Guru Besar IPB Sulap Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan Jadi Pupuk Organik, Bagaimana Kisahnya?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 31 Juli 2026 | 13:55 WIB
Guru Besar IPB Sulap Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan Jadi Pupuk Organik, Bagaimana Kisahnya?
Ilustrasi limbah di kawasan perairan (dok.Pexels/Matej Bizjak)

Suara.com - Limbah rumput laut dan jeroan ikan selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan. Selain menimbulkan bau tak sedap, limbah tersebut juga menumpuk di kawasan pesisir hingga berpotensi mencemari perairan.

Mengutip laman IPB University, Jumat (31/7), kondisi tersebut mendorong Guru Besar IPB University, Profesor Nurjanah, mengembangkan inovasi pupuk organic berbahan dasar residu garam rumputlaut dan limbah jeroan ikan.

Inovasi ini tidak hanya bertujuan menaikkan kualitas kesuburan tanah, tetapi juga mendukung pertanian berkelanjutan melalui pengaplikasian konsep zero waste dan ekonomi sirkular.

“Inovasi ini memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku bernilai tambah, sehingga mendukung konsep zero waste, ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi pupuk,” terangnya.

Menurutnya, salah satu keunggulan dari inovasi tersebut adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah. Selama ini, residu garam rumput laut, limbah organik terrestrial, dan limbah jeroan ikan dari berbagai industri belum dimanfaatkan secara maksimal.

Melalui pemanfaatan bahan-bahan tersebut, Prof. Nurjanah menciptakan pupuk bokashi yang kaya nutrisi. Residu garam laut ini dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara makro dan mikro, sedangkan limbah jeroan ikan berperan untuk meningkatkan kandungan nutrisi pupuk. Perpaduan keduanya menghasilkan pupuk organik dengan kualitas lebih unggul dibandingkan pupuk organik konvensional.

Pemanfaataan limbah tersebut sebagai bahan baku turut dinilai mampu menjamin keberlanjutan pasokan, mengurangi timbunan limbah, sekaligus menghadirkan nilai ekonomi baru bagi sektor perikanan dan pengolahan rumput laut.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pengembangan produk ini maish menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari menjaga konsistensi kualitas bahan baku, mengendalikan proses produksi agar mutu pupuk stabil, hingga menumbuhkan kepercayaan petani yang selama ini masih bergantung pada pupuk kimia.

Selain itu, pupuk bokashi juga masih harus mengikuti serangkaian uji mutu, proses perizinan, serta didukung sistem distribusi, termasuk penyimpanan yang memadai sebelum bisa dipasarkan secara luas.

baca juga

Pada sisi lain, peluang pasar pupuk organik ini dinilai cukup menjanjikan. Dengan meningkatnya kebutuhan pasar serta kesadaran masyarakat terhadap praktik pertanian keberlanjutan, turut mendorong prospek yang besar bagi pengembangan produk tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia masih mengimpor sekitar 5.367 ton pupuk organik. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan pupuk organik nasional belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi dalam negeri.

“Pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain ramah lingkungan, produk ini memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap berkat kombinasi residu garam rumput laut, limbah organik, dan enzim dari limbah jeroan ikan,” jelasnya.

Pupuk tersebut diproduki melalui proses fermentasi bahan organik menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang dibuat dari limbah hayati, air kelapa, gula merah, dan garam. Kemudian, residu garam rumput laut dicampur dengan sekam padi dan dedak, disemprot larutan MOL, lalu difermentasi selama tujuh minggu hingga menghasilkan bokashi yang siap dipakai.

Melalui inovasi ini, Prof. Nurjanah berharap pupuk bokashi berbahan limbah tersebut bisa meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta memperkuat penerapan konsep zero waste, dan ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan rumput laut Indonesia.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jalan Licin Diduga Akibat Limbah Ikan di Pasar Kebayoran Lama, Banyak Pemotor Tumbang

Jalan Licin Diduga Akibat Limbah Ikan di Pasar Kebayoran Lama, Banyak Pemotor Tumbang

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 18:58 WIB

UMKM Berbasis Ekonomi Sirkular Makin Dilirik, Limbah Disulap Jadi Sumber Cuan

UMKM Berbasis Ekonomi Sirkular Makin Dilirik, Limbah Disulap Jadi Sumber Cuan

Bisnis | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:22 WIB

Cuaca Tak Menentu Jadi Momok Petani Rumput Laut Nunukan

Cuaca Tak Menentu Jadi Momok Petani Rumput Laut Nunukan

Foto | Sabtu, 25 Juli 2026 | 09:00 WIB

Terkini

Rp49 Triliun Uang Rakyat Raib Kena Scam, Ini Ternyata Industri Besar!

Rp49 Triliun Uang Rakyat Raib Kena Scam, Ini Ternyata Industri Besar!

Video | Rabu, 16 September 2026 | 17:10 WIB

Diskon Ramen Haraku Terbaru: Bayar Pakai QRIS BRImo, Dapat Cashback hingga Rp100 Ribu!

Diskon Ramen Haraku Terbaru: Bayar Pakai QRIS BRImo, Dapat Cashback hingga Rp100 Ribu!

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 17:09 WIB

Bukan Soal Biaya, Mengapa ESG Perlu Dilihat Sebagai Cara Kelola Risiko?

Bukan Soal Biaya, Mengapa ESG Perlu Dilihat Sebagai Cara Kelola Risiko?

News | Rabu, 16 September 2026 | 17:00 WIB

Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang

Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 17:00 WIB

Inul Daratista Ungkap Cara Manjakan Kucing Kesayangan, Ternyata Waktu Makan Jadi Momen Bonding

Inul Daratista Ungkap Cara Manjakan Kucing Kesayangan, Ternyata Waktu Makan Jadi Momen Bonding

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 16:59 WIB

Spesifikasi Redmi Note 17 Series Lengkap, Ada yang Bawa Baterai 10.000 mAh & Anti Air 72 Jam

Spesifikasi Redmi Note 17 Series Lengkap, Ada yang Bawa Baterai 10.000 mAh & Anti Air 72 Jam

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 16:58 WIB

Menkeu Suahasil Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahlil hingga Dony Oskaria Ikut Hadir

Menkeu Suahasil Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahlil hingga Dony Oskaria Ikut Hadir

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:56 WIB

Kembalinya Harta Karun Sasak, Kain Tenun Berusia Seabad Lebih

Kembalinya Harta Karun Sasak, Kain Tenun Berusia Seabad Lebih

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 16:56 WIB

Bhimasena Run for Whale Shark 2026: Saat Langkah Kaki Membawa Pesan untuk Laut

Bhimasena Run for Whale Shark 2026: Saat Langkah Kaki Membawa Pesan untuk Laut

Jawa Tengah | Rabu, 16 September 2026 | 16:54 WIB

Flash Sale BRImo: Beli Pulsa Cukup Bayar Pakai Uang Koin Rp1

Flash Sale BRImo: Beli Pulsa Cukup Bayar Pakai Uang Koin Rp1

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 16:48 WIB

×