Di Balik Manisnya Kue Pais, Ada Kisah Ketangguhan Masyarakat Adat Tidung yang Ingin Tetap Hidup?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 27 Juli 2026 | 14:00 WIB
Di Balik Manisnya Kue Pais, Ada Kisah Ketangguhan Masyarakat Adat Tidung yang Ingin Tetap Hidup?
Di Balik Manisnya Kue Pais, Ada Kisah Ketangguhan Masyarakat Adat Tidung yang Ingin Tetap Hidup? (Dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)
baca 10 detik
  • Masyarakat Adat Tidung di Kalimantan Utara menjadikan kue pais dari singkong sebagai penopang hidup sejak masa penjajahan.
  • Tokoh adat Amiliah menyatakan generasi muda kini mulai kesulitan membuat pais dan terancam melupakan sejarah pembuatannya.
  • Amiliah mengusulkan pengenalan pais melalui festival dan media sosial agar identitas budaya tersebut tetap terjaga.

Suara.com - Selembar daun pisang dibuka, memperlihatkan kue berbahan singkong yang masih hangat. Di meja makan keluarga Masyarakat Adat Suku Tidung di Kalimantan Utara, pais mungkin tampak seperti kudapan sederhana. Namun, bagi mereka, makanan ini juga menyimpan ingatan tentang masa ketika beras sulit didapat dan singkong menjadi penyangga kehidupan.

Kini, ketika bahan pangan semakin beragam dan makanan modern mudah dijumpai, masyarakat menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan cerita di balik pais tidak ikut hilang bersama generasi yang mengenalnya.

"Dulu beras sangat sulit didapat. Karena itu, masyarakat memanfaatkan singkong yang mudah ditanam dan mengenyangkan. Dari situlah kue pais menjadi makanan yang sangat penting," kata tokoh Masyarakat Adat Tidung, Amiliah, kepada ANTARA.

Menurut cerita yang diwariskan para orang tua, pais telah dikenal sejak masa penjajahan. Ketika akses terhadap beras terbatas, singkong menjadi bahan pangan yang mudah ditanam dan diolah. Dari bahan sederhana berupa singkong, gula merah, dan kelapa, lahirlah kue yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tidung.

Di Balik Manisnya Kue Pais, Ada Kisah Ketangguhan Masyarakat Adat Tidung yang Ingin Tetap Hidup? (Dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)
Di Balik Manisnya Kue Pais, Ada Kisah Ketangguhan Masyarakat Adat Tidung yang Ingin Tetap Hidup? (Dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)

Nama pais sendiri, kata Amiliah, berasal dari bahasa Tidung yang berarti pisau peraut rotan. Meski makna katanya tidak berkaitan langsung dengan makanan, nama itu telah melekat sebagai identitas kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Untuk membuat pais, masyarakat menggunakan singkong lokal yang dikenal sebagai Sabai Seteria. Singkong diparut, diperas, lalu dicampur dengan gula merah dan kelapa parut. Sebagian keluarga menambahkan daun pandan dan pisang kepok matang agar aromanya lebih harum sebelum adonan dibungkus daun pisang dan dikukus.

Pada masa lalu, bahkan alat pembuatannya dibuat sendiri.

"Masyarakat dulu membuat alat pemarut dari kaleng bekas supaya hasil parutan singkong lebih halus," ujar Amiliah.

Warisan yang Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari

baca juga

Pais tidak hanya dibuat pada acara adat.

Di banyak keluarga Tidung, kue ini masih disajikan saat berbuka puasa, sarapan pagi, malam pembacaan Surah Yasin di rumah duka, maupun ketika keluarga berkumpul. Kehadirannya menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu dipertahankan melalui upacara besar, tetapi juga lewat kebiasaan yang terus dilakukan dari hari ke hari.

Namun, kebiasaan itu mulai menghadapi tantangan.

Amiliah mengatakan semakin sedikit anak muda yang mengetahui cara membuat pais. Padahal, menurutnya, sebuah warisan kuliner hanya dapat bertahan jika terus dipraktikkan, bukan sekadar dikenang.

"Kami berharap anak-anak muda mau belajar membuat pais agar warisan leluhur ini tidak hilang ditelan zaman," katanya.

