Belum selesai menghadapi hama, sejumlah pohon pepaya terserang virus. Gejalanya terlihat dari daun yang menguning dan muncul bercak. Awalnya mereka mengira tanaman masih bisa dipulihkan. Setelah berkonsultasi dengan ahli tanaman, mereka justru diminta mencabut pohon yang terinfeksi hingga ke akar agar penyakit tidak menyebar.
"Pohon pepaya yang kena virus itu bikin mereka enggak tumbuh. Coba lihat pohon pepaya yang sehat, beda jauh ukurannya," kata Andhi.
Selain menjaga tanaman tetap sehat, ketersediaan air juga menjadi perhatian utama, terutama saat musim kemarau.
Untuk memenuhi kebutuhan penyiraman, komunitas ini membangun sumur. Air kemudian digunakan untuk menyiram tanaman setiap pagi dan sore dengan cara yang disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Menurut Andhi, waktu dan cara penyiraman juga menentukan kesehatan tanaman.
"Air itu nempel di daun, kena matahari. Bentuknya seperti kaca pembesar, jadi ada titik panasnya. Makanya kalau sudah ada matahari, nyiramnya jangan kena daun," jelasnya.
Berkebun Tak Harus Menunggu Lahan Luas
Pengalaman menghadapi berbagai persoalan itu kemudian menjadi bekal bagi mereka untuk berbagi pengetahuan kepada warga yang ingin mulai berkebun di lingkungan tempat tinggalnya.
Zul, anggota Tani Kota Sejati-58 Kebagusan, mengatakan masyarakat tidak harus memiliki lahan luas untuk memulai urban farming.
"Enggak harus pakai tanah. Bisa pakai polybag, pot, atau hidroponik," katanya.
Menurutnya, barang-barang bekas pun bisa dimanfaatkan sebagai media tanam maupun sistem penyiraman sederhana.
"Kalau enggak sempat nyiram, bisa pakai galon bekas. Galonnya dibagi dua, dikasih sumbu, lalu bagian bawahnya diisi air supaya nanti airnya terserap ke tanaman," ujarnya.
Bagi Zul, berkebun di kawasan perkotaan bukan sekadar menambah tanaman hijau di halaman rumah.
Ia melihat kebiasaan menanam sayuran justru dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.
"Daripada koleksi tanaman hias saja, lebih baik mulai tanam cabai, terong, serai, atau daun bawang. Lumayan untuk kebutuhan dapur," katanya.
Pengalaman Tani Kota Sejati-58 Kebagusan menunjukkan bahwa berkebun di tengah kota tidak selalu dimulai dari lahan yang subur. Ada tanah yang harus dipulihkan, panen yang gagal, tanaman yang terserang hama dan penyakit, hingga proses belajar yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Bagi mereka, merawat kebun berarti merawat prosesnya. Dari proses itulah, lahan yang dulu dipenuhi sampah perlahan berubah menjadi ruang belajar bagi warga yang ingin mulai berkebun di tengah kota.
Penulis: Chairunisa