Suara.com - Persoalan sampah organik yang terus meningkat mendorong peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan model pengolahan limbah rumah tangga berbasis komunitas di kawasan permukiman padat.
Melalui fasilitas yang diberi nama "Apartemen Ayam-Maggot", warga diajak mengolah sampah dapur menjadi pakan maggot, yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Hasil akhirnya berupa telur yang dibagikan kembali kepada masyarakat.
Fasilitas tersebut diresmikan di RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, pada akhir Juli 2026. Berdasarkan keterangan ITB, sistem itu mampu mengolah sekitar 200 hingga 250 kilogram sampah organik dapur setiap hari. Model serupa kini mulai dikembangkan di RW 09 dan RW 15 di kelurahan yang sama.
Apartemen Ayam-Maggot merupakan bangunan bertingkat berukuran sekitar 1 x 6 meter dengan tinggi 2,5 meter. Di dalamnya terdapat delapan biopond untuk membudidayakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot yang berfungsi mengurai sampah organik.
Penggagas inovasi tersebut, Dr.rer.nat. Linus Ampang Pasasa, mengatakan konsep ini dirancang agar dapat diterapkan di kawasan dengan lahan terbatas.
"Kapasitasnya dirancang secara efektif. Tempat ini memiliki delapan biopond maggot yang mampu mengolah sampah organik dapur hingga 200 sampai 250 kilogram per hari," katanya, dikutip dari laman ITB.
Menurut Linus, penggabungan budidaya maggot dan peternakan ayam memungkinkan proses pengolahan sampah berlangsung lebih cepat tanpa menimbulkan bau yang mengganggu lingkungan.
Selain mengurangi volume sampah organik, sistem tersebut juga dirancang untuk menciptakan siklus pemanfaatan limbah. Sampah dapur dimanfaatkan sebagai pakan maggot, kemudian maggot dan sisa media budidayanya diolah menjadi pakan ayam. Ayam yang dipelihara selanjutnya menghasilkan telur yang dibagikan kepada warga.
"Nanti telurnya dibagikan ke warga, bisa untuk program penanganan stunting atau tambahan menu bergizi bagi ibu hamil melalui pengurus Kelompok Swadaya Masyarakat," ujar Linus.
Menurut ITB, selama tiga pekan masa pemantauan, partisipasi warga dalam memilah dan menyetorkan sampah organik mulai meningkat. Fasilitas tersebut bahkan telah menerima pasokan sampah organik dari beberapa RW lain, termasuk limbah pedagang pasar kaget di sekitar Tamansari.
Model pengelolaan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif penanganan sampah organik di tingkat komunitas. Dengan pengolahan yang dilakukan di lingkungan permukiman, jumlah sampah yang harus diangkut ke tempat pemrosesan akhir diharapkan dapat berkurang, sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Ke depan, ITB berharap model pengolahan sampah berbasis komunitas yang dikembangkan di Tamansari dan Lebak Siliwangi dapat diterapkan di lebih banyak wilayah di Kota Bandung sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA).
Penulis: Chairunisa