Bukan Hanya Menjaga Resep, tetapi Juga Cerita
Bagi Amiliah, menjaga pais tidak cukup hanya dengan mempertahankan resepnya. Yang juga perlu diwariskan adalah cerita tentang mengapa makanan itu lahir dan apa maknanya bagi masyarakat Tidung.

Karena itu, ia mengusulkan agar pais lebih sering diperkenalkan melalui festival budaya, lomba memasak, promosi di media sosial, hingga buku resep digital. Cara-cara tersebut dinilai dapat membantu generasi muda mengenal kuliner tradisional sekaligus memahami sejarah yang menyertainya.

Di balik rasa manis dan gurihnya, pais menjadi pengingat bahwa masyarakat Tidung pernah melewati masa-masa sulit dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka. Ketangguhan itu kini menjadi bagian dari identitas budaya yang ingin terus dijaga.

Di tengah perubahan zaman, kisah pais menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, ia berawal dari sebuah dapur, ketika orang tua mengajarkan anaknya memarut singkong, membungkus adonan dengan daun pisang, lalu menceritakan mengapa makanan sederhana itu pernah menjadi penopang hidup sebuah komunitas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!

Ancam Hak Tanah dan Kriminalisasi Warga Adat, UU KSDAE Digugat ke MK!

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 16:17 WIB

Krisis Biokultural Mengancam Indonesia: Saat Bahasa dan Ritual Penjaga Alam Mulai Punah

Krisis Biokultural Mengancam Indonesia: Saat Bahasa dan Ritual Penjaga Alam Mulai Punah

Tekno | Selasa, 30 Juni 2026 | 13:08 WIB

Duka Masyarakat Adat di DPR: Tanah Warisan Leluhur Hilang, Anak Buta Huruf karena HGU

Duka Masyarakat Adat di DPR: Tanah Warisan Leluhur Hilang, Anak Buta Huruf karena HGU

News | Senin, 22 Juni 2026 | 18:48 WIB

Terkini

Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya

Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 16:33 WIB

Pramono Rayu Prabowo, Danantara Diminta Bantu Ekspansi LRT ke JIS dan Halim

Pramono Rayu Prabowo, Danantara Diminta Bantu Ekspansi LRT ke JIS dan Halim

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:31 WIB

TradingPRO Merayakan Pencapaian 10 Tahun dengan Total Hadiah $10.000

TradingPRO Merayakan Pencapaian 10 Tahun dengan Total Hadiah $10.000

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 16:28 WIB

Prabowo Bagi-bagi Kaus dari Sunroof Mobil, Warga Manggarai Histeris Rebutan

Prabowo Bagi-bagi Kaus dari Sunroof Mobil, Warga Manggarai Histeris Rebutan

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:28 WIB

Semen Gresik Kolaborasi Bersama Warga Desa Pasucen, Gotong Royong Bersihkan Aliran Mata Air Brubulan

Semen Gresik Kolaborasi Bersama Warga Desa Pasucen, Gotong Royong Bersihkan Aliran Mata Air Brubulan

Jawa Tengah | Rabu, 16 September 2026 | 16:22 WIB

Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta

Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 16:18 WIB

Purbaya Dicopot Pas Lagi Rapat RAPBN, Akademisi UMY Soroti Etika dan Kepatutan Penguasa

Purbaya Dicopot Pas Lagi Rapat RAPBN, Akademisi UMY Soroti Etika dan Kepatutan Penguasa

Jogja | Rabu, 16 September 2026 | 16:16 WIB

Disimpan di Gudang Jakut, Penyelundupan Kacang Tanah 49,50 Ton Asal India Terbongkar

Disimpan di Gudang Jakut, Penyelundupan Kacang Tanah 49,50 Ton Asal India Terbongkar

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:13 WIB

Sudah Sukses, Jangan Lupa! Alumni Penerima KIP Kuliah Diminta Balas Budi ke Adik Kelas

Sudah Sukses, Jangan Lupa! Alumni Penerima KIP Kuliah Diminta Balas Budi ke Adik Kelas

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:12 WIB

Kedubes AS di Arab Saudi: Warga Amerika Jangan ke Perbatasan Yaman, Risiko Terorisme

Kedubes AS di Arab Saudi: Warga Amerika Jangan ke Perbatasan Yaman, Risiko Terorisme

News | Rabu, 16 September 2026 | 16:10 WIB

×