa Jadi Pepes di KRL Lebih Baik bagi Lingkungan

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 07:24 WIB

Lawan Perubahan Iklim: 87 Persen Emisi dari Transportasi Darat dan Urgensi Angkutan Massal

Lawan Perubahan Iklim: 87 Persen Emisi dari Transportasi Darat dan Urgensi Angkutan Massal

Your Say | Selasa, 21 Juli 2026 | 12:44 WIB

Kerap Dianggap Limba, Pakar IPB Ungkap Kepala Hingga Sisik Ikan Bisa Bernilai Ekonomis

Kerap Dianggap Limba, Pakar IPB Ungkap Kepala Hingga Sisik Ikan Bisa Bernilai Ekonomis

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:08 WIB

Terkini

Pemkot Pekanbaru Siapkan 3 Stel Seragam Gratis untuk 20 Ribu Siswa Baru

Pemkot Pekanbaru Siapkan 3 Stel Seragam Gratis untuk 20 Ribu Siswa Baru

Riau | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:08 WIB

Apakah Bedak Saripohatji Masih Ada? Produk Legendaris untuk Cerahkan Wajah

Apakah Bedak Saripohatji Masih Ada? Produk Legendaris untuk Cerahkan Wajah

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:05 WIB

Antara Which Is dan Secara: Cara Gen Z Tetap Gaul Tanpa Merusak Bahasa Ibu

Antara Which Is dan Secara: Cara Gen Z Tetap Gaul Tanpa Merusak Bahasa Ibu

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:00 WIB

6 Rekomendasi Sandal Jepit yang Tidak Gampang Putus saat Musim Hujan

6 Rekomendasi Sandal Jepit yang Tidak Gampang Putus saat Musim Hujan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:56 WIB

Pandu Sjahrir Disebut Punya Saham Supra Sekuritas yang Melakukan Transaksi Terkoordinasi

Pandu Sjahrir Disebut Punya Saham Supra Sekuritas yang Melakukan Transaksi Terkoordinasi

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:53 WIB

Suahasil Tetapkan Batas Defisit APBD 2027 Maksimal 2,5 Persen, Utang Pemda Makin Diperketat

Suahasil Tetapkan Batas Defisit APBD 2027 Maksimal 2,5 Persen, Utang Pemda Makin Diperketat

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:53 WIB

Bak Tukang Sayur, Viral Kopdes Merah Putih Jualan Keliling Bawa Sembako di Mojokerto

Bak Tukang Sayur, Viral Kopdes Merah Putih Jualan Keliling Bawa Sembako di Mojokerto

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:51 WIB

Penuh Nostalgia! Trio Bajaj Resmi Comeback di Para Pencari Tuhan Jilid 20

Penuh Nostalgia! Trio Bajaj Resmi Comeback di Para Pencari Tuhan Jilid 20

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:45 WIB

Daihatsu Kumpul Sahabat Denpasar Berlangsung Lima Hari, Hadirkan Beragam Aktivitas

Daihatsu Kumpul Sahabat Denpasar Berlangsung Lima Hari, Hadirkan Beragam Aktivitas

Otomotif | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:41 WIB

Dua Bulan Pascakebakaran, Wisatawan Mulai Kembali Sambangi Desa Adat Sade

Dua Bulan Pascakebakaran, Wisatawan Mulai Kembali Sambangi Desa Adat Sade

Foto | Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:33 WIB

×